Just Note

Sejak aku jatuh cinta pada caramu membaca, sejak itu pula aku berjanji untuk tidak berhenti menulis

    • Home

    Hari ini aku bahagia, meski hanya bisa melihat senyum kalian lewat beranda maya. Cerita perjuangan yang kita mulai tahun 2013 sudah tertulis rapih. Satu fase telah terlewati

    Ada haru. Semakin terbayang olehku kita tak lagi bisa seperti dulu. Esok lusa kita akan sulit bertatap muka. Kalian kembali ke asal kalian atau merantau lagi, tak ada lagi kita yg bertemu setiap pagi, setiap hari.

    Masih jelas terbayang di benakku, ruang kelas yang ramai, tugas kelompok yang penuh drama, menghabiskan malam-malam di laboratorium. Masa itu akhirnya menjadi kenangan manis.

    Selamat, bukan, maksudku semangat, menghadapi hidup yang semakin nyata. Semangat atas amanahmu, atas bertambahnya gelar di belakang namamu. Itu bukan pemanis, tapi ada tanggungjawab di gelar itu

    Sampai jumpa di lain waktu, Teman Sejawat❤️


    Bogor, 13 Maret 2018
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Malam ini ingatanku melesat ke 22 Januari
    tahun lalu. Waktu itu Purwokerto dibungkus hujan, selepas sholat maghrib, aku membuka pesan WhatsApp dan mendapati kabar dirimu kecelakaan. Lalu bergegas, entah akan ke mana, ke Purbalingga atau ke RS. Margono, entah mana yang harus aku percaya, orang yang menemukanmu dan mengabarkan keadaanmu di grup WhatsApp atau pikiranku sendiri. Rasanya baru dua hari lalu aku bertemu denganmu yang hendak ke kampus, rasanya baru minggu lalu kau bertanya bagaimana kabar tikus-tikus penelitianku tapi lupa aku balas karena sedang dalam perjalanan ke Surabaya, waktu itu semua rasanya baru kemarin.

    Kematian memang sangat dekat, bahkan terlalu jauh jika harus dibandingkan hari ini dan kemarin. Bukankah kemarin tak akan kembali? Sedang kematian?

    Aku rindu dipanggil Einstein, ditanya kabar olehmu, diajak berbalas tulisan denganmu, aku sungguh rindu..



    Bogor, 22 Januari 2018
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Tulisan ini dibuat pada tanggal 7 Desember 2017, di WiFi id, hujan, dengan seorang teman..



    Mungkin pilihan yang membuatku berpikir berkali-kali adalah apakah aku akan mengambil matakuliah pilihan bakrey atau buah sayur, dan itu terselesaikan dengan pendapatmu, pendapat ibu. Atau mungkin pilihan untuk segera memutuskan bagaimana konsep aksi yang akan dibawakan, mimbar bebas, tanda tangan petisi, atau musikalisasi puisi, dan itu terselesaikan setelah meminta pendapatmu. Atau mungkin pilihan untuk menentukan berapa faktor penelitian yang akan diuji, variabel apa saja yang akan di teliti, dan itu terselasaikan setelah minta pendapat dosen pembinging.

    Kali ini persoalannya lain. Ketika kamu menyerahkan keputusan sepenuhnya padaku, ketika orang tuaku juga demikian. Dan aku, masih mencerna, apa yang sebenarnya membuatku berat hati untuk mengatakan iya padahal ini adalah apa yang aku cari, mendapat pekerjaan. Apakah benar masalah gaji? Mmmm, mungkin. Apakah karena tempatnya tidak aku inginkan? Ataukah aku yang merasa, bahwa aku bisa mendapatkan lebih? Ah, siapa aku, menglasifikasikan diriku seperti itu. Ataukah terlalu banyak dosaku, hingga di hatiku tidak ada rasa syukur? Faghfirlii ya Rabb, faghfirlii...

    Sore itu aku menangis dan merasa Allah berada satu jengkal di sebelahku..

    Besoknya aku pulang, ke rumah, ke Kebumen. Tapi sebelum pulang aku mampir ke tempat kerja ibu, sudah larut padahal, dan di sana aku melihat, bahwa bekerja bukan sesuatu yang mudah. Teman ibu satu per satu menghampiri, bertanya basa-basi,hingga akhirnya salah satu teman ibu ada yang bertanya, perihal tempatku bekerja, aku diam, ibu yang menjawab. Seketika itu juga rasanya ada sesuatu yang menyeruak di dadaku, bahwa ibu bangga. Apa ini petunjukmu ya, Rabb?


    Apa aku sudah yakin dengan keputusan mengambil kesempatan itu? Aku tidak tahu, tapi yang jelas, aku tiba-tiba tidak berat hati memasukkan baju-bajuku ke tas.


    Hingga akhirnya siang itu tiba, sejak seminggu lalu aku tidak pernah lagi membuka email, tidak pernah lagi harap-harap cemas menunggu balasan email perusahaan. Entah apa yang menggerakan hatiku, hingga akhirnya, -sepertinya- jawaban atas segala keraguanku terjawab sudah...




    Kebumen, 8 Desember 2017
    Azifah Najwa





    Continue Reading

    Desember 2017. Penghujung tahun, di mana tidak sedikit mimpi-mimpi dan rencana yang telah disusun harus disusun ulang, tak mengapa, manusia hanya boleh berencana.

    Ada banyak hal terjadi di tahun ini. Menyelesaikan penelitian yang selama ini hanya angan-angan, lulus, publikasi jurnal ilmiah, 'mengubah' arah mata angin, dan juga gagal menikah, hahahaa. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan? 

    Ada beberapa pertanyaan sejak keputusan tidak -dulu- melanjutkan sekolah aku ambil, "Kenapa, Bil?","Kamu ga pantes kerja, sekolah aja", "Sayang ih kamu pinter, sekolah lagi aja sih", "Ganggu LPDP ga kerjanya?"

    Terima kasih, sungguh, kepada kalian yang selalu peduli, peduli pada mimpiku. Tapi aku ingin mencari sesuatu yang tidak akan saya dapatkan saat saya sekolah, yang tidak ada kuliahnya, yang tidak dapat di dapat dari membaca buku, pengalaman. Iya, pengalaman tidak ada sekolahnya, seperti yang Bu Ermin sampaikan.

    Apa yang telah saya dapatkan saat saya menjadi juara lomba-lomba pasti akan berbeda dengan saat saya menjadi quality control, apa yang telah saya dapatkan selama proses penelitian yang menguras kesabaran pasti akan sangat berbeda dengan saat saya menjadi seorang profesional. Karenanya saya sampaikan, pengalaman tidak ada sekolahnya.

    Saya ingin sekolah lagi, saya ingin menjadi dosen, yang tidak hanya membagikan ilmu tapi juga pengalaman, karenanya saya tengah mencari sebanyak-banyaknya pengalaman, saya ingin menjadi dosen, bukan karena ingin mendapatkan gaji yang lumayan tapi juga ingin memanfaatkan keilmuan, agar lebih bermanfaat, agar lebih berguna bagi masyarakat. Saya ingin menjadi dosen, hanya karena saya melihat, dosen adalah pekerjaan yang pas, dengan diri saya, juga keinginan untuk tetap dekat dengan anak-anak saya nantinya, menyiapkan bekal sekolahnya, mengajari dan menceritakan banyak hal. Saya ingin menjadi dosen, agar keilmuan saya bisa menjadi penolong untuk saya dan suami saya di akhirat kelak. Sesederhana itu.


    Dan selamanya mimpiku hanya seperti tangan yang menggenggam pasir, selamanya mencukupkanku. Selama itu pula aku bisa mengubah mimpiku kapan saja. Dan selama itu pula kau mengingatkan mimpi-mimpiku, terima kasih sayang...



    Purwokerto, 22 Desember 2017
    Azifah Najwa

    Continue Reading

    Jus stroberi yang aku pesan tinggal tersisa sepertiganya. Berpura-pura menikmati pertemuan ini membuatku butuh banyak pengalihan, dengan terus minum misalnya. Sedang pertemuan ini belum membicarakan apa pun. 

    "Kau tidak berniat pesan yang lain?," tanyanya membuka percakapan.

    "Eeh, engga, minum aja," jawabku. Dari cara kami bertanya dan melempar jawaban kalian bisa menyimpulkan bahwa saat ini kami benar-benar canggung. 

    Kalau tidak salah ingat, pertemuan ini adalah kali pertama sejak wisuda tiga tahun lalu. Sejak kau kembali ke kotamu dan aku memilih menetap di sini, kita tidak pernah lagi bertukar kabar. Entahlah. Aku yang terlalu pengecut untuk memulai atau kau yang memang sudah tidak lagi peduli. Dan sore ini kau mengajakku bertemu? 

    "Gimana kabarmu, Nad?"

    Pertanyaan retoris, pikirku. "Baik, sangat baik malah," jawabku singkat.

    "Syukurlah," jawabnya, sembari meminum late kesukaannya. Tidak ada yang berubah darinya, kecuali mungkin orang yang kini menjadi tokoh utama di balik desain-desainnya.

    "Kapan ya kita terakhir ngobrol kayak gini? Rasanya canggung sekali." Benar kan apa kataku, tidak hanya aku, dia juga merasa canggung.

    Aku hanya tersenyum. Sembari mengingat-ngingat kapan terakhir kali kita bertegur sapa. Seingatku terakhir kali kita bertemu saat acara pelepasan, kau berdiri di depanku karena absenmu tepat di depanku, iya hanya berdiri, tanpa menoleh sedikitpun seolah tidak pernah ada aku dibelakangmu.

    "Nad, ada yang ingin aku sampaikan."

    "Hmmm," aku hanya berdehem, sambil terus memainkan sedotan di gelasku.

    Rafa menyodorkan sebuah kotak merah dengan cincin di dalamnya. Aku menatapnya tak mengerti. 

    "Maaf, Nad, jika hari itu aku mengacuhkanmu. Tapi semoga kau tahu, bahwa tak sehari pun aku tak mengetahui kabarmu, aku tahu saat kamu di rawat di RS, aku tahu saat kamu sedang sibuk dengan organisasimu, aku hapal jam biologismu, aku tahu kapan kamu tidur dan berangkat kuliah. Tak ada satu pun yang aku lewatkan darimu, Nad. Meski sapaku tak pernah menjumpaimu."

    Aku benar-benar semakin tak mengerti.

    "Seperti yang kau pikirkan, Nad, tidak ada yang berubah dariku, tidak juga tokoh utama di balik desain-desainku."

    "Tapi aku bukan lagi Nada yang dulu, Fa," jawabku sambil beranjak dari dudukku.

    Sudah terlambat, sungguh sudah terlambat. Cincin di jari manisku telah menjelaskan segalanya, gumamku sembari meninggalkan Rafa yang masih terpaku pada cincin yang seharusnya untukku..

    ***

    Cerita ini hanyalah fiktif belaka, percayalah. Hahaha
    Selamat menempuh hidup baru sahabatku, tidak ada lagi kita yang diam-diam bertanya kabarnya, tidak ada lagi kita yang diam-diam kegirangan saat tak sengaja berpapasan di koridor sekolah -meski sungguh hanya berpapasan, tidak ada saling tegur apa lagi sapa, tapi mampu membuat hari itu berbunga-bunga-, tidak ada lagi kita yang rela lewat pintu belakang yang artinya harus mengitari sekolah hanya demi lewat kelasnya, meski selalu tidak bertemu, karena kita berangkat terlalu pagi dan pulang terlalu siang, sedang ia sebaliknya. Selamat! Jika aku tidak hadir anggap saja aku marah karena kau terlambat memberiku kabar. Meski sebenarnya aku paling bahagia.


    Salam sayang,
    Purwokerto, 3 September 2017
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Gemercik air hujan turun menghujam atap rumah ini. Jangan pernah jatuh cinta saat hujan, kau akan merasakan sakitnya saat hujan turun. Tapi sayangnya aku bertemu denganmu saat hujan. Tapi sayangnya aku memutuskan jatuh cinta padamu saat hujan.
    ***
    “Nay bangun! Handphone-mu bunyi terus sejak tadi,” sebuah suara membangunkaku. Sambil tergopoh aku raih ponselku. Ah, ibu.
    “Hallo, Assalamu’alaikum, Bu?”
    “Dari mana saja, Nduk, kok telpon ibu baru diangkat?” seperti biasa, ibu selalu menggerutu tiap kali anak prempuannya lama mengangkat telpon. Aku terkekeh, “Hehehe ketiduran, Bu”
    “Bagaimana bisa anak prempuan pagi-pagi ketiduran, ayo bangun!”
    “Iya, Bu. Ibu bagaimana kabarnya? Sehat?” Menanyakan kabar? Padahal baru kemarin ibu menelponku dan pasti akan menanyakan hal yang sama dengan yang akan ditanyakan ibu pagi ini, lihat saja.
    “Sehat. Kapan kamu pulang, Nduk? Bapakmu bingung harus menjawab apa?” Ibu tidak menanyakan kabarku, fine. Ibu memang selalu tahu kalau fisik anaknya selalu sehat. Meskipun tidak dengan perasaannya.
    “Naya masih harus mengambil sampel penelitian, Bu, masih sibuk,” kilahku.
    “Sibuk tapi masih bisa ketiduran,” aku terkejut. Aish, aku salah memberi jawaban. “Kamu lupa atau pura-pura lupa? Hanan anaknya Pak Rian sudah menunggu jawabanmu sejak dua minggu lalu, segeralah beri jawaban, jangan kau gantungkan anak orang.”
    Benar kan kataku, dia lagi, dia lagi.
    “Ah, Ibu, tikus-tikusku di laboratorium lebih penting dari si Hanan. Jawab saja tidak.”
    “NAYAAAAAAAA!,” teriak ibu dari balik telpon.
    “Bu, Naya belum siap menikah.” Setidaknya aku memang belum siap menikah dengan siapa pun selain dirinya.
    “Sudah istikharah belum?!”
    Aku diam.
    “NAYA!”
    Aku menarik napas panjang. “Iya, Bu, nanti Naya renungkan. Besok Naya akan telpon, Ibu.”
    “Besok ya? Jangan lupa jaga kesehatanmu. Hati-hati di sana. Wassalamu’alaikum,” tuut tuuut. Ibu menutup telponnya. Wa’alaykumsalam, lirihku.
    Kepalaku mendadak sakit. Seperti di tusuk-tusuk jarum sonde. Mungkin seperti ini rasanya saat aku memasukan paksa produk uji ke lambung tikus-tikus penelitianku. Menyakitkan.
    “Hanan, Hanan, HANAAAAAAAAN!!,” teriakku.
    Aku terperanjat begitu melihat Rida di depan pintu kamar, “Hanan? Siapa itu Hanan, Nay?,” sergahnya.
    “Tidak. Bukan siapa-siapa,” aku segera mengambil handuk dan alat mandi. Pagi ini jadwalku menengok tikus-tikusku di lab. Memastikan mereka bahagia dan kadar gula mereka stabil.
    “Ceritakan atau kau tidak akan mandi selamanya,” ancam Rida sembari menutup pintu kamar mandi. Aish, apa lagi ini.
    “Rida, aku harus ke lab,” rengekku.
    “10 menit saja, baru kau boleh mandi!,” jawabnya garang, ditambah garis-garis wajah khas Suku Bataknya, akhirnya aku luluh.
    “Mulai dari mana aku ceritanya?,” jawabku sedikit kesal sembari kembali ke kamar. Tidak mungkin aku menceritakan masalah ini di depan kamar mandi, bisa-bisa cerita ini jadi konsumsi anak satu kosan.
    Rasanya aku dan Rida tidak cocok sekali membicarakan topik ini, ya laki-laki. Kami bukan lagi remaja tanggung yang sedang gandrung mengagumi kakak kelas, kemudian saling bercerita saat bertemu di koridor sekolah, seolah-olah itu adalah pertemuan yang pantas dibanggakan, padahal hanya papasan biasa, tidak ada senyum apalagi sapa. Kami mahasiswa tingkat akhir. Aku sedang menyelesaikan penelitianku. Dan Rida sudah mulai menyiapkan berkas wisuda.
    “Siapa Hanan itu, Naya?”
    “Hanan. Dia anak salah satu orang yang cukup terpandang di desaku. Bapaknya seorang mantri, ya bisa disebut dokter lah, dan ibunya seorang guru. Kultur desa tempat tinggalku masih begitu menghormati guru dan juga mantri. Rumahnya agak jauh dari rumahku, ya selisih enam atau tujuh rumah. Aku dulu sering main ke rumahnya karena aku berteman akrab dengan adiknya. Dan kata bapakku dia masuk pondok sejak lulus SD, kemudian SMP, lalu SMA, dan kuliah di fakultas kedokteran. Jadi dia seorang dokter, katanya. Aku kurang tahu betul dan memang tidak berniat mencari tahu atau pun ingin tahu. Ada yang ingin ditanyakan sampai sini?,” aku haus, mengambil air lalu meminumnya, Rida mengerjap, menungguku minum.
    “Belum apa-apa, Nayaaa! Terus gimana?”
    Aku terkekeh. “Iya, jadi dia anak orang yang cukup dipandang di desaku. Tidak hanya dia, kakek dan neneknya dulu termasuk orang yang paling berada di desa,” jelasku. Rida mengangguk-anggukan kepalanya. Sepertinya dia tidak tertarik dengan bagian ini. “Karena alasan itu orang tuaku tidak enak hati harus menolak pinangannya.”
    “Pinangannya? Untukmu?”
    Aku tidak menjawab. Aku rasa Rida tahu sendiri jawabannya, tidak mungkin untuk adikku.
    “NAH! Ini mulai seru!,” aku kaget. Rida memperbaiki posisi duduknya, seolah akan mendengarkan bocoran soal ujian.
    Aku melihat notifikasi ponsel sejenak kemudian menutupnya kembali, pada saat-saat seperti ini sejujurnya aku tidak mengharapkan notifikasi apa pun masuk ke handphoneku.
    “Dua minggu lalu dia datang sendiri ke rumahku. Mengutarakan niat baiknya ke kedua orang tuaku.”
    “Dia datang sendiri?,” aku malas menjawab pertanyaan yang seperti ini, dia hanya mengulang ceritaku. Tapi aku jawab saja, “iya”. Aku tahu persis jika dia sedang menunjukkan perhatiannya pada ceritaku. Aku tersenyum.
    “Di bawah cahaya lampu ruang tamu yang malam itu mendadak gelap, dia mengutarakan niatnya. Katanya dia sudah mendapat restu dari orang tuanya. Pak Restu, orang tuanya, sangat setuju katanya,” Rida mengangguk-angguk. “Dia bilang begini, ‘Kata bapak, Bapak dan Ibu Ali adalah teman karibnya sejak kecil. Bapak tahu bagaimana perangai Bapak dan Ibu serta bagaimana Bapak dan Ibu membesarkan Naya hingga tumbuh menjadi calon dokter yang shalihah. Menuruni sifat kedua orang tuanya yang dermawan serta lemah lembut,” aku mengentikan ceritaku sejenak dan memasang muka paling datar sedunia. Dan Rida wajahnya sudah lebih mirip buah jambu.
    “BUAHAHAHAHAHAHAAA.” Aku selalu menghargai kejujurannya, jadi ku biarkan saja dia tertawa.
    “Itu memang lucu, bagiku juga. Ya aku masih tidak habis pikir, bagaimana dia bisa begitu yakin denganku, padahal kita tidak saling kenal sebelumnya. Aku hanya tahu dia kakak temanku. Sudah.”
    “Kamu pernah ngobrol sebelumnya dengan dia?”
    Aku menggeleng.
    “Pernah ga sengaja belanjaanmu jatuh di pasar terus di tolongin dia? Pernah ga sengaja ketemu diantrian supermarket?,” dasar korban sineteron, pikirku.
    “Tidak pernah, Rida. Sudah, aku mau mandi dulu,” aku segera bergegas ke kamar mandi sebelum Rida menghadangku lagi.
    “Nay, kamu masih berharap dengan dia?,” Rida meneriakkan pertanyaan itu dari jauh. Iya, lirihku dan aku yakin dia tak mendengarnya.
    ***
    Seperti biasa, pagi-pagi buta aku sudah lengkap dengan perlengkapan laboratorium, jas lab, sarung tangan latex, masker, juga jarum-jarum suntik. Agendaku pagi ini mengambil sampel darah tikus-tikus ini.
    Tiba-tiba ponsel di kantong jas labku berbunyi. Ah. Tikus putih yang aku pegang mengeluarkan darah. Aku salah memasukan jarum suntik. Segera aku hentikan pendarahannya dan memasukkannya ke kandang. Untunglah dia baik-baik saja. Ku raih ponselku, dan, Ah ibu.
    “Hallo, iya, Bu?”
    “Hallo, Nduk. Lagi di mana? Kok lama ngangkat telponnya?,” gerutu ibu akhir-akhir ini setiap kali aku telat dua-tiga detik saja mengangkat telponnya.
    Sambil melepas perlengkapan lab, aku keluar ruangan, mencari tempat yang tepat untuk berbicara dengan ibu. “Lagi ambil sampel darah tikus, Bu, di lab.”
    “Bagaimana jawabannya, Nduk?,” Ibu memang selalu to the point.
    “Jawabannya masih tidak, Bu.”
    “Naya, Naya, laki-laki seperti apa yang kamu cari, Nduk? Kurang apa si Hanan itu, dia dokter, sama sepertimu. Dia dari keluarga terhormat di desa ini. Lulusan pondok pesantren. Laki-laki seperti apa lagi yang kamu cari, Nduk?”
    “Naya belum siap menikah, Bu. Itu saja alasannya.”
    “Nduk, usiamu sekarang sudah 22 tahun, belum lagi nanti harus ­ko-as. Mau nikah umur berapa tahun kamu, Nduk?.” Aku hanya diam mendengar penjelasan ibu. Bu, aku ingin menikah dengan laki-laki lain, sebenarnya itu yang ingin aku katakan.
    “Ya sudah, kamu pulang dulu saja. Bapakmu tidak bisa tidur memikirkan ini.”
    “Iya, Bu. Besok, Naya pulang.”
    “Ya sudah. Hati-hati ya, Nduk. Wassalamu’alaikum.” Seperti biasa, ibu menutup telponnya sebelum aku sempat menjawab salamnya. Wa’alaikumsalam, lirihku.
    Di luar hujan. Aku tidak segera beranjak. Menatap nanar lorong lab dengan harapan seseorang yang aku tunggu kedatangannya hadir, membawakan sekotak sari kacang hijau kesukaanku. Ini sudah hari kesekian sejak aku memutuskan pergi dari kehidupan seseorang. Lenyap dari segala hal tentangnya. Asal kalian tahu saja, tidak ada yang mudah mengawali semuanya. Menghilang bukanlah keahlianku. Sama bukannya dengan bertahan dengan kepercayaan yang tak lagi utuh.
    ***
    “Nduk, jadi bagaimana keputusanmu?,” baru kali ini bapak menatapku dengan tatapan seserius ini. Gurat wajahnya menunjukkan betapa banyak pengorbanan yang beliau lakukan.
    “Bapak tidak enak hati menolak lamaran Hanan,” ini intinya.
    “Naya belum siap menikah, Pak.”
    Bapak menarik napas panjang. “Benar alasanmu hanya itu?” Sejak kecil bapak memang selalu tahu kalau putrinya sedang tidak baik-baik saja. Pak, aku ingin menikah dengan laki-laki lain.
    “Nduk, Hanan kurang apa? Soleh sudah, mapan sudah. Tidak baik, Nduk menolak lamaran laki-laki yang sudah baik agamanya. Kamu tahu itu kan?,” Ibu menambahkan.
    Aku hanya diam.
    “Jadi gimana, Nduk?,” Bapak menanyakan lagi.
    Aku diam, menghela napas. Aku tidak boleh diam. Bapak dan ibu tidak boleh mengartikan diamku sebagai iya.
    “Kalau kamu tidak punya jawaban, biar Bapak saja yang putuskan.” Aku menangkat wajah, “Pak, Naya belum siap....”
    “Tidak baik menolak orang baik, Nduk, takut fitnah!,” ibu menimpal. Aku kembali menunduk. Air mataku memaksa keluar. Tapi aku tak boleh menangis di hadapan bapak. Bapak akan luluh jika melihat putrinya menangis, setegas apa pun bapak.
     “Ya sudah, terserah Bapak saja baiknya bagaimana,” kataku akhirnya. Heh, apa yang baru saja aku katakan. Bagaimana ini? Aku melihat bapak terdiam. Menunduk. Kemudian beranjak. Seketika tangisku pecah. Ibu menepuk-nepuk pundaku, mencoba menenangkan.
    Sejak malam itu hingga tiga hari ke depan aku  tidak tahu apa jawaban yang bapak berikan kepada Hanan. Hingga malam ketiga, Hanan datang dengan keluarganya. Membawa berbagai macam bingkisan. Aku tak sanggup melihat wajah bahagia mereka. Sedang aku tak sebahagia itu. Di luar hujan turun dengan derasnya. Cintaku selalu bermula dan berakhir saat hujan. Siapa yang tahu perasaanku? Tidak aku bayangkan rumah tanggaku akan aku bangun dengan perasaan seperti ini.
    “Saya mohon izin kepada Ibu dan Bapak untuk menikahi Naya esok hari”
    Sayu-sayu dari luar kamar aku mendengar kalimat itu. Ku pejamkan mata. Aku segera berlari. Keluar kamar. Ke luar rumah. Tidak mempedulikan hujan yang turun dengan derasnya. Tidak mempedulikan bapak yang berkali-kali memanggilku. Tidak mempedulikan Hanan yang menatap tak mengerti, ada apa dengan calon istriku, pikirnya. Menghilang memang bukan keahlianku. Tapi, apa harus seperti ini caraku memulai berdamai dengan kisah hidup seseorang. Aku terus berlari. Tidak mempedulikan jalanan yang ramai, kendaraan yang lalu lalang, atau pun bunyi klakson. Aku terus berlari sebelum akhirnya dihentikan oleh ponselku yang bergetar. Ada sebuah pesan singkat masuk.
    “Naya, tolong buka email, ada proposal ta'aruf yang ummy kirim untukmu, atas nama...”
    Aku tak bergeming dari tempatku berdiri. Berulang-ulang membaca nama pengirimnya. Benarkah ini kamu? Tiba-tiba aku melihat kilatan cahaya dan...
    ***
    DUARRR
    Aku tersentak. Mataku berat. Kuraih ponselku 22.31. Cahaya kilat memaksa masuk lewat jendela kamar, di luar hujan deras, dan petir menyambar-nyambar.

    Ah, mimpi...





    Purwokerto, 26 September 2016
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Aku sedang berada di sebuah ruangan di mana kenangan-kenangan kita pada masa itu berkelindan. Waktu bergerak begitu cepat. Dua tahun terakhir ruangam ini ramai akan segala cerita, tawa, juga sikap "tak pedulimu". Dan hari ini, ruangan itu mendadak sepi. Ingin rasanya aku memperbudak waktu. Membiarkan semuanya tetap di sini, di sampingku, terus bercerita padaku, terus menerus terlelap di bahuku. 

    Aku suka kata-katamu, bahwa dengan kau tidak memiliki alasan mengapa kau jatuh hati padaku, kau juga tidak punya alasan mengapa harus berhenti jatuh hati padaku. Aku terdiam mendengar perkataanmu, hari ini aku mengetahui alasan yang kau maksud sejak dulu.

    Yang aku rasa, waktu seketika menjelma kenangan ketika semua yang tersisa dalam kenangan hanyalah serangkaian peristiwa membahagiakan yang kita miliki. Aku ingat bagaimana aku pertama jatuh hati hanya karena menganggap kau pendiam. Aku ingat bagaimana sifat kekanakanmu membuatku memanggilmu "Nduk". Ketika perasaan cinta kita masih biasa-biasa saja. Ketika aku menceritakan hidupku dan kau dengan khidmat mendengarkan. Hari itu aku mengajakmu jalan-jalan. Benar-benar jalan-jalan, Mengajakmu ke kebun stroberi. Menikmati satu gelas teh di kebun teh. Tawaku membeku bersama dinginnya cuaca ketika kau menggerutu tak menemukan satu stroberi pun di sana, saat aku menemukanmu dengan muka bingung karena gagal pulang. Atau ketika aku kesal bukan kepalang karena melihatmu tak bergeming dari balik tumpukan jurnal dan analisis-analisismu. Aku masih mengingatnya, meski aku bukan pengingat yang baik.



    Cukup.... :)



    Cerpen Lampion


    Purwokerto, 16 September 2016/
    Azifah Najwa



    Continue Reading

    Pelangi
    Nabila Faradina Iskandar


    Tak pernah ada yang berhasil tau, kemana jejak pelangi pergi. Entah sore, entah senja, entah kemana. Tiba-tiba hujan mereda, menyisakan dingin dan tanya.

    Ruangan ini tak jauh berbeda dengan ruangan-ruangan yang lain. Sebagai laboratorium dengan fasilitas terlengkap di abad ini, manusia-manusia pada abad sebelumnya tak akan membayangkan jika laboratorium ini akan berdiri. Semua ruangan dibangunan itu memiliki desain yang sama. Dindingnya putih. Bersih. Dan akses menuju ruangan itu dijaga ketat dengan teknologi super canggih. Hanya yang memiliki lisensi ilmuwan lah yang mampu masuk ke dalam bangunan itu.
    Meskipun tampak sama, ada ruangan yang didesain khusus. Tidak seperti ruangan lain, pada ruangan itu dipasang kaca yang memiliki dengan sudut elevasi 450. Lampu-lampu yang ditanam di ruangan itu memancarkan cahaya lembut. Membuat ruangan itu membiaskan cahaya saat hujan turun. Sempurna membentuknya menjadi pelangi. Tepat di ujung ruangan itu ada sebuah pintu. Pintu itu yang sudah hampir beberapa tahun ini diselesaikan ilmuwan-ilmuwan dunia. Dan hari ini pintu itu selesai dikerjakan.
    “Buka pintunya, Profesor!.”
    Waktu menunjukkan pukul  sembilan malam saat suara itu memecah kebekuan di ruangan lantai marmer itu.
    Seperti kisah di negeri dongeng, jika kau menemukan di mana ujung pelangi itu, kau bisa menaikinya untuk sampai ke langit. Seperti kisah di negeri dongeng, kisah ini dimulai juga pada suatu hari dan diselesaikan dengan selamanya.
    ***
    Kisah ini dimulai pada suatu hari, saat di mana penduduk bumi mencapai 9 milyar. Pada saat itu pangan menjadi komoditas yang sangat langka. Di saat lahan produktif pertanian tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan 9 milyar penduduk bumi. Manusia mengabaikan peringatan untuk jangan membuka lahan hutan. Mengabaikan larangan untuk tidak alih fungsi lahan. Mengabaikan larangan untuk tidak menggunakan pupuk kimia. Jika 15 tahun lalu produksi jagung sebuah negara bisa mencapai puluhan juta ton, saat ini tidak ada lagi lahan yang dapat ditanam.
    “Arya, ada yang menarik dari laporan peswat ulang alik yang kita terbangkan seminggu lalu,” Elis menyambungkan tablet miliknya dengan proyektor. Proyektor tercanggih pada abad itu. Dengan resolusi yang sangat tinggi. Seolah-olah kita tengah melihat dengan mata langsung.
    “Maksudnya apa, Elis?,” Prof Buchle menanyakan.
    “Planet ini bisa menghasilkan air, Prof. Berdasarkan laporan dari robot X-25 yang kita kirim satu minggu lalu, lapisan kedua planet ini mampu membentuk awan.”
    “Maksudmu, manusia mungkin hidup di planet itu, Elis?”
    “Tepat, Arya. Meskipun aku belum yakin, apa kandungan hujan yang diturunkan oleh awan di planet ini.”
    “Bagaimana dengan kondisi suhu lingkungannya, Elis?”
    “Hmmm, aku rasa tidak terlalu buruk. Saat siang suhunya dapat mencapai 27-300C tapi dapat mencapai -50C hingga -200C atau bahkan -350C saat malam,” jawab Elis sambil menggigit bibir. Bukan penemuan yang meyakinkan.
    “Kirim robot yang lain, Arya,” Prof Buhcle memerintahkan. Itu artinya penemuan Elis bukan jawabannya. Elis menghela napas panjang. Tentu ini bukan penelitian yang mudah. Para ilmuwan telah meramalkan, bumi akan mengalami revolusi setiap 1000 tahun. Dan abad ini adalah puncaknya. Sejak fakta ini diketahui oleh para ilmuwan, mereka segera merencanakan pembuatan pintu ajaib itu. Ada puluhan pemuda jenius dari belahan dunia yang dikumpulkan untuk menyelesaikan proyek itu. Elis dan Arya salah duanya. Saat itu Elis berusia 17 tahun dan Arya 19 tahun.
    “Sudahlah, Elis, tidak perlu mengeluh begitu, bukankah ini adalah hal biasa? Kita mengirim robot kemudian mendapatkan laporan dan laporan yang didapat tidak sesuai dengan yang harapkan.
    “Ini bukan kali pertama, Elis. Kita telah melakukan ini bertahun-tahun. Entah berapa ratus robot yang sudah kita kirim ke luar angkasa. Mengunjungi setiap orbit planet. Tapi hingga sekarang semua hasilnya nihil. Orang-orang di luar sana tidak pernah tahu, bahwa kehidupan ini lambat laun akan punah. Bahwa hidup ini hanya akan menjadi kenangan. Dan yang menjadi masalah, siapa yang akan mengenangnya jika semua punah.”
    “Sepertinya aku perlu satu gelas jus stroberi, Arya.”
    Arya tersenyum. Membuntutinya dari belakang menuju kantin laboratorium.
    Ini masa di mana teknologi berkembang begitu pesat. Hampir semua hal dilakukan oleh robot, termasuk jus stroberi yang dipesan Elis. Saat itu Elis berusia 17 tahun dan Arya 19 tahun.
    ***
    “Jangan gila! Kau tidak akan bisa membukanya, Arya.
    “Semua akses ke ruangan itu ditutup.
    Arya terus menggedor pintu ruangan itu. Memaksa membukanya. Tapi semuanya sia-sia. Di luar hujan turun dengan derasnya. Saat pelangi terbentuk sempurna semuanya selesai. Elis tak akan pernah kembali.
    ***
    Krak.
    Lagi-lagi spatula kayunya patah. Meskipun usianya baru 17 tahun, Elis adalah ilmuwan yang jenius. Ia dilibatkan di berbagai proyek penelitian. Pemegang hak paten atas enzim insulin serta beberapa bidang kesehatan. Entah apa yang sedang dikerjakan oleh Elis di laboratorium itu. Beberapa kali dia tampak was-was. Nampaknya dia takut kalau darah yang disimpan di refrigrator mulai menyusut.
    Di laboratorium ini sesama ilmuwan tidak ada yang tahu apa latar belakang ilmuwan lain. Dari mana asalnya. Siapa orang tuanya. Semua dirahasiakan. Termasuk Elis. Tidak ada yang tahu siapa orang tua yang telah melahirkan anak sejenius dia. Saat para ilmuwan diberikan jatah libur dua hari setiap tahunnya, Elis pulang paling akhir dan tiba di laboratorium paling awal. Tidak ada yang tahu di mana alamat rumahnya. Dan tidak ada yang berniat tahu pula.
    “Elis!”
    Prak. Tabung reaksi yang dipegangnya jatuh, pecah. Membuat darah yang ada di dalamnya berhamburan mengotori lantai. Tanpa mencari tahu siapa biang keladinya, Claudia langsung meminta maaf.
    “Tidak apa, nanti bisa aku ulangi lagi.”
    “Hehe, kau dipanggil Prof. Buchle.”
    “10 menit lagi aku ke sana.”
    Claudia juga salah satu ilmuwan yang cukup muda. Usianya 19 tahun. Claudia adalah sahabat baik Elis di laboratorium ini. Dia  tahu segalanya tentang Elis. Semuanya kecuali penelitian yang sedang dikerjakan Elis. Itu sebabnya dia menolak tawaran Claudia untuk membereskan pecahan tabung reaksi itu.
    “Elis, sepertinya kau benar, ada yang menarik dari planet ini, meskipun suhunya turun drastis saat malam, tapi planet ini mampu menghasilkan hujan. Kau teliti apa senyawa yang terkandung dalam air hujannya.”
    “Baik, Prof!”
    Elis keluar dari ruangan Profesor Buchle dengan mata berbinar. Dua hari lalu dia mengirimkan hasil analisisnya ke email Profesor Buchle. Hal itu lah yang membuat Profesor Buchle memanggilnya. Tentu bukan karena penemuannya mendapat apresiasi dari Profesor Buchle. Lebih dari itu. Lebih dari sebuah misi menemukan cara bagaimana mencegah kepunahan itu.
    Berhari-hari Elis mengerjakan tugas dari Profesor Buchle dan penelitiannya tentang darah. Tepat hari ke delapan analisinya sempurna. Kesimpulan yang gila dan jauh dari nalar manusia. Bukan tentang dilatasi waktu. Ini tentang dimensi yang seringkali diabaikan oleh manusia. Dimensi yang hidup di alam bawah sadar manusia itu sendiri. Dan di sana kita bisa menahan manusia hingga bumi selesai berevolusi.  
    ***
    Pukul sembilan lewat sepuluh menit. Claudia menatap cemas Arya. Semua ini sungguh diluar dugaannya. Elis memilih melupakannya. Elis memilih melupakan semua kenangan tentang Arya. Dan saat Arya mulai menyadarinya, semua sudah terlambat.
    Sebentar lagi, pintu ajaib itu resmi mengirim Elis ke dimensi lain. Elis tidak akan pernah kembali. Saat Arya mengetahui bahwa penelitian yang Elis kerjakan adalah untuk mengubah DNA cickle cell anemia menjadi DNA sel darah normal. Thalasemia. Dua belas tahun lalu ibunya meninggal karena itu. Dan sejak saat itu dia harus berpisah dengan adiknya. Iya adiknya. Lisa Deyna. Yang selama ini dikenal dengan nama Elis. Ilmuwan jenius yang usianya dua tahun dibawahnya. Namun semua terlambat, Elis sudah memutuskan bahwa dia yang akan pergi ke dimensi itu. Baginya, penemuan ini lebih dari sekedar menyelamatkan kepunahan manusia. Tapi juga menyelamatkannya dari kenangan buruk. Bahwa dia harus ditinggal kedua orang tuanya. Bahwa dia harus berpisah dengan kakaknya. Dan kenyataan bahwa dia adalah penderita cickle cell anemia.  
    ***
    Di ruangan itu hanya ada Elis dan Proesor Buhcle. Ruangan ini tertutup untuk siapapun.
    “Elis, untuk yang terakhir kalinya, apa kau benar siap dikirim ke dimensi itu?”
    Elis mengangguk.
    “Aku mengenalmu sejak kau kecil. Aku juga tahu pasti alasanmu mengambil keputusan ini. Nak, tidak kah kau ingin berdamai dengan semua cerita hidupmu? Kau mungkin tidak menemukan kakak mu, tapi kau memiliki Claudia, kau memiliki aku.”
    Elis menyeka air matanya. Dia tahu bahwa hidupnya dipenuhi hal-hal menakjubkan.
    “Elis, konfirmasi terakhir. Apakah kau benar akan pergi sendiri ke dimensi itu?”
    Elis mengangguk pelan.
    Profesor Buchle memencet tombol merah. Ruangan itu seketika memancarkan kilauan pendar warna pelangi. Seketika setelah tomobol merah kedua di tekan, [intu ajaib itu akan membawa Elis ke dimensi lain. Membawanya dan tidak akan kembali. Elis tidak pernah tahu bahwa Arya adalah kakaknya. Otak manusia memang tidak dirancang untuk melupakan kenangannya. Tapi kita boleh memilih kenangan mana yang akan dikenang. Dalam sepersekian detik, Elis akan segera menghilang dari bumi. Sebelum akhirnya, pandnagan Profesor Buchle kabur, redup, dan pet!



    Cerpen yang mengkhayal secara astronomi dan biologi, but nothing impossible :P
    Continue Reading
    Bil, kenapa tulisan-tulisanmu di blog tentang Dandelion?

    Karena aku suka bunga itu.

    Karena itu?

    Iya.

    Filosofinya?

    Aih, beberapa hari ini otakku sudah cukup bebal membahas berbagai hal yang fundamental, tentang tulisan-tulisanku juga harus aku sampaikan secara fundamental?

    Tentang apa tulisan itu?

    Tentang apa yang aku cintai.


    Kemudian dia typing lama sekali.....
    Then, offline tiba-tiba, k e b i a s a a n! :/


    Purwokerto, 14 Oktober 2015
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Hari ini belajar banyak tentang mengambil keputusan

    Pertama, setelah lama sekali merundingkan ini dengan Ulfi, finally, jilbab ...... siap launching. Masih nyari nama yang pas buat produk kita. Disela-sela bikin katalog jilbabnya juga sambil ngramein blog, biar ga berkarat, sekalian promosi, siapa tahu pembaca setia blog Catatan Einstein ada yang minat pesen. Tapi masih di persiapkan launchingnya, produknya juga masih kami batasi jilbab bergo dan segi empat. Kalau punya modal lebih semoga bisa nambah produk yah :3

    Lagi nyari model juga, kan ga lucu kalau aku yang jadi modelnya, ga siap sebenernya kalau mukaku harus dipampang di mana-mana :|

    Lagi suka wirausaha, setelah bisnis sarung tangan motor udah mulai punya reseller, ciyeee, sekarang belajar wirausaha yang lain. 9 dari 10 pintu rizki kan dari berdagang, Rasulullah saja berdagang ;)
    Be the next khadijah! Aamiin

    Buat ibu yang suka kepo di blog anaknya ini, bantuin dagang ya :D :*

    Jangan tanya ya kenapa ga wirausaha di bidang pangan, islam kan syumul, menyeluruh, belajar pangan belajar tentang elemen penting dari sebuah kehidupan, "you are what you eat"
    Jadi maaf, kalau ngobrol sama anak pangan agak ribet, jangan heran kalau aku makannya lama, setiap apa yang terjadi di makanan, mulai dari pengolahan dan penyerapan gizi di tubuh kami pelajari, salah satu aplikasinya ya saat kita makan :D

    Kedua, tempat PKL! Kemarin bingung belum ada tempat PKL sama sekali, giliran ada 3 tempat yang siap bingung juga. BPPT, aaaaaaa, pingin banget! Udaah ngidam dari kapan tau, belum lagi pembimbingnya profesor, siapa yang ga mupeng coba .-.
    Tapi Bogasari gimana? Udah fix loh, senin tinggal kirim surat .-.
    Takasago si ga terlalu prefer, perusahaan multi internasional padahal, cuma gimana, ga ada feel

    Ketiga, bismillah, memutuskan siap DM2! Udah daftar. Rrrrrr.... ga mau berangkat dengan otak kosong, udah baca beberapa buku, tapi kok ya masih belum ada apa-apanya ya otaku. Kata mba Mels si emang DM2 akan membuatmu merasa bodoh. Kemudian diam, merenung, dan kepalu, hiks, diperparah dengan bapak galon yang tiba-tiba ngetuk pintu kosan, lengkaplah kaki jadi korban, untuk kotak P3K di kamar udah lebih mirip apotik wijaya .-.

    Dan tetiba ada temen yang mau nikah minta bikinin desain undangan, heeh mikirin perasaan sini sih, #eh, gapapa iya aku bikinin desainnya, especially for you :3


    Udah malem, saatnya produktif!

    Purwokerto, 11 Oktober 2015
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Selamat pagi Purwokerto :)

    Eh sudah hari senin ya. Ah, gamais fair sudah selesai. Rasanya~ hmmm seperti ini.

    Sejak bulan mei mempersiapkan ini dan masih banyak sekali kekurangan di sana-sini. Tentang 70 panitia yang hanya tersisa 20, tentang 35 juta yang terpenuhi tidak ada 10 juta, dan tentang tentang lain yang cukup kita rasakan.

    "Kalian hebat!" Itu kalimat yang di pekikan para alumni. Bukan kita yang hebat, tapi kalian, kalian yang mencetak kami menjadi seperti ini.

    Ah gamais fair, akan sangat rindu ku rasa. Iya rindu. Rindu lantunan tilawah Al Qur'an saat menjaga stand. Rindu pekikan "Yang belum dhuha, dhuha dulu!". Rindu jarkoman "Nanti malem jangan lupa Qiyamul Lail ya!". Dan kerinduan lain yang membuat kita untuk selalu ingat pada-Nya. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

    Sudah menggunakan 33% jatah bolos di semua matkul dan 66% di beberapa matkul. Karya ilmiah disnat belum tersentuh lagi. Novel bahkan lupa di folder apa menyimpannya. Dan baru sadar kalau blog sudah berkarat, itu pun karena diingatkan beberapa pembaca. Ah, gamais fair.

    Kecewa, banyak. Air mata, hampir tiap saat tumpah. Tapi ada senyum-senyum yang menentramkan. Ada tangan yang menghapusnya kemudian mendekapku erat. Ah kalian. Lagi-lagi, tentang mereka aku berterima kasih pada-Mu Rabb :'

    Then?
    Are you ready for The 2nd Gamais Fair? ;)


    Purwokerto, 5 Oktober 2015
    Azifah Najwa


    Continue Reading


    Berulang aku mendegar, cinta itu fitrah, mencintai adalah pilihan. Dan betapa bodohnya aku memilih jatuh cinta. Ust. Salim A. Fillah dalam bukunya Jalan Cinta Para Pejuang pernah menjelaskan, saat jika kita diberi kesempatan untuk jatuh cinta pada siapa, harusnya kita tidak memilih untuk jatuh cinta pada siapa pun, karena cinta akan mengambil semua yang kita miliki. 

    Sedangkan aku? Memilih untuk jatuh cinta. Iya, aku memutuskan untuk jatuh cinta pada Gamais. Mencintai dengan sepenuh hati dan kesadaran penuh. Jangan tanya berapa kali aku merasa dikecewakan oleh keluarga ini. Bukankah cinta tumbuh karena kita pernah dikecewakan? Begitu sih kata saudara Liqoku. Dan aku mengiyakan. Aku pernah bertandang ke berbagai rumah, dan tinggal di sana, tapi rumahku di sini, di Gamais. 

    Ini tentang ukhuwah, ketika keluarga tak bisa kupandang, kehangatan mereka ada, kasih sayang mereka yang aku rasakan.

    Gamais organisasi, tapi bukan sekadar organisasi. Tentang ruhiyah yang diakrabkan iman. Awalnya tak percaya, jadi aku buktikan. Kita semua buktikan. Kita tak jarang bahkan sering kali merasa dikecewakan, tapi kita kembali ke rumah ini. Tak sedikit dari kita yang merasa pernah ditinggalkan, tapi nyatanya, kita, kami, mereka semua kembali ke rumah ini. 

    Gamais, bolehkan aku jatuh cinta berkali-kali padamu. Mencintai karena Allah. :')


    Purwokerto, 26 September 2015
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Kamu belum jadi pelupa selama kamu masih ingat bahwa kamu pelupa, dan tak segan serta malu menuliskan apa yang memang sekiranya penting.

    Dan mimpi-mimpi itu masih penting. Akan selalu penting. Ah, sudah di perjalanan pengelilingan matahari ke-20. Perjalanan pengelilingan dunia. Makkah. Jepang. Jerman. Umroh. Ah iya, harus di 20 tahun ini. Sudah berapa tabunganku? Allah Maha Kaya kok, iya Allah Maha Kaya.


    Malang, 13 September 2015
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Selamat dini hari Malang :)

    Bismillah
    Benar memang, terkadang kita memang harus mengambil jarak, agar kita tau, bahawa rindu dapat tumbuh tanpa pernah kita tanam.
    Iya, aku sedang rindu, dengan kedua orang tuaku, dengan Ulfi yang hendak olimpiade di Unair, dengan Bela yang baru saja lomba MTQ, dengan PPU, dengan Althofunnisa, dengan Raudhatul Jannah, dengan Gamais, dengan ilpus, dengan KAMMI, dengan ITP 13, dengan Purwokerto, lebih lagi denganmu. Ah, kalian, tentangnya aku tak pernah ingin berhenti mengucap syukur.

    Boleh aku mengulang cerita kemarin. Aku baru saja mendapat juara 2 LKTIN UB, dengan standar KTI yang cukup tinggi, diantara top ten university, ah, kalian tahu bagaimana berkecamuknya perasaanku saat satu per satu peserta dari berbagai universitas datang? Itu sebabnya dua hari di Malang aku lebih banyak diam. Ini bukan kali pertama, bahkan beberapa tim adalah rivalku di final-final LKTI yang lalu-lalu, jadi aku tidak heran jika mba Nurul berkali-kali menyatakan kegugupannya.

    Aku masih ingat. Dua bulan lalu saat mempersiapkan KTI ini mas Tri bilang "Bil, nyari temen satu lagi, kalau lolos biar ada temennya kamu".
    Dari sini aku mulai belajar, bahwa kita jangan pernah sekalipun main-main dengan apa yang kita kerjakan, saat keraguan menyelubungi perasaan kita sekalipun! Akhirnya, kita masukkan lah nama Mba Nurul.

    Tentang final kemarin, atmosfer presentasi beda sekali dengan final LKTIku yang lalu-lalu meskipun dari segi Juri, juri dari Unsoed aku akui kepiawaiannya, kritis. Oh ya, sudah pernah kuceritakan kan, aku sudah bersyukur lolos LKTI UB, jika belum juara aku akan menjadikan ini pelajaran berharga. Jadi jangan heran betapa tidak menyangkanya kami saat nama Universitas Jenderal Soedirman berada diantara top ten university. UB masih menduduki peringkat pertama, disusul Unsoed, dan UI diperingkat ketiga, serta ITB sebagai juara favorit. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

    Belum selesai sampai di sini perjuanganku. Masih ada kompetisi kepenulisan lain yang menanti untuk aku ikuti. Seleksi Mapres 2016. Dan lebih lagi PKM, tentang PIMNAS yang tak dirindukan, faghfirlana, beberapa kali lolos, tapi tidak ikut PIMNAS :')

    Tapi dari semua itu, yang penting adalah prosesnya :)



    Malang, 13 September 2015
    Azifah Najwa
    Continue Reading
    Older
    Stories

    About me


    Azifah Najwa. Penulis. Peneliti. N’s. Food scientist. an ISTP.

    Blog Archive

    • ▼  2021 (10)
      • ▼  November (1)
        • Jogja
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (5)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2020 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2019 (11)
      • ►  November (2)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Januari (5)
    • ►  2018 (109)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  April (13)
      • ►  Maret (31)
      • ►  Februari (28)
      • ►  Januari (32)
    • ►  2017 (115)
      • ►  Desember (13)
      • ►  November (11)
      • ►  Oktober (14)
      • ►  September (21)
      • ►  Agustus (14)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Juni (5)
      • ►  Mei (6)
      • ►  April (4)
      • ►  Maret (9)
      • ►  Februari (9)
      • ►  Januari (7)
    • ►  2016 (161)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (6)
      • ►  Oktober (12)
      • ►  September (25)
      • ►  Agustus (20)
      • ►  Juli (19)
      • ►  Juni (16)
      • ►  Mei (18)
      • ►  April (10)
      • ►  Maret (10)
      • ►  Februari (13)
      • ►  Januari (6)
    • ►  2015 (309)
      • ►  Desember (10)
      • ►  November (20)
      • ►  Oktober (27)
      • ►  September (24)
      • ►  Agustus (25)
      • ►  Juli (70)
      • ►  Juni (47)
      • ►  Mei (20)
      • ►  April (29)
      • ►  Maret (18)
      • ►  Februari (10)
      • ►  Januari (9)
    • ►  2014 (41)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (9)
      • ►  Oktober (10)
      • ►  September (15)
      • ►  Februari (1)
    • ►  2013 (2)
      • ►  Agustus (2)
    • ►  2012 (16)
      • ►  November (1)
      • ►  Oktober (3)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (3)
      • ►  April (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2011 (11)
      • ►  Desember (5)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (5)

    Total Tayangan Halaman

    Most View

    • Design Expert
      Ini salah satu aplikasi olah data yang akan aku gunakan untuk merancang dan menganalisis penelitian yang akan aku lakukan. Ada cerita y...
    • Lagi-lagi Tentang Gamais
      Jalan dakwah itu terjal, curam, dan sedikit yang mau melewatinya. Gamais adalah tentang cinta. Dan cinta bagiku adalah selalu tentang m...
    • Lebih Berani
      Malam ini kau boleh mengeluh sejadinya, tapi berjanjilah esok hari kau harus lebih berani menghadapi. Bukan untuk sesiapa, pada akhirny...
    • Wisuda
      Hari ini wisuda ya? Berharap setahun apa dua tahun lagi diberi seikat bunga dari orang terkasih Aku gamau ngasih bunga, useless Yaaaa...
    • Cerita Selepas SSC
      Di temani hujan kota satria, sedang membereskan kepingan hati dan otak yang yaa katakanlah nyesek, tapi benar, mungkin aku terlalu berharap ...

    categories

    Catatan Cerita Dandelion Edelweis Food Scientist Idealisme KAMMI Keluarga Raudhatul Jannah Rentang Tunggu Rohis

    Followers

    facebook Google + instagram Twitter

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top