Just Note

Sejak aku jatuh cinta pada caramu membaca, sejak itu pula aku berjanji untuk tidak berhenti menulis

    • Home

    Hari di mana kita belum saling mengenal. Jauh sebelum hari itu. Sebelum mengenalnya. Ia yang dulu sering kau sebut-sebut dalam tulisanmu. Bahwa sebelum hari itu, ia bukanlah siapa-siapa.

    Bukankah begitu? 

    Ia yang kau anggap istimewa itu sebelumnya adalah orang asing bagimu. Mungkin sesekali kalian pernah bertemu. Entah di mana, entah kapan. Jauh sebelum engkau saling kenal. Lalu, bagaimana harimu saat itu? Tanpanya kau tetap ceria bukan? Tak ada dirinya kau bisa tertawa. Bahkan ada suatu masa di mana ketika dekat dengannya, kau merasa tak nyaman.

    Kemudian, saat ia memilih pergi, apa yang masih istimewa darinya?

    Iya, dia kembali menjadi orang asing seperti saat kami belum saling kenal. Ah, tapi sayangnya otak kita tidak dirancang demikian. Otak manusia tidak dirancang untuk melupakan kenangan.




    Maka, saat hari ini tiba. Aku ingin mengajakmu memahami ini. Memahami bahwa otak manusia tidak dirancang untuk melupakan kenangan. Tapi, kita masih bisa memilih kenangan mana yang akan dikenang.

    Kau lebih bijak aku rasa, berhentilah mengajak kami untuk mengenangnya. Masing-masing otak kami tengah memilih kenangannya masing-masing. Kenangan dengan orang baru, yang dulu sama asingnya. 

    Kisah sebenarnya kita adalah teman satu kelas. Hanya itu. :)

    Kuharap kau membacanya


    Jakarta, 8 Februari 2016
    Azifah Najwa



    Yg duduk satu bangku disebelahku :)
    Continue Reading

    Maka malam tadi aku belajar satu hal. Bahwa ketakutan bisa dirasakan karena ditularkan. Takut dengan film horor kemudian saat harus bermalam di pos renungan mulai menceritakan bayangan-bayangan tentang hantu gentayangan, tentang bulu kuduk yang tetiba berdiri. Takut dengan berbagai rentetan ketakutan yang bisa jadi karena kita ciptakan. Karena kita tularkan. Karena kita tak mau sendirian.

    Karenanya, tak semua cerita perlu kita percaya, tak perlu kita dengarkan. Untuk banyak kesempatan kita hanya perlu merenung, meminta diyakinkan oleh-Nya, dan melanjutkan perjalanan tanpa perlu banyak bertanya.

    Karena pada akhirnya, tak ada manusia yang benar-benar mencintai kesendirian, aku pun.


    Purwokerto, 20 September 2015
    Azifah Najwa
    Continue Reading
    Pada waktu saat kita saling melepaskan, ada hati yang patah namun ter-di-abaikan.

    Kemudian mungkin kita sama-sama merenungi, siapakah yang paling bersalah dalam kisah ini. Tapi pada saat seperti ini, itu semua tidak penting lagi. Kita hanya butuh menyembuhkan luka pada saat ini, hanya butuh mengumpulkan kekuatan untuk berdiri lagi -di atas kaki masing-masing-

    Pada waktu kita saling melepaskan, ada mimpi-mimpi yang menunggu ceritanya, apakah menjadi nyata atau ia hanya bunga tidur malam ini. Namun kita mengabaikannya, karena hari ini kita benar-benar merelakan semuanya. Tentang terjadi atau tidak, kita sama-sama enggan memutuskan, bahkan enggan tau.

    Pada saat kita saling melepaskan, ada doa-doa yang menguntai menuju langit. Entah siapa yang lebih banyak mendoakan yang lainnya, yang selalu kita sebut adalah semoga Tuhan memberikan hati seluas-luasnya tentang apa yang akan terjadi esok hari, agar kita sama-sama dikuatkan.

    Pada saat kita saling melepaskan, ada hati yang enggan melepaskan namun mengalah demi kecintaannya, tak ingin menjadi penyebab kesedihannya. Tak terhitung berapa kali ia berpikir tentang bagaimana memperbaiki semuanya, menjadikan semuanya baik kembali, namun semuanya hampir tak sama seperti kemarin, ia bingung.

    Melepaskan mungkin adalah satu-satunya jalan yang bisa kita lalui saat ini, namun diujung sana semoga Tuhan satukan kita pada tujuan yang sama. Lalu kita sama-sama tau kemana seharusnya pulang. Tujuan yang sama akan mempersatukan orang-orang dalam perjalanan kan?

    Smansa 13.
    Setiap kali pulang, membuka album kenangan adalah agenda yang tak boleh terlewatkan. Sebenarnya bisa saja membawanya ikut serta ke Purwokerto. Tapi tidak, Purwokerto tidak bisa menyajikan nuansa magis seperti di sini, di Kebumen, di SMANSA.

    Jangan minta aku untuk menuliskan bagaimana kisahnya, karena sampai kapan pun ceritanya tak akan pernah usai.
    Kita pernah sama-sama bersaing untuk masuk ke sekolah itu dan kita juga pernah bersama-sama mengusahakan untuk keluar dari sana.

    Rasanya baru kemarin kita sama-sama mengikuti 5 tahap tes demi mendapatkan sebuah kursi di sana, menyisihkan 600 peserta lain, kelas X, XI, XII kemudian sama-sama berjuang untuk keluar dari sana. Aku pernah menaruh hati pada sebuah tempat di sana. Aku pernah menitipkan hatiku di sana. Ada banyak perjumpaan-perjumpaan kecil tak sengaja di sana. Banyak canda yang masih menggantung di langit smansa. Banyak cerita yang masih direkam kaca-kaca jendela. Tentang mereka yang sering juara. Tentang mereka yang suka tidur di kelas. Tentang mereka. Ada banyak manusia unik di smansa. Ada banyak peristiwa tak terlupakan di smansa. Jika kau lupa, yang lain akan mengingatkannya. Dan tadi, aku baru saja diingatkan, kalau kemarin aku pernah dikeluarkan dari kelas.


    Smansa, 21 Juli 2015
    Nabila Faradina Iskandar

    Terima kasih untuk hari ini :')
    Selamat kembali ke Solo, Jogja, Bandung, Depok, Semarang, Surabaya, Malang, Jakarta, atau kalian yang tetap di Kebumen, menjaga cerita kita.
    Mari menata rindu lagi :)
    Continue Reading
    Temui aku dalam imajinasimu.
    Pada kesempatan tanpa skenario.


    Edelweis, 19 Juli 2015
    Azifah Najwa

    Sampai bertemu di pelaminan -entah aku atau kau dulu- :p
    Continue Reading
    Bagiku, mengenang adalah kebahagiaan pertama dan
    memutar ulang kenangan adalah kebahagiaan kedua.

    Sebab itu aku suka menulis,
    sebab itu kubuat ia menjadi rentetan aksara yang bisa aku baca kapan saja,
    yang bisa aku kenang kapan pun aku mau.

    Karena mungkin sebagian kebahagiaan tidak bisa diulang.
     Karena aku tidak bisa menghentikan 
    waktu.

    Jadi jangan salahkan aku,
    jika banyak tersirat namamu di setiap tulisan-tulisanku,
    karena aku memang sengaja membuatnya beku,
    karena itu caraku mengenangmu



    Resonansi Rindu, 4 Juli 2015
    Azifah Najwa
    Continue Reading
    "Teruslah menulis 
    karena dari tulisanmu aku bisa membaca apa yang aku rasakan 
    tapi tak pernah bisa aku uraikan"


    N73, 31 Agustus 2011
    Azifah Najwa

    Sebuah pesan yang hingga saat ini menjadi alasan untuk tetap menulis
    sebuah pesan yang kutemakan tanpa kontak
    beruntung, kontak di handphone itu hilang tiba-tiba
     jadi sampai kapanpun, pesan itu tetap dari sebuah kontak tanpa nama :)
    Continue Reading
    Pernah suatu ketika aku dan teman-temanku melakukan sebuah perjalanan yang cukup jauh, menempuh waktu yang lama dan membutuhkan tenaga yang ekstra, les SBMPTN :)

    Menjadi manusia-manusia yang "tercampakkan" oleh makhluk tak berwujud bernama SNMPTN, membuat kami merasa satu nasib tapi tetap tidak satu penanggungan, les setiap hari mulai dari langit diluar yang tadinya terang benderang menjadi gelap tak berawan, tak jarang akhirnya tak pulang karena ketinggalan kendaraan. Aiiiiih, betapa manisnya SBMPTN itu.

    Di satu kesempatan les, kami, calon mahasiswa -yang entah kapan akan menjadi mahasiswa- berceloteh tentang masa depan, katakanlah pendamping hidup, ehem.

    Kepada temanku yang baru saja kami beri predikat jomblo aku berseloroh
    "Eh, kenapa kalian harus udahan si? Kalian jadian udah dari zaman kapan coba?"

    "Iya, dukungan masyarakat pun penuh kepada kalian," timpal yang lain

    "Aku hanya tidak mencari yang seperti itu"

    "What??"

    "Dia kurang apa coba?"

    "Dia pernah salah?"

    "Dia tidak punya kekuarangan apa-apa, bahkan saat aku diminta menyebutkan apa kesalahannya, aku tak tahu apa...."

    "(Lalu)...?" Pertanyaan itu menggantung di langit-langit ruang les ini

    "Aku tidak mencari yang seperti dia..."


    "Silakan dia memamerkan kecantikannya di publik, di media-media sosial, tapi aku tidak mencari yang seperti itu....

    Silakan dia menyalurkan bakat menyanyinya di publik, tapi aku tidak mencari yang seperti itu...

    Silakan dia sibuk berorganisasi, dia aktif di berbagai kegiatan, tapi aku tidak mencari yang seperti itu"

    "Eh maksudnya kamu tidak sepakat kalau perempuan aktif  berorganisasi??!" Aku segera menyergahnya, takut saja kalau kau juga berpikiran seperti itu.

    "Tidak, aku tidak pernah tidak sepakat siapa saja aktif berorganisasi, tapi aku tidak mencari yang demikian...."


    Lalu?

    "Kau mencari yang tidak aktif karena kau sudah aktif? Sehingga bisa saling melengkapi kah"

    Dia hanya tersenyum dan pergi

    Aku tidak sampai berpikir apa yang temanku tanyakan, yang aku ingin tahu, kau mencari yang seperti apa?




    Rentang Tunggu, 26 April 2013 | Azifah Najwa

    Catatan lama, ingin membuka saja gara-gara pertemuan tadi siang

    Continue Reading



    Kebumen, 24 Mei 2019

    Setiap kembali ke sekolah ini rasanya pasti lain. Selalu ada cerita yang ditawarkan oleh setiap bagian tempat ini. Mereka dulu seakan merekamnya dan memutarkannya kembali untukku suatu ketika setiap kali kembali ke tempat ini. Semuanya masih tervisualkan dengan jelas. Termasuk perjumpaan-perjumaan kecil yang tak sengaja itu. Ini ceritaku kemarin, baru saja kemarin. Di sini, bersama dia, mereka, dan kau. Kau. Ya, kau yang tiba-tiba tak berkabar semenjak kelulusan enam tahun lalu. Tepat enam tahun lalu, di sini, 24 Mei 2013. Dan kau yang sedari dulu –tadi- duduk tiga ubin disebelahku. Lima menit berlalu. Tigaratus detik kita habiskan dengan mulut yang saling terkunci. Dan entah mengapa kita masih nyaman di sini. Seperti ada kekuatan lain yang memaksa kita untuk tetap bungkam. Dan aku “selalu” nyaman dengan sikapmu itu. Dingin.

    Aku masih belum tahu apa yang mengantarkanmu ke sini. Aku kah? Sepuluh menit berlalu. Lima belas menit masih kau habiskan dengan tatapan yang tak aku fahami, sesekali kau membaca sesuatu dari handphonemu, tersenyum, dan kembali diam. Tepat di menit ke dua puluh satu tampak seseorang datang menghampirimu. Sebentar. Aku tak asing dengan wajah ini. Tubuh semampai, kurus, dengan gaya jalan yang khas. AZKA! Ya tak salah lagi, dia Azka. Dengan dua orang yang mengahmpirimu lagi juga sepertinya aku kenal. Ternyata tak banyak yang berubah dari mereka, Aziz masih dengan “gaya” khasnya, aku ingin tahu bagaimana sakit asmanya, sudah sembukah. Dan Adi yang selalu membuat kaget disetiap kedatangannya, dulu aku yang selalu menjadi korbannya.

    “Lan udah lama ya? Jam 9 kan janjiannya.”
    “Iya jam 9. Aku yang sengaja datang lebih awal kok. Yang lain mana?”
    “Ini bakal datang semua kan?” Adi menimpal.
    “Emang kamu masih ada kontak semuanya, Lan?” Azka mencoba merobohkan harapan Adi.
    “Kita lihat saja.” Benar-benar tak ada yang berubah. Kau tetap dengan caramu. Aku dulu menyebutnya, mudah pergi, easy going.

    Kedatangan mereka membuat suasana tak berubah. Kau masih diam. Meskipun sesekali mereka mengajakmu ngobrol, kau tak bergeming dari handphone jadulmu. Beberapa kali kau menimpal percakapan mereka. Entah apa yang kau baca. Tapi tak mengapa, dengan begini aku jadi leluasa mengamatimu. Menyapa bongkahan-bongkahan kenangan yang masih aku ingat. Kita pernah menikmati hujan yang menahan kita di sini. Hidrokarbon. Syair. Apa lagi ya? Yang jelas, ke sini lah jika aku hendak bercakap denganmu. sebentar, lebih tepatnya di sinilah sekarang aku menetap. Kau senang memandang langit, jadi aku kira kita bisa bercakap melalui langit. Baru sadar jika ternyata perjumpaan itu mahal sekali. Dalam satu dimenasi selama hampir 365 hari ternyata tidak sepadan dengan pertemuan yang tak akan hampir setengah hari ini. Dan masih sama dengan dua puluh dua menit yang lalu. Kau masih diam. Kau memang selalu begitu. Tapi aku tak pernah banyak protes. Seperti kau yang tak pernah protes saat aku jadikan tokoh utama dalam setiap cerita-ceritaku
    ***

    Aku selalu nyaman duduk di tempat ini. Menikmati hujan yang pernah menahan kita. Enam tahun bukan waktu yang sebentar. Semenjak kelulusan itu aku memang sengaja menjauh darimu. Tentu bukan tanpa alasan. Seperti kau yang tak pernah mengabarkan keadaanmu kepadaku. Tentu bukan tanpa alasan. Tapi aku tak pernah protes. Seperti kau yang tak pernah protes saat gagal aku bawakan edelweiss.

    Lipoma. Sebuah kata yang membuat dimensi kita berbeda. Aku memang tak pernah sekalipun berkabar denganmu. Tapi aku tak berarti buta kabar akanmu. Kau memang benar-benar tangguh. Diam dalam lipatan bahasa tanda tanyamu.
    ***
    Bersambung....


    -Sebuah novel yang tidak akan pernah usai-


    Continue Reading
    Older
    Stories

    About me


    Azifah Najwa. Penulis. Peneliti. N’s. Food scientist. an ISTP.

    Blog Archive

    • ▼  2021 (10)
      • ▼  November (1)
        • Jogja
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (5)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2020 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2019 (11)
      • ►  November (2)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Januari (5)
    • ►  2018 (109)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  April (13)
      • ►  Maret (31)
      • ►  Februari (28)
      • ►  Januari (32)
    • ►  2017 (115)
      • ►  Desember (13)
      • ►  November (11)
      • ►  Oktober (14)
      • ►  September (21)
      • ►  Agustus (14)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Juni (5)
      • ►  Mei (6)
      • ►  April (4)
      • ►  Maret (9)
      • ►  Februari (9)
      • ►  Januari (7)
    • ►  2016 (161)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (6)
      • ►  Oktober (12)
      • ►  September (25)
      • ►  Agustus (20)
      • ►  Juli (19)
      • ►  Juni (16)
      • ►  Mei (18)
      • ►  April (10)
      • ►  Maret (10)
      • ►  Februari (13)
      • ►  Januari (6)
    • ►  2015 (309)
      • ►  Desember (10)
      • ►  November (20)
      • ►  Oktober (27)
      • ►  September (24)
      • ►  Agustus (25)
      • ►  Juli (70)
      • ►  Juni (47)
      • ►  Mei (20)
      • ►  April (29)
      • ►  Maret (18)
      • ►  Februari (10)
      • ►  Januari (9)
    • ►  2014 (41)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (9)
      • ►  Oktober (10)
      • ►  September (15)
      • ►  Februari (1)
    • ►  2013 (2)
      • ►  Agustus (2)
    • ►  2012 (16)
      • ►  November (1)
      • ►  Oktober (3)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (3)
      • ►  April (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2011 (11)
      • ►  Desember (5)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (5)

    Total Tayangan Halaman

    Most View

    • Design Expert
      Ini salah satu aplikasi olah data yang akan aku gunakan untuk merancang dan menganalisis penelitian yang akan aku lakukan. Ada cerita y...
    • Lagi-lagi Tentang Gamais
      Jalan dakwah itu terjal, curam, dan sedikit yang mau melewatinya. Gamais adalah tentang cinta. Dan cinta bagiku adalah selalu tentang m...
    • Lebih Berani
      Malam ini kau boleh mengeluh sejadinya, tapi berjanjilah esok hari kau harus lebih berani menghadapi. Bukan untuk sesiapa, pada akhirny...
    • Wisuda
      Hari ini wisuda ya? Berharap setahun apa dua tahun lagi diberi seikat bunga dari orang terkasih Aku gamau ngasih bunga, useless Yaaaa...
    • Cerita Selepas SSC
      Di temani hujan kota satria, sedang membereskan kepingan hati dan otak yang yaa katakanlah nyesek, tapi benar, mungkin aku terlalu berharap ...

    categories

    Catatan Cerita Dandelion Edelweis Food Scientist Idealisme KAMMI Keluarga Raudhatul Jannah Rentang Tunggu Rohis

    Followers

    facebook Google + instagram Twitter

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top