Just Note

Sejak aku jatuh cinta pada caramu membaca, sejak itu pula aku berjanji untuk tidak berhenti menulis

    • Home

    Desember 2017. Penghujung tahun, di mana tidak sedikit mimpi-mimpi dan rencana yang telah disusun harus disusun ulang, tak mengapa, manusia hanya boleh berencana.

    Ada banyak hal terjadi di tahun ini. Menyelesaikan penelitian yang selama ini hanya angan-angan, lulus, publikasi jurnal ilmiah, 'mengubah' arah mata angin, dan juga gagal menikah, hahahaa. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan? 

    Ada beberapa pertanyaan sejak keputusan tidak -dulu- melanjutkan sekolah aku ambil, "Kenapa, Bil?","Kamu ga pantes kerja, sekolah aja", "Sayang ih kamu pinter, sekolah lagi aja sih", "Ganggu LPDP ga kerjanya?"

    Terima kasih, sungguh, kepada kalian yang selalu peduli, peduli pada mimpiku. Tapi aku ingin mencari sesuatu yang tidak akan saya dapatkan saat saya sekolah, yang tidak ada kuliahnya, yang tidak dapat di dapat dari membaca buku, pengalaman. Iya, pengalaman tidak ada sekolahnya, seperti yang Bu Ermin sampaikan.

    Apa yang telah saya dapatkan saat saya menjadi juara lomba-lomba pasti akan berbeda dengan saat saya menjadi quality control, apa yang telah saya dapatkan selama proses penelitian yang menguras kesabaran pasti akan sangat berbeda dengan saat saya menjadi seorang profesional. Karenanya saya sampaikan, pengalaman tidak ada sekolahnya.

    Saya ingin sekolah lagi, saya ingin menjadi dosen, yang tidak hanya membagikan ilmu tapi juga pengalaman, karenanya saya tengah mencari sebanyak-banyaknya pengalaman, saya ingin menjadi dosen, bukan karena ingin mendapatkan gaji yang lumayan tapi juga ingin memanfaatkan keilmuan, agar lebih bermanfaat, agar lebih berguna bagi masyarakat. Saya ingin menjadi dosen, hanya karena saya melihat, dosen adalah pekerjaan yang pas, dengan diri saya, juga keinginan untuk tetap dekat dengan anak-anak saya nantinya, menyiapkan bekal sekolahnya, mengajari dan menceritakan banyak hal. Saya ingin menjadi dosen, agar keilmuan saya bisa menjadi penolong untuk saya dan suami saya di akhirat kelak. Sesederhana itu.


    Dan selamanya mimpiku hanya seperti tangan yang menggenggam pasir, selamanya mencukupkanku. Selama itu pula aku bisa mengubah mimpiku kapan saja. Dan selama itu pula kau mengingatkan mimpi-mimpiku, terima kasih sayang...



    Purwokerto, 22 Desember 2017
    Azifah Najwa

    Continue Reading

    Bahwa ketetapannya tidak pernah salah memberi arti. 
    Hanya perlu waktu untuk memahamkan diri. 
    Jadi jangan cepat menghakimi, selalu berbaik sangkalah kepada-Nya.


    Purwokerto, 26 November 2017
    Azifah Najwa
    Continue Reading
    Para pemikir negeri yang saya hormati, 71 tahun lalu kemerdekaan negara ini dibangun dalam cita-cita yang agung. Paramaternya cukup jelas, termaktub dalam pembukaan Undang-undang Dasar tahun 1945 negara ini dibangun dengan tujuan untuk “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.” Perlu digaris bawahi bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa masuk dalam cita-cita bangsa. Namun, realitanya sekarang, pendidikan seolah hanya dapat dinikmati oleh mereka yang kaya. Sejak bergulirnya wacana kenaikan UKT (Uang Kuliah Tunggal) dan akan diberlakukannya kembali Uang Pangkal mengenyam pendidikan tingga seolah hanya akan menjadi angan-angan.

    Level UKT yang tadinya terdiri dari 7 level naik menjadi 8 level, kenaikan nominal UKT tiap levelnya pun terbilang cukup signifikan. Berdasarkan data yang didapat saat registrasi fisik SNMPTN (31/5) lalu, kenaikan nominal UKT antara level 2 ke level 3 pada setiap prodi cukup siginifikan yaitu kurang lebih 1,5 juta. Di Unsoed UKT mulai diberlakukan pada angkatan 2012, dari awal penerapan UKT hingga saat ini, UKT selalui menuai pro dan kontra. Setidaknya Dikti telah mengeluarkan surat edaran yang konon dijadikan dalih pemberlakuan UKT, yaitu Surat Edaran Dirjen Dikti No. 305/E/T/2012  tertanggal 21 Feb 2012 tentang Larangan Menaikkan Tarif Uang Kuliah, Surat Edaran Dirjen Dikti nomor 488/E/T/2012 tanggal 21 Maret 2012 tentang Tarif Uang Kuliah SPP di Perguruan Tinggi, Surat Edaran Dirjen Dikti 274/E/T/2012 bertanggal 16 Februari 2012 tentang Uang Kuliah Tunggal, Surat Edaran Dirjen Dikti No. 21/E/T/2012 tanggal 4 Januari 2012 tentang Uang Kuliah Tunggal. Terakhir, Dikti mengeluarkan Surat Edaran No. 97/E/KU/2013 tentang Uang Kuliah Tunggal yang berisi penghapusan uang pangkal bagi maba program S1 reguler mulai tahun akademik 2013/2014.

    UKT merupakan tarif uang kuliah yang mengintegrasikan tiga komponen pembayaran: SPMA, SPP, dan BOP. Besaran UKT ditentukan dengan menghitung unit cost mahasiswa dalam satu semester. Analisis unit cost memberi dasar formula untuk menghitung biaya pendidikan seorang mahasiswa selama mengikuti studi yang mencakup biaya langsung (biaya tenaga kerja langsung (gaji & honor dosen); bahan habis pakai pembelajaran; sarana dan prasarana pembelajaran langsung) dan biaya tidak langsung (biaya SDM manajerial dan non dosen, sarana dan prasarana non pembelajaran; pemeliharaan; serta kegiatan pengembangan institusi (penelitian, kemahasiswaan, dan pengembangan program) (Juanda & Lestari 2012, h. 228; Ditjen Dikti 2012). Besaran Unit Cost tersebut kemudian ditandingkan (matching) dengan subsidi pemerintah, sumbangan masyarakat, serta pendapatan lain-lain lembaga.

    Selain kenaikan level UKT, mahasiswa kini juga tengah diresahkan dengan wacana diberlakukannya kembali uang pangkal. Hal tersebut diperkuat sejak adanya SK Rektor Universitas Jenderal Soedirman Nomor: Kept.491/UN23/KM.02/2016 tentang uang pangkal bagi mahasiswa baru 2016. Pada poin ketiga memutuskan besaran uang pangkal ditentukan oleh orang tua calon mahasiswa baru secara sukarela.  Hal ini tentu disayangkan banyak pihak, selain bertentangan dengan Surat Edaran No. 97/E/KU/2013 tentang Uang Kuliah Tunggal pendidikan yang seharusnya dapat dinikmati oleh semua anak bangsa justru dikomersialkan. Padahal kita semua tahu bagaimana pentingnya sebuah pendidikan bagi kemajuan bangsa ini. Melalui pendidikan inilah bangsa Indonesia harus melahirkan generasi yang unggul. Generasi terdidik yang memiliki spesifikasi khusus dalam kemampuannya. Sehingga mampu membangkitkan berbagai sektor potensial Tanah Air. Maju atau mundurnya bangsa ini ke depan akan sangat bergantung pada generasi muda. Maka tumpuan utamanya adalah kepada kaum muda terdidik.



    Nabila Faradina Iskandar
    Menteri Agro Politik 
    BEM Kema Faperta Unsoed 2016
    Kabinet Harmoni Bersinergi




    Continue Reading


    Beradasarkan UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, kepala daerah (bupati, walikota, dan gubernur) dipilih langsung oleh rakyat. Sebelumnya kepala daerah dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Pemilihan kepala daerah oleh DPRD ternyata membawa kekecewaan masyarakat. Karena, pertama, politik oligarki yang dilakukan DPRD dalam memilih kepala daerah, di mana kepentingan partai, bahkan kepentingan segelintir elite partai, kerap memanipulasi kepentingan masyarakat luas. Kedua, mekanisme pemilihan kepala daerah cenderung menciptakan ketergantungan kepala daerah terhadap DPRD. Dampaknya, kepala-kepala daerah lebih bertanggungjawab kepada DPRD daripada kepada masyarakat. Dampak lebih lanjutnya adalah kolusi dan money politics, khususnya pada proses pemilihan kepala daerah, antara calon dengan anggota DPRD.

    Kondisi ini yang setidaknya medasari adanya pilkada secara langsung yang mulai diadakan pada 2005 lalu. Dengan pemilihan kepala daerah secara langsung, rakyat berpartisipasi langsung menentukan pemimpin daerah. Melalui pemilihan secara langsung, kepala daerah harus bertanggungjawab langsung kepada rakyat. Pilkada langsung lebih accountable, karena rakyat tidak harus ‘menitipkan’ suara melalui DPRD tetapi dapat menentukan pilihan berdasarkan kriteria yang jelas dan transparan.

    Salah satu daerah yang akan melaksankan pilkada di tahun 2015 ini adalah kabupaten Kebumen. Kabupaten Kebumen secara administratif terdiri dari 26 kecamatan dengan luas wilayah sebesar 128.111,50 hektar atau 1.281,115 km², dengan kondisi beberapa wilayah merupakan daerah pantai dan perbukitan, sedangkan sebagian besar merupakan dataran rendah.  Kabupaten Kebumen mempunyai daya tarik tersendiri bagi partai politik dan calon anggota dewan karena jumlah penduduknya yang cukup padat. Berdasarkan data KPUD (2015)  Jumlah DPT Pilbup Kebumen 2015 ialah 460 desa, 2.385 TPS, 541.450 laki-laki, 535.146 perempuan dan jumlah total 1.076.596.

    Tidak majunya bupati sebelumnya, Buyar Winarso dalam pilkada Kabupaten Kebumen membuat peta persaingan antar kandidat terlihat seimbang dalam perspektif positioning image bagi para pemilih. Pilkada yang akan dilaksanakan 9 Desember mendatang diikuti oleh 3 (tiga) pasang kandidat bupati dan wakil bupati, pasangan pertama: Bambang Widodo-Sunarto yang diusung PDIP-HANURA), pasangan kedua: Khayub Mohammad Lutfi-Akhmad Bahrun yang didukung oleh PKS, NASDEM dan GOLKAR, pasangan ketiga: M Yahya Fuad-KH Yazid Mahfudzyang diusung oleh PAN, GERINDRA, DEMOKRAT, PKB. Tingkat positioning tiap calon yang relatif sama (sebagai pendatang baru), mendorong para tim peramu strategi pemasaran politik tiap kandidat untuk merancangstrategi pemasaran yang efektifguna memenangkan persaingan di arena pilkada Kebumen.

    Salah satu kejutan dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2015 Kebumen yang akan digelar 9 Desember 2015 nanti adalah munculnya pasangan calon (paslon) yang merepresentasikan NU dan Muhammadiyah, dua ormas Islam terbesar baik dalam skala nasional maupun skala lokal Kebumen. Mohammad Yahya Fuad, pengusaha yang merupakan Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gombong diusung menjadi calon bupati berpasangan dengan calon wakil bupati KH Yazid Mahfudz, Pengasuh Pesantren Al Huda dan sekaligus pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Kebumen. Paslon ini diusung koalisi Gerindra-PKB-PAN-Demokrat dan didukung juga oleh PPP.

    Daya tarik paslon yang mendapatkan nomor urut 2 ini bukan hanya latar belakang paslon saja, melainkan juga dilihat dari partai pengusung dan pendukungnya yang merupakan gabungan partai berbasis massa Islam (PKB, PAN dan PPP) dan partai nasionalis (Partai Gerindra dan Partai Demokrat). Meskipun dukungan PPP yang di tingkat DPP masih terpecah menjadi dua kubu tidak utuh, tapi dengan jumlah kursi DPRD paling sedikit dibanding partai pengusungnya, ketidak-utuhan PPP bukan persoalan yang serius bagi paslon ini. Partai berbasis massa Islam yang bergabung juga menarik. Tercatat hanya PKS, partai Islam yang memiliki kursi DPRD yang tidak ikut bergabung, karena sudah berkoalisi dengan Partai Nasdem dan Partai Golkar mengusung paslon Khayub M. Lutfi-Akhmad Bakhrun yang mendapat nomor urut 1.

    Berkoalisinya PAN dan PKB merupakan sesuatu yang baru. Secara nasional dalam Pilpres 2014 yang aroma pertarungannya masih terasa sampai sekarang, PAN dan PKB berbeda kubu. Semula muncul kecenderungan perseteruan Koalisi Merah Putih (KMP) tempat bergabungnya PAN dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) tempat bergabungnya PKB, hendak dilembagakan sampai daerah. Meskipun kemudian ternyata tidak, bahkan PAN sekarang berubah haluan menjadi partai pendukung pemerintah. Bukan hanya PAN dan PKB yang selama ini belum pernah berkoalisi di Kebumen, di tingkat grass root NU dan Muhammadiyah masih agak susah untuk akur. Sehingga kalau momentum pilkada bisa membuat akur pendukung kedua ormas Islam tersebut tentu akan mempengaruhi posisi umat Islam dalam percaturan politik di Kebumen.

    Arus Berlawanan

    Meski tak ada partai yang dapat mengusung paslon sendiri, PDIP dengan percaya diri membuka pendaftaran bakal calon bupati dan wakil bupati pada 10 s.d 20 Januari 2015 silam. Padahal ketika itu masih belum ada kejelasan pilkada dilakukan secara langsung atau dipilih DPRD. “Keangkuhan” partai pemenang Pemilu 2014 ini seperti memicu harga diri politisi partai lainnya. Puncaknya pada 27 April 2015 dideklarasikanlah Koalisi Kebumen Beriman (KKB) yang beranggotakan Partai Gerindra, PAN, PKB, Partai Golkar, Partai Nasdem,  PPP dan PKS. Dengan hanya menyisakan Partai Demokrat dan Partai Hanura, jelas situasi ini mengancam posisi PDIP yang tampaknya tak bergeming untuk melanjutkan proses penentuan paslon yang akan diusungnya.

    Dalam KKB ini, rupanya ada dua arus yang berlawanan. Di satu sisi ada Khayub M Lutfi yang dari awal memang sudah mendeklarasikan diri untuk maju dalam pilkada, sehingga meski tidak yakin akan mendapat rekomendasi dari DPP PDIP tetap ikut mendaftar sebagai bakal calon bupati, sambil terus menggalang dukungan partai-partai lain. Di sisi lain, wacana koalisi kultural “NU-Muhammadiyah” bergulir baik melalui media sosial (medsos) maupun di lingkungan elite politik Kebumen.

    Karena tidak ada titik temu, akhirnya KKB pun terpecah menjadi dua koalisi berbeda karena mengusung dua paslon yang berbeda. Partai Nasdem, Partai Golkar dan PKS mengusung Khayub-Bahrun, sedangkan Partai Gerindra, PKB, PAN, PPP ditambah Partai Demokrat mengusung Fuad-Yazid. Sementara PDIP yang memberikan rekomendasi kepada paslon Bambang Widodo-Sunarto, hanya “kebagian” Partai Hanura untuk menjadi mitra koalisinya.

    Militansi Politik

    Seiring kembali ditetapkannya pilkada langsung, tidak jadi melalui DPRD, majunya tiga paslon dalam pilkada Kebumen menjanjikan kompetisi yang menarik, karena jumlah partai pengusung dan kursi DPRD yang dimiliki tak selalu berbanding lurus dengan raihan suara dalam pilkada. Semangat elite NU dan Muhammadiyah untuk membangun koalisi kultural yang didukung koalisi partai pengusung paslon Fuad-Yazid diuji dengan keberadaan paslon Khayub-Bakhrun yang juga didukung sebagian pengurus dan massa NU.

    Kegagalan KKB mengusung satu paslon saja menggagalkan pertarungan politisi dari kaum santri yang didukung nasionalis berhadapan secara head to head dengan politisi dari kaum abangan sebagai representasi koalisi PDIP dan Partai Hanura. Kemenangan yang tadinya seperti sudah hadir di depan mata untuk sementara sirna. Sebab bukan tidak mungkin paslon nomor 3 Bambang-Sunarto yang diusung PDIP dan Partai Hanura bisa mengambil keuntungan politik dari situasi ini. Di sinilah militansi politik kaum santri diuji di Kebumen.

    Repotnya belum apa-apa perang jargon antara paslon nomor 1 dan nomor 2 sudah terjadi di tingkat grass root. Pendukung paslon nomor 1 melempar jargon, “Masa NU kok mau dipimpin Muhammadiyah?” Masa NU pendukung paslon nomor 2 yang semula sedikit terpojok dengan jargon tersebut, akhirnya balik memunculkan jargon balasan, “Daripada NU dipimpin PKS?”

    Di tingkat masa NU fanatik memang masih agak susah untuk membangun interaksi positif dengan Muhammadiyah dan PKS. Padahal pembeda sebenarnya adalah praktek dan pemahaman ajaran Islam yang masih bersifat khilafiyah, bukan dalam persoalan yang pokok serta tidak ada kaitannya dengan manajemen pemerintahan daerah. Namun karena kepentingan politis sesuatu yang tidak berhubungan bisa dianggap sangat berpengaruh.

    Semestinya kalau pendukung paslon nomor 1 dan nomor 2 sama-sama hendak merepresentasikan politik kaum santri, baik NU, Muhammadiyah maupun PKS, tidak perlu saling menyerang.Justru sebaliknya memperluas pengaruhnya ke kalangan non santri (untuk menyebut kalangan yang tidak mau disebut abangan tapi juga segan kalau mendapat sebutan santri), termasuk dalam hal ini kelompok minoritas non muslim dan tionghoa agar mereka nyaman dan bisa menerima peran kaum santri dalam menjalankan roda Pemerintah Kabupaten Kebumen.

    Karena itu momentum Pilkada 2015 bisa digunakan untuk menakar sejauh mana militansi kaum santri di Kebumen, ketika upaya persatuan umat secara formal sebenarnya sudah diwujudkan namun belum membawa hasil maksimal. Apakah masih ada pikiran di kalangan sesama kaum santri ketika berkompetisi, lebih baik sama-sama gagal daripada kaum santri kelompok lain yang berhasil, atau masing-masing kelompok segera tahu diri sehingga sama-sama melakukan ekspansi politik kepada kalangan non santri. Jika kemungkinan pertama yang terjadi, jelas paslon nomor 3 yang diuntungkan dan bisa menghemat energi. Tapi ketika alternatif kedua yang berjalan, paslon nomor 3 bakal kewalahan, karena seperti dikeroyok pendukung paslon nomor 1 dan nomor 2. Tidak kurang sebulan sebelum hari H pemilihan, berbagai kemungkinan masih bisa terjadi, termasuk relevan tidaknya memilah kelompok santri dan non santri atau abangan dalam percaturan politik lokal Kebumen.







    Sumber:
    http://kpu.kebumenkab.go.id/
    http://www.radarbanyumas.co.id/parpol-di-kebumen-bentuk-2-kubu-koalisi/
    Koran Kebumen Ekspress
    Jurnal Poelitik Vol. 1 No. 1 2008. Lili Romli.


    Sebagai salah satu syarat mengikuti DM2 Sleman
    Continue Reading


    Tekad
    ~Izzatul Islam~

    Kami sadari jalan ini kan penuh onak dan duri 
    Aral menghadang dan kedzaliman yang kan kami hadapi 
    Kami relakan jua serahkan dengan tekad di hati 
    Jasad ini , darah ini sepenuh ridho Ilahi 

    Kami adalah panah-panah terbujur 
    Yang siap dilepaskan dari busur
    Tuju sasaran , siapapun pemanahnya 

    Kami adalah pedang-pedang terhunus 
    Yang siap terayun menebas musuh 
    Tiada peduli siapapun pemegangnya 

    Asalkan ikhlas di hati tuk hanya Ridho Ilahi 

    Kami adalah tombak-tombak berjajar 
    Yang siap dilontarkan dan menghujam 
    Menembus dada lantakkan keangkuhan 

    Kami adalah butir-butir peluru 
    Yang siap ditembakkan dan melaju 
    Mengoyak dan menumbang kezaliman 

    Asalkan ikhlas di hati tuk jumpa wajah Ilahi Rabbi

    Kami adalah mata pena yang tajam 
    Yang siap menuliskan kebenaran 
    Tanpa ragu ungkapkan keadilan 

    Kami pisau belati yang selalu tajam 
    Bak kesabaran yang tak pernah akan padam 
    Tuk arungi da'wah ini , jalan panjang 

    Asalkan ikhlas dihati menuju jannah Ilahi Rabbi


    Sejak lima hari ini saya sering kali bergumam sendiri menyanyikan lagu ini. Ah, tiba-tiba rindu lagi padahal baru saja sampai kosan. Biasanya jam segini masih di ruang diskusi. Biasanya jam segini beberapa akhwat udah mulai mencari posisi untuk tidur. Biasanya jam segini aroma kopi semakin kuat. Biasanya jam segini moderator mulai tidak tahu lagi bagaimana mengendalikan alur diskusi. Kemudian Mba Tila meminta semuanya untuk berhenti diskusi. Karena sudah malam. Sudah ngantuk. Tapi tidak ada yang menggubris. Mba Vina, Mba Oki, Yayak sudah tidak bersuara, ah ternyata mereka sudah terlelap tak sengaja. Maka tinggalah aku, Gita, Mba Aisah, Tyo, Surya, dan Mas Yasin. Sesekali sambil menahan kantuknya Khoirul dan Faza ikut dalam pusara diskusi. Dan tiba-tiba Brigadir Izuddin Al Qassam meneriakkan takbir dengan lantang. Yang kuucap malah istighfar, karena aku kaget. Namanya sungguhan Brigadir Izuddin Al Qasam, dikirim langsung dari bumi para syuhada, hehe kalau yang ini saya bercanda.

    Ah kalian, hanya 67 manusia absurd ini yang tahu ada rekayasa sosial apa dibalik pendirian Indomaret di Sleman, hanya kami juga yang tahu apa korelasi Istighfar dengan kepekaan sosial, iya hanya kami. Yang tidur setiap pukul 3 pagi, menjadi pejuang di malam hari dan rahib di siang hari, ah iya, siang hari kami menjadi rahib yang sangat khusyuk, tau maksudnya? :D

    Ah iya, maafkan kami, yang saat apel pembukaan tidak hafal lagu Mars KAMMI, yang kami ingat hanya "berjuaaang..." itu saja, terus menerus, sampai panitia menanyakan, kalian memperjuangkan apa? xD

    Jadi, ini acara apa?

    DM 2 KAMMI, Bung!

    Salam muslim negarawan!


    Purwokerto, 23 November 2015
    Nabila Faradina Iskandar
    Continue Reading

    Kan melangkah kaki dengan pasti
    Menerobos segala onak duri
    Generasi baru yang telah dinanti
    Tak takut dicaci tak gentar mati

    Shoutul Harokah
    Gelombang Keadilan


    Saat aku berfikir aku tengah menjadi manusia paling keras kepala di dunia, pinjem kata-katanya Ibroh, "ane pingin nyebur laut rasanya". Ya Rabb, maafkan hamba yang belum mumtaz menjalani ujian-Mu.

    Ditengah heroiknya mempersipakan DM2, musang Gamais, dan Pemira. Isu Jokowi tak lagi menarik Mba Mels, lebih asyik kajian Quo Vadis Gerakan, -yang makalahnya entah kapan aku selesaikan :D-

    Mengapa aku harus DM2?
    Mengapa aku nekat daftar DM2 waktu itu?
    Dengan kondisi seperti sekarang? Otak yang kosong dan ruhiyah yang amburadul?

    "Kamu sedang mencari pembelaan kalau kamu ga harus berangkat DM kan, Bil?," Stroberi mengingatkan

    "Eh, bukan begitu."

    "Lalu apa? Mba Dina, Mba Hanifah, Mba Meli saja bilang, berangkat saja! Kamu akan selalu merasa otakmu kosong entah kamu akan berangkat DM 2 kapan!"

    "DM2 hanya perangkat pembinaan. Apakah 5 hari ditambah proses DM2 akan metransformasi  cara berpikir seseorang? Tentu tidak bisa digeneralisir!"


    Bermalam-malam aku berpikir. Apa yang membuat kata DM2 begitu ditakuti? Olehku dan beberapa kader AB 1 KAMMI? Bedanya dengan DK 2? Bedanya dengan DK 3? 


    "Kamu akan menemukan suasana diskusi yang berbeda, Bil," Mba Meli mecoba mengiming-ngimiku. 


    Sedikit demi sedikit konflik batin mulai terpecahkan, meski bukan terselesaikan. Baiklah aku menyerah. Tentu bukan karena iming-iming diskusi yang memang berbeda. Setidaknya jika tidak bisa mengisi gelas-gelas yang lain, gelas yang aku bawa akan terisi. Egois sekali ya? Juga bukan mutlak karena alasan aku harus DM2 sebelum menjadi mapres #eh
    Biarlah Allah yang menjaga alasanku.


    Dan kegelisahan adalah bentuk kekecewaan dan kepedulian. Di titik ini aku kembali memikirkan, ke mana Gamais akan dibawa? Akankah menjadi lembaga dakwah tanpa dakwah atau hanya lembaga dakwah dinamis tanpa ruh dan militansi.... ?


    Purwokerto, 23 Oktober 2015
    Nabila Faradina Iskandar

    Calon peserta DM 2 Sleman
    Continue Reading
    Ospek; Riwayatmu Kini
    Nabila Faradina Iskandar


    Ospek atau yang oleh Kemenristek Dikti disebut sebagai Program Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) dalam surat edaran yang dikeluarkan langsung oleh kemenristek dikti disebutkan bahwa penanggung jawab kegiatan PKKMB adalah pimpinan perguruan tinggi, bukan mahasiswa. Hal ini membuat mahasiswa berang, saya yakin, untuk sebagian besar Fakultas telah menyiapkan agenda penyambuatan maba sejak jauh-jauh hari dan akan berdampak apabila agenda ini dibatalkan.

    Pada kondisi ini mahasiswa dituntut untuk berpikir kritis dan kreatif. Selain harus bisa meyakinkan pihak pimpinan PT, mahasiswa juga harus menyiapkan konsep yang jelas dan matang baik secara alur, tujuan, maupun follow upnya.

    Tidak salah jika pemerintah mengeluarkan kebijakan tersebut, jatuhnya korban atau kegiatan yang mengarah kepada perploncoan serta pembodohan yang dikemas dalam agenda yang sering kita sebut masa orientasi sudah saatnya kita tinjau ulang, terutama dari segi pengemasannya.

    Pembacaan secara global terhadap kondisi calon mahasiswa baru sangat perlu dilakukan. Pembacaan ini akan menghasilkan hipotesis; mahasiswa seperti apa yang nantinya akan menjadi objek agenda kita dan berimbas kepada pengemasan yang seperti apa yang harus kita bawakan, misal apakah masih relevan ospek kita bawakan dengan mengusung tema bertajuk kebangsaan sedangkan maba justru alergi dengan tema itu. Atau apakah masih relevan ospek kita bawakan dengan masih membudayakan senioritas yang justru hanya akan memperbanyak jumlah kaum intelektual yang hanya bisa takut kepada penguasa. Karena nantinya, cara mengemas kita akan memberikan andil besar terhadap keberhasilan goal setting, saya yakin para pegiat organisasi faham benar terkait hal ini.

    Pembacaan ini perlu dilakukan agar kita tidak salah membaca zaman. Jangan-jangan kita mengaung-gaungkan diri sebagai agent of change namun ketika di masyarakat keberadaan kita justru tidak di butuhkan. Kita menyatakan diri sebagai kaum intelektual tapi metode yang kita gunakan justru tidak mencerdaskan.

    Apakah mungkin, dalam waktu tiga hari dapat mentransformasi cara berpikir seseorang? Membentuk mental seseorang? Tentu tidak bisa digeneralisir!!



    Nabila Faradina Iskandar
    Departemen Kajian Strategis KAMMI Komisariat Soedirman
    Departemen Kajian Strategis Ikatan Mahasiswa Muslim Pertanian Indonesia

    Continue Reading
    Kalau Mba Mels, Mba Dina, baca ini, kayaknya mereka bakal....... fix, siap diberangkatkan DM2 kapan pun -kalau prosesnya juga udah beres :p-

    Ketampar banget waktu reread chat BM sama mba chatrin  "Nduk, DM2 hanya salah satu perangkat pembinaan saja". Benar memang, apakah mungkin, hanya dalam waktu 3-5 hari -belum termasuk proses- DM2 mampu mentransformasi cara berpikir seseorang? Tentu tidak bisa digeneralisir.

    Ingin membuktikan pesan terakhir Mba Yulia dan Akh Nungky -sebelum mereka berdua meninggalkan kastrat- bahwa sense of belonging KAMMI bisa didapat di DM2

    Jadi keinget kastrat kan, hiks
    Mba Yulia meninggalkan 3 akhwat tangguh kastrat 3 orang diri, hiks

    Bismillah, ga kabur-kaburan proses lagi, insya Allah

    Mahasiswa itu kurang pengalaman, itulah yang menyebabkan creative minority tersebut tidak pernah menawarkan masa lalu. Tapi menawarkan masa depan!! (Sumber lupa)


    Kebumen, 17 Juli 2015
    Nabila Faradina Iskandar
    Continue Reading
    Bismillah
    Ramadhan day-13

    Hmmmm, sedang menunggu Nurini ngambil atribut aksi. Entah kalau sama bocah yang satu ini kita selalu satu tujuan dan satu jalan. Selepas ujian pengolahan pangan aku menemukan Nurini dengan muka penuh ketidakyakinan duduk di depan ruang ujian sambil memegang draft materi, bisa ditebak, Nurini baru saja menyocokan hasil pekerjaannya dengan draft, dan nampaknya ada yang tidak sesuai, jadilah mukanya seperti itu. Iseng, "Nu, aksi yuh" tidak berharap Nurini akan menanggapi ajakanku, beberapa teman yang aku ajak mereka membalasnya dengan senyuman yang manisnya lebih manis dari kurma untuk buka puasa. "Yuh, Bil!" Yes! Kita segera melesat ke FIB, tempat kumpul, tapi belum ada orang, dan akhirnya aku menemani Nurini pulang mengambil slayer, jaket, dsb.

    Di perjalanan pulang kita berbincang-bincang. Biasa, kami sering sekali memperbincangkan banyak hal, iya bincang-bincang, karena kalau kami menyebut diskusi itu terlalu formal. Perbincangan kami di motor dalam perjalanan menuju rumah Nurini adalah pandangan kami terhadap aksi. Dibilang aksiii banget, engga juga, kami hanya ingin merasakan sensasi idealisme mahasiswa, hanya? Iya hanya, hanya aku dan Nurini yang bisa menjabarkan makna hanya di sini. :)

    Jangan lihat kami sebagai akhwat saat sedang ada di jalanan, karena mungkin kalian akan ill feel, karena kalian tak akan menemukan keanggunan seorang akhwat .-.



    Jalanan, 30 Juni 2015
    Nabila Faradina Iskandar

    Kuliah di jalanan beberapa SKS
    Orasi ilmiah iya, orasi di jalan juga iya :D
    Hidup Mahasiswa!
    Continue Reading
    oleh:
    Nabila Faradina Iskandar
    Staf Kementerian Kajian Startegis BEM Kema Faperta
    Universitas Jenderal Soedirman

    Para pemikir negeri yang saya hormati, euphoria perjuangan senantiasa terasa di setiap perayaan hari pahlawan. Sejarah pernah mencatat bahwa 69 tahun silam, bumi Surabaya menjadi saksi penolakan mentah-mentah ultimatum yang digulirkan pasukan NICA oleh masyarakat Indonesia. Pada saat itu, semua lapisan masyarakat seakan memiliki Indonesia. Betapa beraninya kita sebagai negara yang baru berumur 85 hari pada masa itu. Seyogyanya, di usianya yang ke 69, separuh abad lebih adalah waktu yang lebih dari cukup untuk mencetak generasi dengan kapasitas sama dengan generasi 69 tahun silam.

    Indikasinya cukup jelas, kebanggaan atas bangsa dimiliki oleh setiap warga pada masa itu. Betapa hebatnya martabat kita untuk lepas dari belenggu penjajahan. Tentu bukan sekadar karena perjalanannya sangat jauh untuk mencapai sejarah monumental kemerdekaan. Tapi untuk alasan kemerdekaan negara ini dibangun dengan cita-cita yang agung. Dalam UUD 1945 dijelaskan bahwasannya negara ini berdiri dengan tujuan untu “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.” Yang menjadi biduk permasalahan saat ini justru bagaimana perjalanan ke depan negara ini dalam meraih cita-cita bangsa dengan kondisi generasi muda yang minim rasa kebanggaan.

    Generasi yang ada sekarang adalah generasi yang jauh dari hiruk pikuk perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mereka hidup dengan merdeka dan dalam struktur sosial yang mulai terkikis. Berkembangnya arus globalisasi membuat generasi muda mengalami “pendewasaan” dengan begitu cepat. Mereka ditawarkan dua bilah mata pisau, menjadi orang yang berintelek juga sebagai orang yang bisa dibodohi. Menjadi penguasa atau pecundang. Era ini seharusnya dapat melahirkan generasi dengan intelektualitas yang tinggi, tidak hanya intelektualitas secara kapasitas otak tapi juga dalam menyikapi arus pergerakan zaman. Namun yang ada, fasilitas yang ditawarkan globalisasi hanya ditelan mentah-mentah oleh generasi sekarang. Padahal masalahnya tidak seremeh-temeh itu, bangsa ini butuh regenerasi yang akan menjadi penggerak perubahan-perubahan besar di masa yang akan datang.

    Terkikisnya rasa kebanggaan pada tanah air begitu jelas terlihat hampir dalam semua elemen kehidupan generasi muda sekarang. Salah satunya persatuan. Globalisasi selain membawa sarat muatan teknologi invormasi juga membawa budaya individualisme. Dapat kita rasakan, generasi muda sekarang adalah mereka yang apatis terhadap kondisi lingkungan sekitar. Mereka tahu tapi selalu mencoba menutup mata. Generasi-generasi gadget ini hanya memedulikan bagaimana memenuhi apa yang dia inginkan hari ini dapat terpenuhi bukan apa yang bisa dia berikan untuk bangsa ini. Padahal, persatuan adalah poin utama dalam menyikapi berbagai masalah. Terseok-seoknya perjalanan bangsa ini juga disebabkan karena sikap generasi mudanya yang apatis.

    Di dalam tekanan arus perubahan global, modernisasi dan westernisasi turut serta menjadi penyebab terkikisnya rasa kebanggan akan bangsa Indonesia. Generasi muda sekarang tengah mengalami apa yang disebut dengan krisis identitas. Salah satu faktor yang menyebabkan terbentuknya pola pikir tersebut adalah bahwa pemikiran barat lebih maju dan lebih elegan sehingga terkikisnya rasa bangga atas budaya sendiri.

    Jika ditarik dari awal mula sejarah perjalanan bangsa Indonesia, kita telah kehilangan momentum penting dalam perbaikan mental dan kualitas generasi kita. Kita terlalu asyik berjibaku dengan urusan politik pasca proklamasi kemerdekaan. Hingga kita lupa menyiapkan generasi  untuk menggerakkan estafet bangsa ini. Tentu ini bukan hal mudah, mengubah pola pikir yang sudah terlanjur mengendap. Perlu sinergisitas setiap elemen bangsa untuk menghadirkan kembali momentum hari pahlawan. Bagaimana kita menyiapkan generasi yang tidak hanya menelan bulat-bulat tekanan globalisasi tapi juga generasi yang mampu mentransformasikan fasilitas globalisasi sebagai jalan untuk menciptakan momentum baru bagi bangsa ini.



    Nabila Faradina Iskandar
    Staf Kementerian Kajian Startegis BEM Kema Faperta
    Universitas Jenderal Soedirman


    Continue Reading
    oleh:
    Nabila Faradina Iskandar
    Staf Ahli Kementerian Kajian Strategis
    BEM Kema Faperta Unsoed



               Para pemikir negeri yang saya hormati, berbicara tentang sektor pertanian tidak asing lagi ketika kita berbicara tentang negara ini. Agraris merupakan platform yang terpampang jelas dalam perjalanan bangsa Indonesia. Namun, ketergantungan terhadap pasokan pangan impor masih menjadi salah satu permasalahan pelik bangsa yang pernah dicatat sejarah dunia karena swasembada berasnya ini. Bila di-tilik lebih jauh, ketergantungan impor bukanlah akar permasalahan. Dalam hal inilah petani menduduki posisi strategis dalam keatahanan pangan, sebagai konsumen juga sebagai produsen. Sekarang, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah upaya mewujudkan ketahanan pangan hanya tugas petani?
                Realitas tak terbantahkan bahwa pertanian merupakan sektor utama penyedia tenaga kerja  bagi bangsa ini dan berdasarkan data Badan Pusat Statistik bahwa pada Februari 2014 jumlah penduduk yang bekerja pada sektor pertanian mencapai 40,83 juta. Jadi, sudah barang tentu, pendapatan negara pun juga disumbangkan oleh sektor ini. Namun, yang menjadi masalah sekarang justru  regenerasi di sektor ini. Kekhawatiran terhadap banyaknya pemuda yang akhirnya memandang inferior bidang pertanian, padahal pertanian adalah aset berharga. 
    Transformasi ketenagakerjaan di sektor pertanian tanaman pangan boleh dibilang berlangsung lambat. Tingkat pendidikan petani yang tetap rendah dan semakin dominannya kelompok petani usia tua merupakan sejumlah indikasinya.  Tingkat pendidikan petani yang rendah adalah kenyataan yang tidak banyak berubah sejak dulu. Padahal, tingkat pendidikan petani sangat menentukan keberhasilan petani dalam menyerap teknologi dalam bidang pertanian, dan tentu saja tingkat efisiensi dari usaha tani yang mereka jalankan. Dan dua hal ini adalah faktor yang sangat penting dalam menggenjot produksi.
                Hasil Survei Struktur Ongkos Usaha Tani Tanaman Pangan (SOUTTP) yang dilaksanakan BPS pada tahun 2011 menunjukkan bahwa 32,66 persen petani dengan nilai produksi terbesar tidak tamat Sekolah Dasar (SD), 42,32 persen hanya tamat SD, dan 14,55 persen hanya tamat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Selain itu, pada hasil suervei yang sama, disebutkan bahwa sekitar 47,57 persen petani yang memiliki produksi terbesar berusia lebih dari 50 tahun. Data ini kian memperkuat pradigma yang tumbuh di masyarakat, bahwa menjadi petani adalah sesuatu yang tidak dinginkan dalam rencana hidup sebagian besar generasi muda bangsa ini.Hal ini perlu mendapat perhatian lebih dari kita semua, pasalnya rentan tahun 2020-2030 Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, bonus demografi merupakan keadaan di mana jumlah usia produktif meningkat pesat. Ini merupakan momentum sejarah yang jarang terjadi. Oleh karena itu, perlu dipersiapkan secara optimal untuk menguatkan segala sektor yang ikut andil dalam pembangunan bangsa ini, khusunya sektor pertanian. Sehingga, dalam upaya menjamin ketahanan pangan bagi lebih dari 200 juta penduduk negeri ini tidak harus mengorbankan cadangan devisa dengan mengimpor dari luar.
                Selain petani, dalam kasus ini pemerintah lah yang memiliki andil terbesar karena segala keputusan dan kebijakan berada di tangan pemerintah. Ada banyak cabang permasalahan di bidang pangan yang pada akhirnya membuat negeri ini tidak dapat sepenuhnya berdikari di bidang pangan. Penurunan kualitas dan kuantitas sumber daya lahan pertanian, terbatasnya aspek ketersediaan infrastruktur penunjang pertanian, kelemahan dalam sistem alih teknologi, terbatasnya akses layanan usaha, dan masih panjangnya mata rantai tata niaga pertanian merupakan beberapa cabang masalah yang menyebabkan upaya mewujudan ketahanan pangan belum dapat terwujud. Tanpa penyelesain yang mendasar dan komperhensif dalam berbagai aspek di atas kesejahteraan petani akan terancam dan wacana ketahanan pangan akan stagnan dalam taraf wacana.
                Luasnya substansi dan banyaknya pelaku yang terlibat dalam pengembangan sistem ketahanan pangan, maka diperlukan kerja sama yang sinergis antar institusi dan generasi muda. Pemantapan ketahanan pangan hanya dapat diwujudkan melalui kerja sama yang kolektif dari seluruh pihak yang terkait. Nasib terpenuhinya kebutuhan perut ratusan juta rakyat Indonesia bertumpu pada petani dan nasib kemajuan pembangunan suatu bangsa bertumpu pada pemudanya.


               
    Purwokerto, 24 September 2014
    Catatan Idealisme
    Continue Reading

    Bahasa Daerah;
    Mungkin Dia Harus Diklaim Terlebih Dahulu
    Agar Kita Mau Mengenalnya


    “Ah, hari ini ada ulangan bahasa daerah!”
                Keluhan itu acap kali dilontarkan oleh siswa-siswa di Indonesia dan Anda tentu tidak asing mendengarnya. Ya, bahasa daerah kini dianggap sebagai momok menakutkan oleh generasi-generasi muda. Semenjak pemerintah menetapkan bahasa daerah sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah, banyak siswa yang kecewa. Bahasa daerah adalah bahasa yang rumit dan dianggap sakral karena aturan-aturannya, pernyataan itu menjadi alasan lama yang masih abadi di kalangan remaja Indonesia.
    Kini pesona bahasa daerah di mata masyarakat Indonesia pun kian pudar, banyak generasi muda Indonesia yang tidak menggunakannya lagi dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Jawa misalnya, bahasa Jawa memiliki tingkat keindahan yang berbeda  dengan dengan bahasa – bahasa lainnya. Bahasa Jawa mengajarkan bagaimana seharusnya kita menghormati yang lebih tua dan bagaimana seharusnya kita menyayangi yang lebih muda. Namun, kini lambat laun bahasa jawa mulai punah . Banyak kawula muda yang mulai acuh dengan bahasa Jawa , diantaranya mereka hanya fasih dalam bahasa ngoko saja. Namun, lebih memprihatinkan lagi ketika generasi muda Indonesia lebih fasih dalam melafalkan bahasa asing
    Di era globalisasi seperti sekarang ini, kedudukan bahasa daerah semakin terpuruk. Terlebih, ketika bahasa asing terutama bahasa Inggris menjadi bahasa internasional, keberadaan bahasa daerah semakin terjepit, mau tidak mau kini semua orang dituntut untuk menguasai bahasa internasional jika ingin diakui di dunia internasional.
    Inilah kedudukan bahasa daerah di mata masyarakat Indonesia, kian hari kian memprihatinkan saja.  Kebanyakan generasi muda Indonesia lebih menyukai belajar bahasa asing ketimbang  belajar bahasa daerah. Pernyataan bahwa bahasa asing lebih muda dipelajari menjadi faktor utama generasi muda menganak tirikan bahasa daerah. Hampir setiap hari, generasi muda Indonesia berbondong-bondong mengikuti les bahasa asing. Bahkan, orang tua mereka rela merogoh kocek dalam-dalam demi kemajuan berbahasa anaknya. Padahal, bahasa daerah tak kala pentingnya dengan bahasa asing. Menurut prediksi peneliti, dalam kurun waktu 100 tahun ke depan jumlah bahasa-bahasa daerah  hanya tersisa 50 persen. Lainnya akan punah akibat kuatnya pengaruh bahasa-bahasa utama dalam kehidupan global.
    Bahasa daerah adalah identitas bangsa yang memebedakan bangsa kita dengan bangsa lainnya, yang mencerminkan kepribadian kita di mata dunia. Jika kita melupakan bahasa daerah, maka tidak mustahil jika dunia juga melupakan kita, karena mencintai bahasa sendiri saja kita tidak mampu, apalagi mencintai bahasa yang lain. Entah akan menjadi apa bangsa ini ketika generasi-generasi penerusnya melupakan identitas bangsanya. Apakah harus menunggu bahasa-bahasa daerah di Indonesia di klaim bangsa lain untuk membuat kita mengenalnya?


     Nabila Faradina Iskandar, 2011
    Continue Reading
    Older
    Stories

    About me


    Azifah Najwa. Penulis. Peneliti. N’s. Food scientist. an ISTP.

    Blog Archive

    • ▼  2021 (10)
      • ▼  November (1)
        • Jogja
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (5)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2020 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2019 (11)
      • ►  November (2)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Januari (5)
    • ►  2018 (109)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  April (13)
      • ►  Maret (31)
      • ►  Februari (28)
      • ►  Januari (32)
    • ►  2017 (115)
      • ►  Desember (13)
      • ►  November (11)
      • ►  Oktober (14)
      • ►  September (21)
      • ►  Agustus (14)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Juni (5)
      • ►  Mei (6)
      • ►  April (4)
      • ►  Maret (9)
      • ►  Februari (9)
      • ►  Januari (7)
    • ►  2016 (161)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (6)
      • ►  Oktober (12)
      • ►  September (25)
      • ►  Agustus (20)
      • ►  Juli (19)
      • ►  Juni (16)
      • ►  Mei (18)
      • ►  April (10)
      • ►  Maret (10)
      • ►  Februari (13)
      • ►  Januari (6)
    • ►  2015 (309)
      • ►  Desember (10)
      • ►  November (20)
      • ►  Oktober (27)
      • ►  September (24)
      • ►  Agustus (25)
      • ►  Juli (70)
      • ►  Juni (47)
      • ►  Mei (20)
      • ►  April (29)
      • ►  Maret (18)
      • ►  Februari (10)
      • ►  Januari (9)
    • ►  2014 (41)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (9)
      • ►  Oktober (10)
      • ►  September (15)
      • ►  Februari (1)
    • ►  2013 (2)
      • ►  Agustus (2)
    • ►  2012 (16)
      • ►  November (1)
      • ►  Oktober (3)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (3)
      • ►  April (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2011 (11)
      • ►  Desember (5)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (5)

    Total Tayangan Halaman

    Most View

    • Design Expert
      Ini salah satu aplikasi olah data yang akan aku gunakan untuk merancang dan menganalisis penelitian yang akan aku lakukan. Ada cerita y...
    • Lagi-lagi Tentang Gamais
      Jalan dakwah itu terjal, curam, dan sedikit yang mau melewatinya. Gamais adalah tentang cinta. Dan cinta bagiku adalah selalu tentang m...
    • Lebih Berani
      Malam ini kau boleh mengeluh sejadinya, tapi berjanjilah esok hari kau harus lebih berani menghadapi. Bukan untuk sesiapa, pada akhirny...
    • Wisuda
      Hari ini wisuda ya? Berharap setahun apa dua tahun lagi diberi seikat bunga dari orang terkasih Aku gamau ngasih bunga, useless Yaaaa...
    • Cerita Selepas SSC
      Di temani hujan kota satria, sedang membereskan kepingan hati dan otak yang yaa katakanlah nyesek, tapi benar, mungkin aku terlalu berharap ...

    categories

    Catatan Cerita Dandelion Edelweis Food Scientist Idealisme KAMMI Keluarga Raudhatul Jannah Rentang Tunggu Rohis

    Followers

    facebook Google + instagram Twitter

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top