Just Note

Sejak aku jatuh cinta pada caramu membaca, sejak itu pula aku berjanji untuk tidak berhenti menulis

    • Home

    Ketika ijazah S1 sudah di tangan dan timbul iri pada mereka yang dalam hitungan dekat Allah beri kesempatan melanjutkan mimpinya, entah bekerja, menikah, atau melanjutkan studinya, sedangkan kau kini masih menanti amanah ersebut. Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

    Ketika belahan jiwa nyatanya bukan seperti imajinasimu dulu, mainkan saja peranmu, bukankah Allah yang lebih tahu mana yang terbaik untukmu? tetap berjalan bersama ridha-Nya dan ridhanya. Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

    Ketika katamu lelah ini seakan tiada habisnya, menjadi punggung padahal rusuk. Mainkan saja peranmu, bukankah semata-mata mencari ridha Allah? Lelah yang Lillah, berujung maghfirah. Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

    Ketika ijazah S1 sudah di tangan, teman-temanmu yang lain sudah berpenghasilan, sedangkan kamu, dari pagi hingga malam sibuk membentuk karakter bagi makhluk yang akan menjadi jalan surga bagi masa depan. Mainkan saja peranmu, dan tak ada yang tak berguna dari pendidikan yang kau raih, dan bahwa rezeki Allah bukan hanya tentang penghasilan kan? Memiliki anak-anak penuh cinta pun adalah rezeki-Nya. Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

    Ketika pasangan lain mengasuh bersama dalam cinta untuk buah hati, sedang kau terpisah jarak karena suatu sebab. Mainkan saja peranmu, suatu hari percayalah bahwa Allah akan membersamai kalian kembali.
    Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

    Ketika nyatanya kondisi memaksamu untuk bekerja, meninggalkan buah hati yang tiap pagi
    melepas pergimu dengan tangis. Mainkan saja
    peranmu, sambil memikirkan cara agar waktu bersamanya tetap berkualitas. Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?


    Ketika timbul iri pada mereka yang dalam hitungan dekat setelah pernikahannya, langsung Allah beri anugerah kehamilan, sedangkan kau kini masih menanti titipan tersebut. Mainkan saja peranmu dengan sebaik-sebaiknya sambil tetap merayu Allah dalam sepertiga malam, menengadah mesra bersamanya. Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

    Ketika hari-hari masih sama dalam angka menanti, menanti suatu bahagia yang katamu bukan hanya untuk satu hari dan satu hati. Mainkan saja peranmu sambil perbaiki diri semata-mata murni karena ketaatan pada-Nya hingga laksana Adam yang menanti Hawa di sisi. Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

    Ketika ribuan pasangan pengantin mengharapkan amanah Ilahi, membesarkan anak kebanggaan hati, dan kau kini, membesarkan, mengasuh dan mendidik anak yang meski bukan dari rahimmu. Mainkan saja peranmu, sebagai ibu untuk anak dari rahim saudarimu. Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

    Ya, taat. Bagai Nabiyullah Ayub yang nestapa
    adalah bagian dari hidupnya, dan kau dapati ia tetap mempesona, menjadikannya kisah sabar yang tanpa batas berujung surga. Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

    Ya, taat. Bagai Nabiyullah Ibrahim, melaksanakan peran dari Allah untuk membawa istri dan anaknya ke padang yang kering. Kemudian, rencana Allah luar biasa, menjadikannya kisah penuh hikmah, catatan takdir manusia.
    Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

    Ya, taat. Bagai Nabiyullah Ayub yang nestapa
    adalah bagian dari hidupnya, dan kau dapati ia tetap mempesona, menjadikannya kisah sabar yang tanpa batas berujung surga. Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

    Ya, taat. Bagai nabiyullah lainnya. Berkacalah pada mereka, dan jejaki kisah ketaatannya, maka taat adalah cinta. 
    Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

    Taat yang dalam suka maupun tidak suka.Taat yang bukan tanpa keluh, namun mengupayakan agar keluh menguap bersama doa-doa yang mengangkasa menjadikan kekuatan untuk tetap taat.

    Mainkan saja peranmu, dalam taat kepada-Nya, dan karena-Nya.




    Bogor, 6 Maret 2018
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Aku menangkapnya, sinyal kekhawatiran dari kata-kata yang ia ketikan. Sebuah percakapan maya di saat malam kian beranjak pergi, seperti biasa.

    Sampai saat ini mungkin aku masilah seperti bocah, yang sering terburu-buru saat hendak pergi sekolah.

    Sampai kapan pun, aku tetaplah anaknya


    Bogor, 5 Maret 2018
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Aku menghampiri gadis 22 tahun itu. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Dia bahkan tidak menyadari bahwa aku telah duduk di depannya sejak beberapa detik lalu.

    "Eh, Bil, sudah di sini? Sejak kapan?," sapanya.

    "He'em."

    "Sudah pesan?"

    "Tuh," jawabku sambil menunjuk pelayan yang mengantarkan pesananku, jus stroberi dengan gula dua sendok teh.

    "Jadi kamu sudah lama di sini, Bil?"

    "Iya, Barbiee," jawabku sedikit kesal dan dia hanya tertawa. "Ada apa? Bukannya kau akan berangkat ke Korea pekan depan? Apa yang membuatmu tiba-tiba ke kota ini?"

    Ia mengangguk. "Iya aku akan pergi. Ada sedikit hadiah perpisahan untukmu." Aku menatapnya tak mengerti. 

    "Cerita?"

    "Apalagi," jawabnya.

    "Lalu aku harus mengirim cerpennya?"

    Ia hanya tersenyum. "Dari sekian banyak hal yang aku lakukan, aku hanya ingin dia merasa selalu membutuhkanku. Hanya itu. Meski mungkin tidak ada lagi cinta. Meski mungkin hati itu pernah terisi oleh prempuan lain. Meski mungkin pernah ada orang lain yang menyandarkan kepalanya di pundakmu. 

    "Aku hanya ingin ia merindukanku saat aku jauh. Walau hanya sekali selama aku pergi. Walau hanya sekejap. Aku hanya ingin merasakan lagi, bagaimana rasanya ia cintai. Aku hanya ingin merasakan lagi bagaimana rasanya dirindukan, bagaimana rasanya diperhatikan dan dipedulikan." Ia mengehentikan ceritanya.

    "Aku hanya ingin merasakan lagi bagaimana perasaannya empat tahun lalu hingga membuatku luluh, bagaimana perasaannya empat tahun lalu saat ia mengatakan hendak meminangku."

    Aku menyodorkan jus stroberiku yang tinggal setengah. Aku rasa kopi yang ia pesan terlalu pahit jika dinikmati saat-saat seperti ini.

    Ia menggeleng. "Aku terlambat. Aku tak sempat menanyakan semua itu padanya. Apakah perasaan itu masih dan akan selalu sama."

    Aku hanya menatapnya. Sambil terus bertanya apa yang membuat ia jauh-jauh pergi ke kota ini, menembus jarak ratusan kilometer, hanya untuk waktu tak kurang dari dua jam memintaku mendengar ceritanya. Ada yang  tidak baik-baik saja, dan pasti itu hatinya.



    Bogor, 4 Maret 2018
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Hari yang baik adalah saat-saat kita bisa bersyukur, lapang pada ujian, berperasangka baik, merasa ikhlas, senantiasa merasa cukup, dan tidak pernah mengharap apa pun pada manusia


    Bogor, 3 Maret 2018
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Kadang kita perlu meletakkan sebentar masalah yang kita genggam erat-erat

    Sejenak mengalihkan perhatian

    Kadang kita lupa, bahwa ada orang yang tak rela kita menanggung beban sendirian



    Bogor, 2 Maret 2018
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Sudah lama menulis ini. Tapi baru berkeinginan di post. Karena semakin banyak yang bertanya. Semoga bisa diambil manfaatnya.

    Dua bulan bekerja pertanyaan "Mengapa akhirnya memutuskan bekerja" masih saja menghampiri. Tidak sedikit yang mempertanyakan. Saat berkas sudah di siap. Bahkan beasiswa pun ada. Tapi akhirnya saya memutuskan bekerja lebih dulu. Ada banyak alasan. Banyak sekali pertimbanga. Banyak hal juga yang harus aku korbankan. Dan aku akan memulai cerita itu. Silakan di simak jika dirasa bisa diambil manfaatnya. Jika tidak berhenti pada bagian ini pun tidak masalah :)

    Rasa-rasanya hampir semua orang yang kenal dengan saya tahu, jika saya suka sekali belajar, suka sekali berjibaku dengan segala hal yang erat kaitannya dengan penelitian, singkatnya semua orang menyimpulkan bahwa saya harus melanjutkan studiku. Sehingga pertanyaan "Mengapa akhirnya memutuskan bekerja", selalu saja menghampiri. Orang-orang tidak puas dengan keputusan yang saya buat. Dan saya sungguh berterima kasih atas itu.

    Ada banyak hal, alasan pertama adalah "bahwa untuk menjadi seorang pendidik, saya tidak hanya boleh memiliki banyak ilmu, tapi juga banyak pengalaman". Saya ingin menjadi dosen dan sepertinya semua orang tahu itu. Bagi saya, menjadi seorang pendidik bukan hanya menyampaikan ilmu, tapi juga nilai, nilai-nilai kehidupan yang tak akan di ajarkan di kelas mana pun, dan itu di dapatkan dari pengalaman. 

    Awalnya saya juga ragu, apakah dengan bekerja akan banyak nilai yang saya dapatkan? Ini masih saya pelajari hingga detik ini. Di lain kesempatan saya akan menceritakan bagaimana pengalaman saya bekerja, keluar dari zona nyaman, dan merubah kepribadian saya. Singkatnya saya tidak menyesali keputusan untuk bekerja lebih dulu, meski harus keluar dari zona nyaman, meski harus jatuh bangun beradaptasi dengan keadaan. 

    Di sini sembari bekerja sama masih aktif di kegiatan remaja masjid, mengajar anak-anak tentang pertanian, juga menambah kapasitas keilmuan saya. Dengan waktu yang sempit di tengah-tengah jadwal kerja yang padat, tapi saya menikmatinya. Saya mengazamkan, bahwa apa yang saya punya akan saya bagikan, jadilah saya harus memiliki banyak pengalaman. 

    Kedua, saya ingin memanfaatkan keilmuan yang telah saya dapatkan selama di kampus. Sembari mencari ide penelitian untuk thesis dan disertasi. Dan ternyata, saya menemukan banyak keahlian baru. Bekerja sebagai QC membuat saya terlatih menyelesaikan banyak sampel dalam waktu yang singkat dengan tuntutan yang tidak main-main. Saya tidak pernah membayangkan jika fatalnya pekerjaan saya membuat truk-truk yang berjajar di gerbang perusahaan harus kembali jika saya menyatakan sampel bahan baku yang di bawa tidak memenuhi standar. Atau analisis saya yang akan mempenharuhi apakah produk di pasarkan atau tidak. Untung saja saya punya Allah yang maha kuat.

    Ketiga, jika ditanya, apa yang orang tua inginkan dari anaknya setelah disekolahkan hampir 16 tahun, pastilah itu bekerja. Orang tua saya tidak pernah melarang saya melanjutkan studi. Sama sekali tidak. Tapi, sebagai orang tua pada umumnya, jauh di bawah hati kecil mereka, mereka ingin melihat anaknya bekerja. Pada bagian ini, saya yakin setiap anak punya kisahnya masing-masing.


    Ketiga alasan itu yang mendasari saya, alasan ke empat, lima, dst, adalah alasan pribadi yang saya rasa setiap orang juga memiirkannya. Iya, hidup terus berjalan, lulus, kemudian menikah. Di mana setiap keputusan tak lagi saya gantungkan pada jawaban akhir orang tua, di mana setiap permasalahan harus saya temukan sendiri penyelesaiannya. Dan saya menganggap sekarang saya tengah 'sekolah', mempersiapkan kehidupan di mana setiap keputusan saya yang harus siap mempertanggujawabkan konsekuensinya.


    Jauh dari semua alasan itu, berkonsultasilah dulu pada Rabbmu, yang memilikimu lebih dari siapa pun.


    Bogor, 1 Maret 2018
    Azifah Najwa

    Continue Reading

    Aku memandanginya yang sedari tadi asyik bermain handphone. Sesekali melihatnya tersenyum seorang diri.

    "Sedang apa?", tanyaku

    "Ini," jawabnya sembari menunjukkan apa yang membuatnya sibuk sedari tadi.

    "Ayahmu?," tanyaku sambil menunjuk foto di handphonenya.

    Ia menggeleng. "Bukan. Bukan ayahku."

    "Ini profil instagram temanku."

    "Hmmm," jawabku.

    "Aku iri." Aku menatapnya. Seolah bertanya, kenapa?

    "Aku takut, saat aku punya keluarga nanti, keluarga seperti apa yang akan aku bangun. Bagaimana aku seharusnya menjadi ibu. Bagaimana aku membangun sosok ayah yang dapat di percaya anak-anakku.

    "Apakah yang aku lakukan seperti yang anakku inginkan? Apakah aku bisa hanya menampakkan yang baik-baik saja kepada mereka? Bagaimana aku mempercayakan hidupku dan juga anak-anakku pada laki-laki yang aku pilih? Apa aku benar memilih laki-laki itu?"

    Dia menatapku, "Tidak, Bil, aku sedang tidak minta pendapatmu. Karena untuk hal ini aku yakin kamu belum pernah mengalaminya."

    Aku tersenyum. Dia benar tidak minta pendapatku. Tapi ia salah jika aku belum pernah mengalaminya. Aku juga menanyakan begitu banyak pertanyaan sepertimu, Mel.

    Apa lebih baik aku hidup sendiri saja? Tanpa perlu memikirkan orang lain. Tanpa merasa takut disakiti atau menyakiti. Tanpa merasa takut tidak dipercaya atau dikhianati.

    "Bil, bagaimana melanjutkan hidup dengan kepercayaan yang tak lagi utuh?"
    "Jalani," jawabku.


    Bogor, 28 Februari 2018
    Azifah Najwa

    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About me


    Azifah Najwa. Penulis. Peneliti. N’s. Food scientist. an ISTP.

    Blog Archive

    • ▼  2021 (10)
      • ▼  November (1)
        • Jogja
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (5)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2020 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2019 (11)
      • ►  November (2)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Januari (5)
    • ►  2018 (109)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  April (13)
      • ►  Maret (31)
      • ►  Februari (28)
      • ►  Januari (32)
    • ►  2017 (115)
      • ►  Desember (13)
      • ►  November (11)
      • ►  Oktober (14)
      • ►  September (21)
      • ►  Agustus (14)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Juni (5)
      • ►  Mei (6)
      • ►  April (4)
      • ►  Maret (9)
      • ►  Februari (9)
      • ►  Januari (7)
    • ►  2016 (161)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (6)
      • ►  Oktober (12)
      • ►  September (25)
      • ►  Agustus (20)
      • ►  Juli (19)
      • ►  Juni (16)
      • ►  Mei (18)
      • ►  April (10)
      • ►  Maret (10)
      • ►  Februari (13)
      • ►  Januari (6)
    • ►  2015 (309)
      • ►  Desember (10)
      • ►  November (20)
      • ►  Oktober (27)
      • ►  September (24)
      • ►  Agustus (25)
      • ►  Juli (70)
      • ►  Juni (47)
      • ►  Mei (20)
      • ►  April (29)
      • ►  Maret (18)
      • ►  Februari (10)
      • ►  Januari (9)
    • ►  2014 (41)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (9)
      • ►  Oktober (10)
      • ►  September (15)
      • ►  Februari (1)
    • ►  2013 (2)
      • ►  Agustus (2)
    • ►  2012 (16)
      • ►  November (1)
      • ►  Oktober (3)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (3)
      • ►  April (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2011 (11)
      • ►  Desember (5)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (5)

    Total Tayangan Halaman

    Most View

    • Design Expert
      Ini salah satu aplikasi olah data yang akan aku gunakan untuk merancang dan menganalisis penelitian yang akan aku lakukan. Ada cerita y...
    • Bagian Terbaik
      Salah satu bagian terbaik dari caramu mencintaiku adalah saat kau selalu berusaha menjagaku, memastikan bahwa aku tiba di rumah tepat w...
    • Student Exchange
      Nabila lagi student exchange on fire! Jangan diganggu yaa, pokoknya kali ini harus lolos! Hashtagnya lagi refreshing, empet ngurusin orga...
    • Lagi-lagi Tentang Gamais
      Jalan dakwah itu terjal, curam, dan sedikit yang mau melewatinya. Gamais adalah tentang cinta. Dan cinta bagiku adalah selalu tentang m...
    • Lebih Berani
      Malam ini kau boleh mengeluh sejadinya, tapi berjanjilah esok hari kau harus lebih berani menghadapi. Bukan untuk sesiapa, pada akhirny...

    categories

    Catatan Cerita Dandelion Edelweis Food Scientist Idealisme KAMMI Keluarga Raudhatul Jannah Rentang Tunggu Rohis

    Followers

    facebook Google + instagram Twitter

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top