Just Note

Sejak aku jatuh cinta pada caramu membaca, sejak itu pula aku berjanji untuk tidak berhenti menulis

    • Home

    Sebentar lagi kita akan menikah. 
    Pulang ke rumah yang sama setiap harinya. 
    Saling menatap untuk menetap.
    Saling mengisi untuk berhenti mencari.
    Kamu tahu? Ada bahagia sekaligus haru

    Bila nanti kamu temui kurangku, kamu temui sisi lainku.
    Bolehkah tetap memelukku seperti ini?
    Sebab, pada kurangmu aku pun akan begitu
    Memeluknya dengan senyumanku.

    Mari buat kesepakatan
    Jangan menyerah jika ada yang salah
    Kita benahi dan tetap bertahan
    Kamu setuju kan?



    Stasiun Cirebon, 19 Februari 2020
    Azifah Najwa
     
    Continue Reading

    Saling bercerita adalah cara digdaya untuk memelihara cinta

    Berbahasa kata dalam tatap mata adalah cara untuk tetap waras di tengah rutinitas yang keras
    🍵


    Yogyakarta, 19 November 2019
    Azifah Najwa 
    Continue Reading


    Belum pernah aku merasa seberuntung ini
    Menjadi seseorang hanya karena dicintai seseorang
    Kini, setelah aku memilikinya, bahagia seperti lahir dalam bentuk-bentuk sederhana

    Bersamamu, aku tidak ingin tinggal sebagai pendampingmu saja

    Lebih dari itu

    Aku ingin menjadi teman tumbuh yang baik, untuk apa pun mimpi-mimpi di masa depanmu nanti

    Dan ingin rasanya aku berteriak

    Tuhan, untuk hal ini, kumohon, jangan mintakan kembali

    Biarkan aku saja yang menjaga dirinya, dan aku akan berhati-hati




    Azifah Najwa
    Yogyakarta, 10 November 2019
    Continue Reading

    Pagi itu aku memutuskan menyampaikan semuanya. Menyampaikan apa yang aku dan ia telah diskusikan selama ini. Setelah menyiapkan semuanya. Ia, menyiapkan semuanya. Memastikan jika setelah keputusan itu kubuat, aku sudah siap lepas dari ketergantunganku dengan orang tua, terutama finansial. Memastikan jika setelah keputusan itu kubuat, apa yang akan terjadi, sepenuhnya menjadi tanggungjawabku, tidak akan menyalahkan orang lain, pun tidak bergantung pada orang lain. 

    Berat? Tentu. Takut? Barang pasti. Ragu? Aku akui ada. Bagaimana dengan deretan impianku yang masih begitu panjang. Bagaimana dengan baktiku pada mereka yang aku rasa belum pernah aku membalasnya. Bagaimana aku kelak menjadi orang tua. Dan deretan bagaimana bagaimana yang lain yang terus berkelindan. Percayalah ini tak mudah untuk seorang aku.

    Tak pernah terbayang sebelumnya, aku utarakan pada orang tuaku siapa laki-laki yang aku cintai, laki-laki yang aku harapkan menemaniku menghabiskan sisa hidupku. 

    Lalu setelahnya atmosfer rumah rasanya berubah. Entah apa yang terjadi aku sungguh tidak tahu, yang jelas belum ada jawaban terlontar dari ibuku, selain rentetan pertanyaan standar yang layaknya orang tua ajukan.


    Maka, disisa ramadhan yang tinggal menghitung hari ini, izinkan aku memohon kepadaMu, ya Rabb...mudahkan atau buat lah aku mengikhlaskan...




    Rumah, 23 Mei 2019
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Hari ini kami bertemu setelah hampir 3 minggu lamanya tidak berjumpa, pun setelah seminggu terakhir aku memilih mengambil jarak darinya. Kenapa? Yaa, namanya juga prempuan, mau bilang rindu harus dibikin masalah dulu~

    Lalu obrolan ini kamu buka dengan pertanyaan, "Puasa ya ke rumah?"

    Aku berpikir sejenak. Puasa. Oh oke, otaku mencoba mencernanya, kurang lebih 1 minggu lagi, lalu muncullah berderet kenyataan, aku yang masih suka berulah -seperti lima tahun sebelumnya-, dan ia yang selalu dewasa -selama lima tahun lamanya-, aku yang masih memikirkan diriku sendiri, dan ia yang -selalu- rela mengorbankan impian-impiannya.

    ***

    Belum ingin menikah. Tidak terlalu yakin dengan kalimat itu, tapi juga tidak sepenuhnya salah. Bisa kau bayangkan, bagaimana saat satu per satu teman terdekatmu menikah -meskipun pada kenyataannya aku tak benar-benar memiliki teman dekat-, bagaimana rasanya ketika orang tuamu mulai menanyakan itu berkali-kali, dan yang kau lakukan hanyalah menghindar, mungkin bagian ini yang paling menyakitkan, lalu bersembunya di balik alasan, menikah bukan lomba lari. Meskipun pernyataan itu benar, sangat benar.


    "Tahun ini ya..."


    Tahun ini. 
    Continue Reading

    Jika caraku untuk memberitahunya bahwa aku mencintainya adalah dengan mengatakannya, menulis tentangnya, menyatakan kekagumanku padanya, juga menyampaikan apa yang tidak aku suka, maka caranya lain, yang hingga detik ini aku juga tidak pernah tahu bagaimana cara yang ia lakukan untuk meyakinkanku bahwa ia adalah orang yang aku cari. 

    Iya aku tidak tahu, aku tidak tahu apakah bahasa cintanya dengan memberikan waktu terbaiknya, apakah bahasa cintanya dengan mengajakku mengenal dunianya, tahu apa film kesukaannya, tahu apa makanan kesukaannya, apakah bahasa cintanya dengan memastikan aku merasa aman dengannya, merasa nyaman bersamanya, bebas mengekspresikan semuanya.

    Ia tak pandai merangkai kalimat cinta, aku tahu. Tak akan mau memberiku bunga. Tidak jua memahami bagaimana penelitian membuatku jatuh cinta.

    Karenanya, sejak mengenalnya lima tahun lalu, aku juga tidak berharap ia seperti orang-orang pada umumnya, membawakanku bunga, mengirim pesan cinta, dan sebagainya. Mungkin begitu caranya melatihku agar tidak bergantung padanya, yang pasti itu bukan keahliannya.

    Hingga siang tadi, saat lelah benar-benar tiada tertahankan, dan aku yang aku butuhkan hanya tidur sebentar. Tepat sebelum terlelap aku bilang, "Duluan aja, nanti kalau udah setengah jam aku nyusul". Maksudku benar-benar aku baik-baik saja tidur di mushola sendiri, toh aku terbiasa tidur di mushola-mushola stasiun selama ini, belum lagi cuaca yang panas siang tadi, sedangkan aku tahu AC adalah tujuannya ke toko buku ini. Aku tidak masalah ditinggal, aku akan baik-baik saja.

    Lalu aku terlelap dengan nyenyaknya, entahlah berapa lama, yang jelas aku tidur sangat nyenyak. Hingga saat mushola mulai sesak aku terbangun, dan terkejut melihatnya menungguku. Iya, aku benar-benar terkejut. 

    Ah ternyata selama ini aku abai, begitu banyak bahasa cintanya yang tak pernah aku menyadarinya.


    Surakarta, 3 April 2019
    Azifah Najwa
    Continue Reading


    Bagaimana jika kita sudahi saja?

    Bukankah kau masih ingin memanjakan egomu, sedang aku sebaliknya
    Bagaimana jika nyatanya selama ini aku tidak menemukan apa yang aku cari
    Bagaimana jika nyatanya aku menyesal pernah punya kesempatan untuk pergi tapi memilih tinggal

    Bagaimana jika aku merasa berjuang seorang diri, pura-pura meyakinkan diri sendiri bahwa aku bahagia, meski nyatanya aku selalu merasa hampa

    Bagaimana jika aku sungguh ingin menyudahi semua ini?
    Bagaimana jika jujur aku katakan, bahagiaku bukan lagi tentang kamu


    Bogor, 19 Oktober 2018
    Azifah Najwa
    Continue Reading


    Kurang lebih dua bulan aku vakum dari urusan per scholarship-an. Memilih menepi sejenak dengan dalih menikmati hidup tanpa beban pikiran. Membantunya mencari pekerjaan, menyiapkan segala berkas-berkas keperluannya, apply satu demi satu perusahaan, menyiapkan segala keperluan interviewnya. Bahkan setelah sesibuk itu, nyatanya aku semakin memikirkannya.

    Tapi aku takut, meski aku tau dia pasti mengizinkan. Bahkan dia merelakan pekerjaannya demi aku bisa melanjutkan S2. Lalu apalagi yang aku ingin dia korbankan, untuk mengikuti keinginanku S2 di luar negeri, haruskah ia mengorbankan pekerjaannya? Mengorbankan keluarganya?

    Aku takut, takut menjadi bebannya, takut menghambatnya.


    Bogor, 2 September 2018
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Aku tahu, dibalik senyummu yang berhasil mengelabuhi semua orang
    Ada resah yang sedang kau pendam
    Ada gelisah yang berhasil kau kubur dalam-dalam

    Kadang kau perlu meletakkan sebentar masalah yang kau genggam erat-erat

    Sejenak mengalihkan perhatian

    Kau perlu ingat,
    Bahwa ada aku yang tak rela kau menanggung beban sendirian




    Kebumen, 19 Agustus 2018
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Kita ini lucu, seperti dua ekor merpati yang sama sama kehilangan satu sayapnya. Melihat merpati lain terbang dengan sempurna; kita merasa cemburu. Lalu kita saling menemukan. Sayap kita memang tidak tumbuh. Tapi sesuatu yang lebih baik tumbuh; kebahagiaan. Sejenak kita merasa kembali memiliki jiwa yang utuh. Seiring usia berkurang, kita pun menjadi pikun soal arti kekosongan. Seiring waktu memendek, harapan-harapan kita soal hidup justru bertambah panjang.


    Bogor, 5 Agustus 2018
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Sebab aku terlalu mengenalmu
    Terlampau paham apa maumu
    Terlanjur mengerti dengan inginmu
    Dan yang aku tahu,
    Di dalamnya tidak pernah ada aku


    Bogor, 27 Juni 2018
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Menurutmu aku harus bagaimana?

    Memilih mengambil jarak kau malah menjauh
    Bersikeras tapi kecewa yang aku dapat

    Apa aku sudah tak berharga lagi bagimu?



    Bogor, 28 April 2018
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Terima kasih, skripsi, setidaknya kau membuatku sedikit dibutuhkannya

    Karena perihal pekerjaannya aku tak pernah tahu bagaimana lebih lagi diajak bercerita
    Karena pekerjaan dan hobiku sungguh tidak menarik untuknya



    Bogor, 24 April 2018
    Azifah Najwa
    Continue Reading


    Membiarkanmu yang semaunya sendiri adalah cara yang paling baik untuk membalasnya


    Bogor, 11 April 2018
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Entahlah, mungkin aku hanya terlalu egois, memintamu menyelesaikannya segera yang nampaknya bukan prioritasmu.


    Bogor, 10 April 2018
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Senja, dari jarak ribuan kepak sayap, aku rindu.


    Bogor, 3 April 2018
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Sekali lagi kita berhasil melewati badai
    Tapi ada yang berbeda kali ini
    Banyak kata yang menghilang
    Seperti ada canggung yang tak terbendung
    Entah badai ini
    Semakin menguatkan kita
    Atau justru
    Malah melemahkan



    Bogor, 2 April 2018
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Purwokerto
    Kebumen
    Bogor

    Ke mana sebenarnya aku menyebut pulang
    Entahlah
    Hanya mengikuti di mana kau berada,
    di situ aku menyebutnya rumah


    Bogor, 1 April 2018
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Jika ada yang tidak ingin aku lakukan pagi ini, itu adalah tidur. Lelah memang, tapi terbayar begitu melihatnya. Berkali-kali memandangi wajahnya, yang biasanya hanya bisa aku lakukan pada foto. Aku suka melihatnya tertidur. Ia tampan, sungguh. Dari wajahnya aku bisa melihat jika hidup yang ia lewati tak mudah. Aku bisa melihat betapa ia dewasa oleh masalah. Sambil terus berpikir, bagaimana dulu aku memutuskan jatuh cinta padanya, memutuskan melanjutkan hidup dengannya. 

    Ah, maafkan, sering membebanimu, sering memintamu ini-itu, menuntutmu begini-begitu...


    Purwokerto, 31 Maret 2018
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Dulu aku terbiasa sendiri. Menjadi mandiri adalah keahlianku. Hingga kau tiba dan meruntuhkan keangkuhanku.

    Ah bagaimana bisa aku merasa payah saat membutuhkanmu


    Bogor, 30 Maret 2018
    Azifah Najwa
    Continue Reading
    Older
    Stories

    About me


    Azifah Najwa. Penulis. Peneliti. N’s. Food scientist. an ISTP.

    Blog Archive

    • ▼  2021 (10)
      • ▼  November (1)
        • Jogja
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (5)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2020 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2019 (11)
      • ►  November (2)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Januari (5)
    • ►  2018 (109)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  April (13)
      • ►  Maret (31)
      • ►  Februari (28)
      • ►  Januari (32)
    • ►  2017 (115)
      • ►  Desember (13)
      • ►  November (11)
      • ►  Oktober (14)
      • ►  September (21)
      • ►  Agustus (14)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Juni (5)
      • ►  Mei (6)
      • ►  April (4)
      • ►  Maret (9)
      • ►  Februari (9)
      • ►  Januari (7)
    • ►  2016 (161)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (6)
      • ►  Oktober (12)
      • ►  September (25)
      • ►  Agustus (20)
      • ►  Juli (19)
      • ►  Juni (16)
      • ►  Mei (18)
      • ►  April (10)
      • ►  Maret (10)
      • ►  Februari (13)
      • ►  Januari (6)
    • ►  2015 (309)
      • ►  Desember (10)
      • ►  November (20)
      • ►  Oktober (27)
      • ►  September (24)
      • ►  Agustus (25)
      • ►  Juli (70)
      • ►  Juni (47)
      • ►  Mei (20)
      • ►  April (29)
      • ►  Maret (18)
      • ►  Februari (10)
      • ►  Januari (9)
    • ►  2014 (41)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (9)
      • ►  Oktober (10)
      • ►  September (15)
      • ►  Februari (1)
    • ►  2013 (2)
      • ►  Agustus (2)
    • ►  2012 (16)
      • ►  November (1)
      • ►  Oktober (3)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (3)
      • ►  April (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2011 (11)
      • ►  Desember (5)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (5)

    Total Tayangan Halaman

    Most View

    • Design Expert
      Ini salah satu aplikasi olah data yang akan aku gunakan untuk merancang dan menganalisis penelitian yang akan aku lakukan. Ada cerita y...
    • Bagian Terbaik
      Salah satu bagian terbaik dari caramu mencintaiku adalah saat kau selalu berusaha menjagaku, memastikan bahwa aku tiba di rumah tepat w...
    • Student Exchange
      Nabila lagi student exchange on fire! Jangan diganggu yaa, pokoknya kali ini harus lolos! Hashtagnya lagi refreshing, empet ngurusin orga...
    • Lagi-lagi Tentang Gamais
      Jalan dakwah itu terjal, curam, dan sedikit yang mau melewatinya. Gamais adalah tentang cinta. Dan cinta bagiku adalah selalu tentang m...
    • Lebih Berani
      Malam ini kau boleh mengeluh sejadinya, tapi berjanjilah esok hari kau harus lebih berani menghadapi. Bukan untuk sesiapa, pada akhirny...

    categories

    Catatan Cerita Dandelion Edelweis Food Scientist Idealisme KAMMI Keluarga Raudhatul Jannah Rentang Tunggu Rohis

    Followers

    facebook Google + instagram Twitter

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top