Just Note

Sejak aku jatuh cinta pada caramu membaca, sejak itu pula aku berjanji untuk tidak berhenti menulis

    • Home

    6. Kami adalah ilmuwan yang tajam analisisnya, pemuda yang kritis terhadap kebatilan, politisi yang piawai mengalahkan muslihat musuh dan yang piawai dalam memperjuangkan kepentingan umat, seorang pejuang di siang hari dan rahib di malam hari, pemimpin yang bermoral, teguh pada prinsip dan mampu mentransformasikan masyarakat, guru yang mampu memberikan kepahaman dan teladan, sahabat yang tulus dan penuh kasih sayang, relawan yang mampu memecahkan masalah sosial, warga yang ramah kepada masyarakatnya dan responsif terhadap masalah mereka, manajer yang efektif dan efisien, prajurit yang gagah berani dan pintar bersiasat, prajurit, diplomat yang terampil berdialog, piawai berwacana, luas pergaulannya, percaya diri yang tinggi, semangat yang berkobar tinggi.

    Baru saja pelantikan KAMMI, resmi mengemban amanah baru, Kepala Departemen Kajian Strategis, faghfirly ya Rabb...

    Saat semua terasa melelahkan, mari istirahat sebentar, melingkar sebentar. Sudah ramadhan ke 14, dan aku belum khatam, 1X pun. Semoga setoran Ar Rahman di liqo ini selesai. Bismillah...


    Purwokerto, 19 Juni 2016
    Azifah Najwa

    Continue Reading

    Aku mungkin bukan pejuang yang baik. Tak jarang kau akan melihat aku mengeluh ketika hanya tergelincir sedikit saja karena sepatuku yang licin. Atau kadang aku akan berhenti sejenak di bawah pohon untuk menghindari panasnya terik matahari. Tapi jangan khawatir, aku akan tetap berjalan.

    Mungkin aku terlihat sedang berjuang sendirian, terlihat kepayahan membawa bekal perjalanan, namun dalam hatiku Rabbku selalu kuingat-ingat, orang tuaku tak pernah absen aku minta do'a dan restu, dan ia juga tak pernah lupa mengingatkan semua mimpiku, agar aku tetap bertahan meneruskan perjuangan ini, tak peduli seberapa banyak lawanku, tak peduli seberapa jauh atau seberapa sulitnya.

    Pada suatu malam dari beribu malam perjalanan ini, aku mungkin akan membebaskan rindu hingga butir-butir air mata dapat terjatuh, namun jangan khawatir, kupastikan itu hanya satu dari beribu malam.

    Perjalanan ini tidak aku tempuh sendiri, sudah kubilang mungkin aku bukan pejuang yang paling baik, tapi perjuanganku adalah untuk orang-orang terbaik yang dalam hidupku.

    Di penghujung bulan Mei, saat deadline apply beasiswa tinggal 2 hari, dan dosen pembimbing baru bisa ditemui..
    Di penghujung bulan Mei saat resgistrasi fisik maba tinggal 2 hari dan sampai detik ini belum ada amunisi..
    Masih mencoba menganalisis, bagaimana seharusnya kader KAMMI mengejawantahkan paradigma Intelektual Profetik dan Politik Ekstraparlementer. Bagaimana seharusnya dua paradigma itu aku transformasikan menjadi program kerja departemen Kajian Strategis, ah tentang Kastrat, suatu waktu akan aku upload kisahku dengan departemen itu, akan aku upload bagaimana aku menjadi bagian dari Kastrat sejak terlahir di kampus ini hingga detik ini. Bagimana aku membibit hingga menyemai cinta dengannya. Tentang Kastrat.


    Jangan pernah lupa bersyukur ya, Bil ^^
    Pokoknya Hamasah

    LPPM, 29 Mei 2016
    Azifah Najwa
    Continue Reading


    Beradasarkan UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, kepala daerah (bupati, walikota, dan gubernur) dipilih langsung oleh rakyat. Sebelumnya kepala daerah dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Pemilihan kepala daerah oleh DPRD ternyata membawa kekecewaan masyarakat. Karena, pertama, politik oligarki yang dilakukan DPRD dalam memilih kepala daerah, di mana kepentingan partai, bahkan kepentingan segelintir elite partai, kerap memanipulasi kepentingan masyarakat luas. Kedua, mekanisme pemilihan kepala daerah cenderung menciptakan ketergantungan kepala daerah terhadap DPRD. Dampaknya, kepala-kepala daerah lebih bertanggungjawab kepada DPRD daripada kepada masyarakat. Dampak lebih lanjutnya adalah kolusi dan money politics, khususnya pada proses pemilihan kepala daerah, antara calon dengan anggota DPRD.

    Kondisi ini yang setidaknya medasari adanya pilkada secara langsung yang mulai diadakan pada 2005 lalu. Dengan pemilihan kepala daerah secara langsung, rakyat berpartisipasi langsung menentukan pemimpin daerah. Melalui pemilihan secara langsung, kepala daerah harus bertanggungjawab langsung kepada rakyat. Pilkada langsung lebih accountable, karena rakyat tidak harus ‘menitipkan’ suara melalui DPRD tetapi dapat menentukan pilihan berdasarkan kriteria yang jelas dan transparan.

    Salah satu daerah yang akan melaksankan pilkada di tahun 2015 ini adalah kabupaten Kebumen. Kabupaten Kebumen secara administratif terdiri dari 26 kecamatan dengan luas wilayah sebesar 128.111,50 hektar atau 1.281,115 km², dengan kondisi beberapa wilayah merupakan daerah pantai dan perbukitan, sedangkan sebagian besar merupakan dataran rendah.  Kabupaten Kebumen mempunyai daya tarik tersendiri bagi partai politik dan calon anggota dewan karena jumlah penduduknya yang cukup padat. Berdasarkan data KPUD (2015)  Jumlah DPT Pilbup Kebumen 2015 ialah 460 desa, 2.385 TPS, 541.450 laki-laki, 535.146 perempuan dan jumlah total 1.076.596.

    Tidak majunya bupati sebelumnya, Buyar Winarso dalam pilkada Kabupaten Kebumen membuat peta persaingan antar kandidat terlihat seimbang dalam perspektif positioning image bagi para pemilih. Pilkada yang akan dilaksanakan 9 Desember mendatang diikuti oleh 3 (tiga) pasang kandidat bupati dan wakil bupati, pasangan pertama: Bambang Widodo-Sunarto yang diusung PDIP-HANURA), pasangan kedua: Khayub Mohammad Lutfi-Akhmad Bahrun yang didukung oleh PKS, NASDEM dan GOLKAR, pasangan ketiga: M Yahya Fuad-KH Yazid Mahfudzyang diusung oleh PAN, GERINDRA, DEMOKRAT, PKB. Tingkat positioning tiap calon yang relatif sama (sebagai pendatang baru), mendorong para tim peramu strategi pemasaran politik tiap kandidat untuk merancangstrategi pemasaran yang efektifguna memenangkan persaingan di arena pilkada Kebumen.

    Salah satu kejutan dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2015 Kebumen yang akan digelar 9 Desember 2015 nanti adalah munculnya pasangan calon (paslon) yang merepresentasikan NU dan Muhammadiyah, dua ormas Islam terbesar baik dalam skala nasional maupun skala lokal Kebumen. Mohammad Yahya Fuad, pengusaha yang merupakan Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gombong diusung menjadi calon bupati berpasangan dengan calon wakil bupati KH Yazid Mahfudz, Pengasuh Pesantren Al Huda dan sekaligus pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Kebumen. Paslon ini diusung koalisi Gerindra-PKB-PAN-Demokrat dan didukung juga oleh PPP.

    Daya tarik paslon yang mendapatkan nomor urut 2 ini bukan hanya latar belakang paslon saja, melainkan juga dilihat dari partai pengusung dan pendukungnya yang merupakan gabungan partai berbasis massa Islam (PKB, PAN dan PPP) dan partai nasionalis (Partai Gerindra dan Partai Demokrat). Meskipun dukungan PPP yang di tingkat DPP masih terpecah menjadi dua kubu tidak utuh, tapi dengan jumlah kursi DPRD paling sedikit dibanding partai pengusungnya, ketidak-utuhan PPP bukan persoalan yang serius bagi paslon ini. Partai berbasis massa Islam yang bergabung juga menarik. Tercatat hanya PKS, partai Islam yang memiliki kursi DPRD yang tidak ikut bergabung, karena sudah berkoalisi dengan Partai Nasdem dan Partai Golkar mengusung paslon Khayub M. Lutfi-Akhmad Bakhrun yang mendapat nomor urut 1.

    Berkoalisinya PAN dan PKB merupakan sesuatu yang baru. Secara nasional dalam Pilpres 2014 yang aroma pertarungannya masih terasa sampai sekarang, PAN dan PKB berbeda kubu. Semula muncul kecenderungan perseteruan Koalisi Merah Putih (KMP) tempat bergabungnya PAN dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) tempat bergabungnya PKB, hendak dilembagakan sampai daerah. Meskipun kemudian ternyata tidak, bahkan PAN sekarang berubah haluan menjadi partai pendukung pemerintah. Bukan hanya PAN dan PKB yang selama ini belum pernah berkoalisi di Kebumen, di tingkat grass root NU dan Muhammadiyah masih agak susah untuk akur. Sehingga kalau momentum pilkada bisa membuat akur pendukung kedua ormas Islam tersebut tentu akan mempengaruhi posisi umat Islam dalam percaturan politik di Kebumen.

    Arus Berlawanan

    Meski tak ada partai yang dapat mengusung paslon sendiri, PDIP dengan percaya diri membuka pendaftaran bakal calon bupati dan wakil bupati pada 10 s.d 20 Januari 2015 silam. Padahal ketika itu masih belum ada kejelasan pilkada dilakukan secara langsung atau dipilih DPRD. “Keangkuhan” partai pemenang Pemilu 2014 ini seperti memicu harga diri politisi partai lainnya. Puncaknya pada 27 April 2015 dideklarasikanlah Koalisi Kebumen Beriman (KKB) yang beranggotakan Partai Gerindra, PAN, PKB, Partai Golkar, Partai Nasdem,  PPP dan PKS. Dengan hanya menyisakan Partai Demokrat dan Partai Hanura, jelas situasi ini mengancam posisi PDIP yang tampaknya tak bergeming untuk melanjutkan proses penentuan paslon yang akan diusungnya.

    Dalam KKB ini, rupanya ada dua arus yang berlawanan. Di satu sisi ada Khayub M Lutfi yang dari awal memang sudah mendeklarasikan diri untuk maju dalam pilkada, sehingga meski tidak yakin akan mendapat rekomendasi dari DPP PDIP tetap ikut mendaftar sebagai bakal calon bupati, sambil terus menggalang dukungan partai-partai lain. Di sisi lain, wacana koalisi kultural “NU-Muhammadiyah” bergulir baik melalui media sosial (medsos) maupun di lingkungan elite politik Kebumen.

    Karena tidak ada titik temu, akhirnya KKB pun terpecah menjadi dua koalisi berbeda karena mengusung dua paslon yang berbeda. Partai Nasdem, Partai Golkar dan PKS mengusung Khayub-Bahrun, sedangkan Partai Gerindra, PKB, PAN, PPP ditambah Partai Demokrat mengusung Fuad-Yazid. Sementara PDIP yang memberikan rekomendasi kepada paslon Bambang Widodo-Sunarto, hanya “kebagian” Partai Hanura untuk menjadi mitra koalisinya.

    Militansi Politik

    Seiring kembali ditetapkannya pilkada langsung, tidak jadi melalui DPRD, majunya tiga paslon dalam pilkada Kebumen menjanjikan kompetisi yang menarik, karena jumlah partai pengusung dan kursi DPRD yang dimiliki tak selalu berbanding lurus dengan raihan suara dalam pilkada. Semangat elite NU dan Muhammadiyah untuk membangun koalisi kultural yang didukung koalisi partai pengusung paslon Fuad-Yazid diuji dengan keberadaan paslon Khayub-Bakhrun yang juga didukung sebagian pengurus dan massa NU.

    Kegagalan KKB mengusung satu paslon saja menggagalkan pertarungan politisi dari kaum santri yang didukung nasionalis berhadapan secara head to head dengan politisi dari kaum abangan sebagai representasi koalisi PDIP dan Partai Hanura. Kemenangan yang tadinya seperti sudah hadir di depan mata untuk sementara sirna. Sebab bukan tidak mungkin paslon nomor 3 Bambang-Sunarto yang diusung PDIP dan Partai Hanura bisa mengambil keuntungan politik dari situasi ini. Di sinilah militansi politik kaum santri diuji di Kebumen.

    Repotnya belum apa-apa perang jargon antara paslon nomor 1 dan nomor 2 sudah terjadi di tingkat grass root. Pendukung paslon nomor 1 melempar jargon, “Masa NU kok mau dipimpin Muhammadiyah?” Masa NU pendukung paslon nomor 2 yang semula sedikit terpojok dengan jargon tersebut, akhirnya balik memunculkan jargon balasan, “Daripada NU dipimpin PKS?”

    Di tingkat masa NU fanatik memang masih agak susah untuk membangun interaksi positif dengan Muhammadiyah dan PKS. Padahal pembeda sebenarnya adalah praktek dan pemahaman ajaran Islam yang masih bersifat khilafiyah, bukan dalam persoalan yang pokok serta tidak ada kaitannya dengan manajemen pemerintahan daerah. Namun karena kepentingan politis sesuatu yang tidak berhubungan bisa dianggap sangat berpengaruh.

    Semestinya kalau pendukung paslon nomor 1 dan nomor 2 sama-sama hendak merepresentasikan politik kaum santri, baik NU, Muhammadiyah maupun PKS, tidak perlu saling menyerang.Justru sebaliknya memperluas pengaruhnya ke kalangan non santri (untuk menyebut kalangan yang tidak mau disebut abangan tapi juga segan kalau mendapat sebutan santri), termasuk dalam hal ini kelompok minoritas non muslim dan tionghoa agar mereka nyaman dan bisa menerima peran kaum santri dalam menjalankan roda Pemerintah Kabupaten Kebumen.

    Karena itu momentum Pilkada 2015 bisa digunakan untuk menakar sejauh mana militansi kaum santri di Kebumen, ketika upaya persatuan umat secara formal sebenarnya sudah diwujudkan namun belum membawa hasil maksimal. Apakah masih ada pikiran di kalangan sesama kaum santri ketika berkompetisi, lebih baik sama-sama gagal daripada kaum santri kelompok lain yang berhasil, atau masing-masing kelompok segera tahu diri sehingga sama-sama melakukan ekspansi politik kepada kalangan non santri. Jika kemungkinan pertama yang terjadi, jelas paslon nomor 3 yang diuntungkan dan bisa menghemat energi. Tapi ketika alternatif kedua yang berjalan, paslon nomor 3 bakal kewalahan, karena seperti dikeroyok pendukung paslon nomor 1 dan nomor 2. Tidak kurang sebulan sebelum hari H pemilihan, berbagai kemungkinan masih bisa terjadi, termasuk relevan tidaknya memilah kelompok santri dan non santri atau abangan dalam percaturan politik lokal Kebumen.







    Sumber:
    http://kpu.kebumenkab.go.id/
    http://www.radarbanyumas.co.id/parpol-di-kebumen-bentuk-2-kubu-koalisi/
    Koran Kebumen Ekspress
    Jurnal Poelitik Vol. 1 No. 1 2008. Lili Romli.


    Sebagai salah satu syarat mengikuti DM2 Sleman
    Continue Reading


    Tekad
    ~Izzatul Islam~

    Kami sadari jalan ini kan penuh onak dan duri 
    Aral menghadang dan kedzaliman yang kan kami hadapi 
    Kami relakan jua serahkan dengan tekad di hati 
    Jasad ini , darah ini sepenuh ridho Ilahi 

    Kami adalah panah-panah terbujur 
    Yang siap dilepaskan dari busur
    Tuju sasaran , siapapun pemanahnya 

    Kami adalah pedang-pedang terhunus 
    Yang siap terayun menebas musuh 
    Tiada peduli siapapun pemegangnya 

    Asalkan ikhlas di hati tuk hanya Ridho Ilahi 

    Kami adalah tombak-tombak berjajar 
    Yang siap dilontarkan dan menghujam 
    Menembus dada lantakkan keangkuhan 

    Kami adalah butir-butir peluru 
    Yang siap ditembakkan dan melaju 
    Mengoyak dan menumbang kezaliman 

    Asalkan ikhlas di hati tuk jumpa wajah Ilahi Rabbi

    Kami adalah mata pena yang tajam 
    Yang siap menuliskan kebenaran 
    Tanpa ragu ungkapkan keadilan 

    Kami pisau belati yang selalu tajam 
    Bak kesabaran yang tak pernah akan padam 
    Tuk arungi da'wah ini , jalan panjang 

    Asalkan ikhlas dihati menuju jannah Ilahi Rabbi


    Sejak lima hari ini saya sering kali bergumam sendiri menyanyikan lagu ini. Ah, tiba-tiba rindu lagi padahal baru saja sampai kosan. Biasanya jam segini masih di ruang diskusi. Biasanya jam segini beberapa akhwat udah mulai mencari posisi untuk tidur. Biasanya jam segini aroma kopi semakin kuat. Biasanya jam segini moderator mulai tidak tahu lagi bagaimana mengendalikan alur diskusi. Kemudian Mba Tila meminta semuanya untuk berhenti diskusi. Karena sudah malam. Sudah ngantuk. Tapi tidak ada yang menggubris. Mba Vina, Mba Oki, Yayak sudah tidak bersuara, ah ternyata mereka sudah terlelap tak sengaja. Maka tinggalah aku, Gita, Mba Aisah, Tyo, Surya, dan Mas Yasin. Sesekali sambil menahan kantuknya Khoirul dan Faza ikut dalam pusara diskusi. Dan tiba-tiba Brigadir Izuddin Al Qassam meneriakkan takbir dengan lantang. Yang kuucap malah istighfar, karena aku kaget. Namanya sungguhan Brigadir Izuddin Al Qasam, dikirim langsung dari bumi para syuhada, hehe kalau yang ini saya bercanda.

    Ah kalian, hanya 67 manusia absurd ini yang tahu ada rekayasa sosial apa dibalik pendirian Indomaret di Sleman, hanya kami juga yang tahu apa korelasi Istighfar dengan kepekaan sosial, iya hanya kami. Yang tidur setiap pukul 3 pagi, menjadi pejuang di malam hari dan rahib di siang hari, ah iya, siang hari kami menjadi rahib yang sangat khusyuk, tau maksudnya? :D

    Ah iya, maafkan kami, yang saat apel pembukaan tidak hafal lagu Mars KAMMI, yang kami ingat hanya "berjuaaang..." itu saja, terus menerus, sampai panitia menanyakan, kalian memperjuangkan apa? xD

    Jadi, ini acara apa?

    DM 2 KAMMI, Bung!

    Salam muslim negarawan!


    Purwokerto, 23 November 2015
    Nabila Faradina Iskandar
    Continue Reading

    Mengikuti DM 2, artinya antum siap menghibahkan diri untuk ummat. -Ketum KAMDA Sleman-

    Tiba-tiba saya ingat QS At Taubah ayat 22

    Malam kedua DM 2, sisa-sisa debu saat jalan 7 km kemarin siang masih menempel di kaki, ditambah bending yang entah berapa puluh kali, membuat pegal, ingin terlelap tapi tetiba ingat bagaimana persiapan pemira, sampai mana LPJ tahsin, untuk grand final sekolah mapres sudah sejauh apa, ah Rabb, kemudian diingatkan, bahwa binaanku juga harus aku penuhi haknya..

    Ah, baru saja aku merasa belum ingin pulang. Betah di sini. Bersama mereka, berdiskusi, bukan debat kusir, bertukar pikiran, bukan menjatuhkan. Sejak pukul 5 sore tadi dan baru selesai 10 menit lalu.. Asyik kan? Siapa yang ga betah coba?

    ah tapi aku sudah rindu... :'(


    Sleman, 20 November 2015
    Azifah Najwa

    Sebenarnya seperti ini  ̄﹏ ̄ tapi harus selalu tampak seperti ini ヽ(^。^)ノ
    Continue Reading

    Kan melangkah kaki dengan pasti
    Menerobos segala onak duri
    Generasi baru yang telah dinanti
    Tak takut dicaci tak gentar mati

    Shoutul Harokah
    Gelombang Keadilan


    Saat aku berfikir aku tengah menjadi manusia paling keras kepala di dunia, pinjem kata-katanya Ibroh, "ane pingin nyebur laut rasanya". Ya Rabb, maafkan hamba yang belum mumtaz menjalani ujian-Mu.

    Ditengah heroiknya mempersipakan DM2, musang Gamais, dan Pemira. Isu Jokowi tak lagi menarik Mba Mels, lebih asyik kajian Quo Vadis Gerakan, -yang makalahnya entah kapan aku selesaikan :D-

    Mengapa aku harus DM2?
    Mengapa aku nekat daftar DM2 waktu itu?
    Dengan kondisi seperti sekarang? Otak yang kosong dan ruhiyah yang amburadul?

    "Kamu sedang mencari pembelaan kalau kamu ga harus berangkat DM kan, Bil?," Stroberi mengingatkan

    "Eh, bukan begitu."

    "Lalu apa? Mba Dina, Mba Hanifah, Mba Meli saja bilang, berangkat saja! Kamu akan selalu merasa otakmu kosong entah kamu akan berangkat DM 2 kapan!"

    "DM2 hanya perangkat pembinaan. Apakah 5 hari ditambah proses DM2 akan metransformasi  cara berpikir seseorang? Tentu tidak bisa digeneralisir!"


    Bermalam-malam aku berpikir. Apa yang membuat kata DM2 begitu ditakuti? Olehku dan beberapa kader AB 1 KAMMI? Bedanya dengan DK 2? Bedanya dengan DK 3? 


    "Kamu akan menemukan suasana diskusi yang berbeda, Bil," Mba Meli mecoba mengiming-ngimiku. 


    Sedikit demi sedikit konflik batin mulai terpecahkan, meski bukan terselesaikan. Baiklah aku menyerah. Tentu bukan karena iming-iming diskusi yang memang berbeda. Setidaknya jika tidak bisa mengisi gelas-gelas yang lain, gelas yang aku bawa akan terisi. Egois sekali ya? Juga bukan mutlak karena alasan aku harus DM2 sebelum menjadi mapres #eh
    Biarlah Allah yang menjaga alasanku.


    Dan kegelisahan adalah bentuk kekecewaan dan kepedulian. Di titik ini aku kembali memikirkan, ke mana Gamais akan dibawa? Akankah menjadi lembaga dakwah tanpa dakwah atau hanya lembaga dakwah dinamis tanpa ruh dan militansi.... ?


    Purwokerto, 23 Oktober 2015
    Nabila Faradina Iskandar

    Calon peserta DM 2 Sleman
    Continue Reading
    Ospek; Riwayatmu Kini
    Nabila Faradina Iskandar


    Ospek atau yang oleh Kemenristek Dikti disebut sebagai Program Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) dalam surat edaran yang dikeluarkan langsung oleh kemenristek dikti disebutkan bahwa penanggung jawab kegiatan PKKMB adalah pimpinan perguruan tinggi, bukan mahasiswa. Hal ini membuat mahasiswa berang, saya yakin, untuk sebagian besar Fakultas telah menyiapkan agenda penyambuatan maba sejak jauh-jauh hari dan akan berdampak apabila agenda ini dibatalkan.

    Pada kondisi ini mahasiswa dituntut untuk berpikir kritis dan kreatif. Selain harus bisa meyakinkan pihak pimpinan PT, mahasiswa juga harus menyiapkan konsep yang jelas dan matang baik secara alur, tujuan, maupun follow upnya.

    Tidak salah jika pemerintah mengeluarkan kebijakan tersebut, jatuhnya korban atau kegiatan yang mengarah kepada perploncoan serta pembodohan yang dikemas dalam agenda yang sering kita sebut masa orientasi sudah saatnya kita tinjau ulang, terutama dari segi pengemasannya.

    Pembacaan secara global terhadap kondisi calon mahasiswa baru sangat perlu dilakukan. Pembacaan ini akan menghasilkan hipotesis; mahasiswa seperti apa yang nantinya akan menjadi objek agenda kita dan berimbas kepada pengemasan yang seperti apa yang harus kita bawakan, misal apakah masih relevan ospek kita bawakan dengan mengusung tema bertajuk kebangsaan sedangkan maba justru alergi dengan tema itu. Atau apakah masih relevan ospek kita bawakan dengan masih membudayakan senioritas yang justru hanya akan memperbanyak jumlah kaum intelektual yang hanya bisa takut kepada penguasa. Karena nantinya, cara mengemas kita akan memberikan andil besar terhadap keberhasilan goal setting, saya yakin para pegiat organisasi faham benar terkait hal ini.

    Pembacaan ini perlu dilakukan agar kita tidak salah membaca zaman. Jangan-jangan kita mengaung-gaungkan diri sebagai agent of change namun ketika di masyarakat keberadaan kita justru tidak di butuhkan. Kita menyatakan diri sebagai kaum intelektual tapi metode yang kita gunakan justru tidak mencerdaskan.

    Apakah mungkin, dalam waktu tiga hari dapat mentransformasi cara berpikir seseorang? Membentuk mental seseorang? Tentu tidak bisa digeneralisir!!



    Nabila Faradina Iskandar
    Departemen Kajian Strategis KAMMI Komisariat Soedirman
    Departemen Kajian Strategis Ikatan Mahasiswa Muslim Pertanian Indonesia

    Continue Reading
    Saya baru saja meminjam buku Rekayasa Sosial karangan Jalaludin Rakhmat.

    FYI, agak susah mendapatkan buku ini karena sudah tidak diterbitkan lagi. Saya sudah cari di beberapa toko buku, bahkan di tempat loakan, tapi tidak ketemu juga barang sebiji.

    FYI lagi, menurut teman yang meminjamkan buku itu, si penulis (biasa dipanggil Kang Jalal) adalah seorang Syi'ah. Isi bukunya pun tidak sedikit membicarakan Iran. Meski tidak tidak secara gamblang mempropagandakan Syi'ah, tapi di beberapa tulisan memang cukup terlihat bagaimana penulis memiliki kesan spesial terhadap Syi'ah.

    Meaki baru membaca beberapa lembar, saya sendiri mengagumi Kang Jalal dalam berargumen dan menyampaikan gagasannya dalam buku tersebut. Begitu lugas dan simpel. Logika yang dipakai pun sangat bagus. Salah satu contohnya adalah ketika beliau menjelaskan tentang kesalahan berpikir yang sering terjadi, dia menulis seperti ini:

    "Pernah seseorang mengatakan bahwa orang-orang Islam itu jorok. Buktinya, Indonesia yang mayoritas muslim, orang-orangnya jorok. Orang itu lalu menyimpulkan bahwa Muslim di mana pun jorok. Sebaliknya, orang-orang Nasrani itu bersih dan rapi. Buktinya, orang-orang Nasrani di negara Barat umumnya bersih dan rapi."

    "Untuk menolak asumsi yang salah itu, kita dapat dengan mudah mengambil contoh yang sebaliknya, dan menggeneralisasikannya seperti Pak Profesor Doktor tadi. Mungkin dia akan terkejut. Umpamanya, ketika dia mengatakan orang Nasrani itu bersih, saya katakan saja bahwa orang Nasrani di Filipina itu jorok. Orang Nasrani di Brazil itu jorok. Orang Nasrani di Argentina itu jorok. Kesimpulannya: orang Nasrani jorok-jorok."

    "Orang Islam di Inggris itu bersih. Orang Islam di Amerika itu bersih dan orang Islam di negara-negara Barat lain pada umumnya juga bersih-bersih. Dengan demikian, kesimpulannya orang Islam itu bersih dan orang Nasrani itu jorok."

    Begitu mendapatkan buku ini, bagian yang langsung menarik mata saya untuk membaca lebih adalah tentang "Teori Revolusi", begitu baca itu kalau kata anak muda zaman sekarang, "materinya, gue banget."

    Oke, saya sampaikan sedikit materinya di sini, khususnya bagian Teori Revolusi: Mazhab Psikologi.

    Menurut mazhab Psikologi, revolusi terjadi karena tiga kondisi deprivasi: pertama, deprivasi aspirasional. Deprivasi jenis ini terjadi ketika kapabilitas pemerintah tidak mampu mengimbangi ekspektasi rakyat. Rakyat ingin sekolah gratis, tapi pemerintah tidak mampu mewujudkannya. Rakyat ingin makan tiga kali sehari, tapi ternyata mereka hanya bisa makan sekali tiga hari. Keadaan seperti ini akan membuat rakyat frustrasi. Bila frustrasi itu meluas, rakyat meledakkan kekecewaan mereka dalam berbagai kerusuhan. Terjadilah revolutions of rising expectations.

    Kedua, deprivasi dekremental, deprivasi karena penurunan. Kondisi itu terjadi ketika value expectgtions tetap, tapi value capacities turun dengan drastis. Harapan dan ekspektasi rakyat sebenarnya tetap (stabil), tapi karena tiba-tiba terjadi krisis moneter, korupsi yang melumpuhkan ekonomi rakyat, pemerintah yang otoriter, dsb, kemampuan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan rakyat menjadi turun drastis. Revolusi yang terjadi karena hal ini disebut dengan revolutions of with-drawn benefits, revolusi karena kehilangan keuntungan.

    Ketiga, deprivasi progresif. Misalnya, satu bangsa melakukan pembangunan nasiona. Selama periode tertentu, aspirasi naik sama cepatnya dengan kenaikan pemenuhan aspirasi itu. Aspirasi dan pencapaian berkembang bersama-sama. Pada satu titik, pencapaian dihambat atau bahkan diturunkan (karena bencana alam, perang, kehancuran ekonomi). Jarak antara value expectations dengan value capacities makin lama makin jauh. Terjadilah revolutions of frustrated progress.

    Kesimpulannya, jika anda ingin menimbulkan revolusi, lakukanlah hal-hal berikut: (1) tingkatkan aspirasi rakyat sehingga tidak lagi dapat dicapai oleh mereka, (2) turunkan pencapaian rakyat, atau (3) kembangkan aspirasi dan pencapaian bersama, tetapi kemudian pada satu titik, turunkan pencapaian dan aspirasi kita naikkan.


    UPT Perpustakaan, 3 Agustus 2015
    Azifah Najwa

    #DM2
    Continue Reading


    Waktu: pukul 22.20 WIB
    Backsound: Indonesia Memanggil
    Udara: Dingin

    Menghabiskan semua itu selama liburan ini, sungguh tidak ada malam yang lebih menyenangkan selain ditemani mereka x.x



    Purwokerto, 2 Agustus 2015
    Azifah Najwa

    #DM2


    Continue Reading
    Kalau Mba Mels, Mba Dina, baca ini, kayaknya mereka bakal....... fix, siap diberangkatkan DM2 kapan pun -kalau prosesnya juga udah beres :p-

    Ketampar banget waktu reread chat BM sama mba chatrin  "Nduk, DM2 hanya salah satu perangkat pembinaan saja". Benar memang, apakah mungkin, hanya dalam waktu 3-5 hari -belum termasuk proses- DM2 mampu mentransformasi cara berpikir seseorang? Tentu tidak bisa digeneralisir.

    Ingin membuktikan pesan terakhir Mba Yulia dan Akh Nungky -sebelum mereka berdua meninggalkan kastrat- bahwa sense of belonging KAMMI bisa didapat di DM2

    Jadi keinget kastrat kan, hiks
    Mba Yulia meninggalkan 3 akhwat tangguh kastrat 3 orang diri, hiks

    Bismillah, ga kabur-kaburan proses lagi, insya Allah

    Mahasiswa itu kurang pengalaman, itulah yang menyebabkan creative minority tersebut tidak pernah menawarkan masa lalu. Tapi menawarkan masa depan!! (Sumber lupa)


    Kebumen, 17 Juli 2015
    Nabila Faradina Iskandar
    Continue Reading
    Older
    Stories

    About me


    Azifah Najwa. Penulis. Peneliti. N’s. Food scientist. an ISTP.

    Blog Archive

    • ▼  2021 (10)
      • ▼  November (1)
        • Jogja
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (5)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2020 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2019 (11)
      • ►  November (2)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Januari (5)
    • ►  2018 (109)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  April (13)
      • ►  Maret (31)
      • ►  Februari (28)
      • ►  Januari (32)
    • ►  2017 (115)
      • ►  Desember (13)
      • ►  November (11)
      • ►  Oktober (14)
      • ►  September (21)
      • ►  Agustus (14)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Juni (5)
      • ►  Mei (6)
      • ►  April (4)
      • ►  Maret (9)
      • ►  Februari (9)
      • ►  Januari (7)
    • ►  2016 (161)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (6)
      • ►  Oktober (12)
      • ►  September (25)
      • ►  Agustus (20)
      • ►  Juli (19)
      • ►  Juni (16)
      • ►  Mei (18)
      • ►  April (10)
      • ►  Maret (10)
      • ►  Februari (13)
      • ►  Januari (6)
    • ►  2015 (309)
      • ►  Desember (10)
      • ►  November (20)
      • ►  Oktober (27)
      • ►  September (24)
      • ►  Agustus (25)
      • ►  Juli (70)
      • ►  Juni (47)
      • ►  Mei (20)
      • ►  April (29)
      • ►  Maret (18)
      • ►  Februari (10)
      • ►  Januari (9)
    • ►  2014 (41)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (9)
      • ►  Oktober (10)
      • ►  September (15)
      • ►  Februari (1)
    • ►  2013 (2)
      • ►  Agustus (2)
    • ►  2012 (16)
      • ►  November (1)
      • ►  Oktober (3)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (3)
      • ►  April (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2011 (11)
      • ►  Desember (5)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (5)

    Total Tayangan Halaman

    Most View

    • Design Expert
      Ini salah satu aplikasi olah data yang akan aku gunakan untuk merancang dan menganalisis penelitian yang akan aku lakukan. Ada cerita y...
    • Lagi-lagi Tentang Gamais
      Jalan dakwah itu terjal, curam, dan sedikit yang mau melewatinya. Gamais adalah tentang cinta. Dan cinta bagiku adalah selalu tentang m...
    • Lebih Berani
      Malam ini kau boleh mengeluh sejadinya, tapi berjanjilah esok hari kau harus lebih berani menghadapi. Bukan untuk sesiapa, pada akhirny...
    • Wisuda
      Hari ini wisuda ya? Berharap setahun apa dua tahun lagi diberi seikat bunga dari orang terkasih Aku gamau ngasih bunga, useless Yaaaa...
    • Cerita Selepas SSC
      Di temani hujan kota satria, sedang membereskan kepingan hati dan otak yang yaa katakanlah nyesek, tapi benar, mungkin aku terlalu berharap ...

    categories

    Catatan Cerita Dandelion Edelweis Food Scientist Idealisme KAMMI Keluarga Raudhatul Jannah Rentang Tunggu Rohis

    Followers

    facebook Google + instagram Twitter

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top