Just Note

Sejak aku jatuh cinta pada caramu membaca, sejak itu pula aku berjanji untuk tidak berhenti menulis

    • Home

    Kini setelah berjalan cukup jauh. 
    Aku merenung sekali, dan bercermin pada diri. 
    Betapa begitu banyak kesempatan yang sudah aku lewatkan. 
    Yang seharusnya bisa aku gapai tapi aku abai. 
    Yang seharunya bisa aku capai tapi aku lalai

    Pepatah klasik itu benar, penyesalan selalu di akhir cerita.



    Bogor, 4 April 2018
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Sudah lama menulis ini. Tapi baru berkeinginan di post. Karena semakin banyak yang bertanya. Semoga bisa diambil manfaatnya.

    Dua bulan bekerja pertanyaan "Mengapa akhirnya memutuskan bekerja" masih saja menghampiri. Tidak sedikit yang mempertanyakan. Saat berkas sudah di siap. Bahkan beasiswa pun ada. Tapi akhirnya saya memutuskan bekerja lebih dulu. Ada banyak alasan. Banyak sekali pertimbanga. Banyak hal juga yang harus aku korbankan. Dan aku akan memulai cerita itu. Silakan di simak jika dirasa bisa diambil manfaatnya. Jika tidak berhenti pada bagian ini pun tidak masalah :)

    Rasa-rasanya hampir semua orang yang kenal dengan saya tahu, jika saya suka sekali belajar, suka sekali berjibaku dengan segala hal yang erat kaitannya dengan penelitian, singkatnya semua orang menyimpulkan bahwa saya harus melanjutkan studiku. Sehingga pertanyaan "Mengapa akhirnya memutuskan bekerja", selalu saja menghampiri. Orang-orang tidak puas dengan keputusan yang saya buat. Dan saya sungguh berterima kasih atas itu.

    Ada banyak hal, alasan pertama adalah "bahwa untuk menjadi seorang pendidik, saya tidak hanya boleh memiliki banyak ilmu, tapi juga banyak pengalaman". Saya ingin menjadi dosen dan sepertinya semua orang tahu itu. Bagi saya, menjadi seorang pendidik bukan hanya menyampaikan ilmu, tapi juga nilai, nilai-nilai kehidupan yang tak akan di ajarkan di kelas mana pun, dan itu di dapatkan dari pengalaman. 

    Awalnya saya juga ragu, apakah dengan bekerja akan banyak nilai yang saya dapatkan? Ini masih saya pelajari hingga detik ini. Di lain kesempatan saya akan menceritakan bagaimana pengalaman saya bekerja, keluar dari zona nyaman, dan merubah kepribadian saya. Singkatnya saya tidak menyesali keputusan untuk bekerja lebih dulu, meski harus keluar dari zona nyaman, meski harus jatuh bangun beradaptasi dengan keadaan. 

    Di sini sembari bekerja sama masih aktif di kegiatan remaja masjid, mengajar anak-anak tentang pertanian, juga menambah kapasitas keilmuan saya. Dengan waktu yang sempit di tengah-tengah jadwal kerja yang padat, tapi saya menikmatinya. Saya mengazamkan, bahwa apa yang saya punya akan saya bagikan, jadilah saya harus memiliki banyak pengalaman. 

    Kedua, saya ingin memanfaatkan keilmuan yang telah saya dapatkan selama di kampus. Sembari mencari ide penelitian untuk thesis dan disertasi. Dan ternyata, saya menemukan banyak keahlian baru. Bekerja sebagai QC membuat saya terlatih menyelesaikan banyak sampel dalam waktu yang singkat dengan tuntutan yang tidak main-main. Saya tidak pernah membayangkan jika fatalnya pekerjaan saya membuat truk-truk yang berjajar di gerbang perusahaan harus kembali jika saya menyatakan sampel bahan baku yang di bawa tidak memenuhi standar. Atau analisis saya yang akan mempenharuhi apakah produk di pasarkan atau tidak. Untung saja saya punya Allah yang maha kuat.

    Ketiga, jika ditanya, apa yang orang tua inginkan dari anaknya setelah disekolahkan hampir 16 tahun, pastilah itu bekerja. Orang tua saya tidak pernah melarang saya melanjutkan studi. Sama sekali tidak. Tapi, sebagai orang tua pada umumnya, jauh di bawah hati kecil mereka, mereka ingin melihat anaknya bekerja. Pada bagian ini, saya yakin setiap anak punya kisahnya masing-masing.


    Ketiga alasan itu yang mendasari saya, alasan ke empat, lima, dst, adalah alasan pribadi yang saya rasa setiap orang juga memiirkannya. Iya, hidup terus berjalan, lulus, kemudian menikah. Di mana setiap keputusan tak lagi saya gantungkan pada jawaban akhir orang tua, di mana setiap permasalahan harus saya temukan sendiri penyelesaiannya. Dan saya menganggap sekarang saya tengah 'sekolah', mempersiapkan kehidupan di mana setiap keputusan saya yang harus siap mempertanggujawabkan konsekuensinya.


    Jauh dari semua alasan itu, berkonsultasilah dulu pada Rabbmu, yang memilikimu lebih dari siapa pun.


    Bogor, 1 Maret 2018
    Azifah Najwa

    Continue Reading

    Meja kita masih berantakan. Kertas-kertas masih bertebaran di mana-mana. Ada segelas kopi dingin tanpa sianida di atas meja. Layar monitor pun masih menyala.

    Diskusi kita masih tentang diabetes dan pencegahannya. Berdebat tentang kadar terbaik untuk dapat menyelamatkan manusia. Dan di meja itu kita paham bagaimana sistem informasi manajemen bekerja. Iya, kita tengah mempelajari dua tema yang berbeda.

    Esok lusa kita berjuang lagi, melawan ego sendiri untuk membuktikan kita tak akan kalah



    Bogor, 26 Januari 2018
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Tulisan ini dibuat pada tanggal 7 Desember 2017, di WiFi id, hujan, dengan seorang teman..



    Mungkin pilihan yang membuatku berpikir berkali-kali adalah apakah aku akan mengambil matakuliah pilihan bakrey atau buah sayur, dan itu terselesaikan dengan pendapatmu, pendapat ibu. Atau mungkin pilihan untuk segera memutuskan bagaimana konsep aksi yang akan dibawakan, mimbar bebas, tanda tangan petisi, atau musikalisasi puisi, dan itu terselesaikan setelah meminta pendapatmu. Atau mungkin pilihan untuk menentukan berapa faktor penelitian yang akan diuji, variabel apa saja yang akan di teliti, dan itu terselasaikan setelah minta pendapat dosen pembinging.

    Kali ini persoalannya lain. Ketika kamu menyerahkan keputusan sepenuhnya padaku, ketika orang tuaku juga demikian. Dan aku, masih mencerna, apa yang sebenarnya membuatku berat hati untuk mengatakan iya padahal ini adalah apa yang aku cari, mendapat pekerjaan. Apakah benar masalah gaji? Mmmm, mungkin. Apakah karena tempatnya tidak aku inginkan? Ataukah aku yang merasa, bahwa aku bisa mendapatkan lebih? Ah, siapa aku, menglasifikasikan diriku seperti itu. Ataukah terlalu banyak dosaku, hingga di hatiku tidak ada rasa syukur? Faghfirlii ya Rabb, faghfirlii...

    Sore itu aku menangis dan merasa Allah berada satu jengkal di sebelahku..

    Besoknya aku pulang, ke rumah, ke Kebumen. Tapi sebelum pulang aku mampir ke tempat kerja ibu, sudah larut padahal, dan di sana aku melihat, bahwa bekerja bukan sesuatu yang mudah. Teman ibu satu per satu menghampiri, bertanya basa-basi,hingga akhirnya salah satu teman ibu ada yang bertanya, perihal tempatku bekerja, aku diam, ibu yang menjawab. Seketika itu juga rasanya ada sesuatu yang menyeruak di dadaku, bahwa ibu bangga. Apa ini petunjukmu ya, Rabb?


    Apa aku sudah yakin dengan keputusan mengambil kesempatan itu? Aku tidak tahu, tapi yang jelas, aku tiba-tiba tidak berat hati memasukkan baju-bajuku ke tas.


    Hingga akhirnya siang itu tiba, sejak seminggu lalu aku tidak pernah lagi membuka email, tidak pernah lagi harap-harap cemas menunggu balasan email perusahaan. Entah apa yang menggerakan hatiku, hingga akhirnya, -sepertinya- jawaban atas segala keraguanku terjawab sudah...




    Kebumen, 8 Desember 2017
    Azifah Najwa





    Continue Reading

    Desember 2017. Penghujung tahun, di mana tidak sedikit mimpi-mimpi dan rencana yang telah disusun harus disusun ulang, tak mengapa, manusia hanya boleh berencana.

    Ada banyak hal terjadi di tahun ini. Menyelesaikan penelitian yang selama ini hanya angan-angan, lulus, publikasi jurnal ilmiah, 'mengubah' arah mata angin, dan juga gagal menikah, hahahaa. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan? 

    Ada beberapa pertanyaan sejak keputusan tidak -dulu- melanjutkan sekolah aku ambil, "Kenapa, Bil?","Kamu ga pantes kerja, sekolah aja", "Sayang ih kamu pinter, sekolah lagi aja sih", "Ganggu LPDP ga kerjanya?"

    Terima kasih, sungguh, kepada kalian yang selalu peduli, peduli pada mimpiku. Tapi aku ingin mencari sesuatu yang tidak akan saya dapatkan saat saya sekolah, yang tidak ada kuliahnya, yang tidak dapat di dapat dari membaca buku, pengalaman. Iya, pengalaman tidak ada sekolahnya, seperti yang Bu Ermin sampaikan.

    Apa yang telah saya dapatkan saat saya menjadi juara lomba-lomba pasti akan berbeda dengan saat saya menjadi quality control, apa yang telah saya dapatkan selama proses penelitian yang menguras kesabaran pasti akan sangat berbeda dengan saat saya menjadi seorang profesional. Karenanya saya sampaikan, pengalaman tidak ada sekolahnya.

    Saya ingin sekolah lagi, saya ingin menjadi dosen, yang tidak hanya membagikan ilmu tapi juga pengalaman, karenanya saya tengah mencari sebanyak-banyaknya pengalaman, saya ingin menjadi dosen, bukan karena ingin mendapatkan gaji yang lumayan tapi juga ingin memanfaatkan keilmuan, agar lebih bermanfaat, agar lebih berguna bagi masyarakat. Saya ingin menjadi dosen, hanya karena saya melihat, dosen adalah pekerjaan yang pas, dengan diri saya, juga keinginan untuk tetap dekat dengan anak-anak saya nantinya, menyiapkan bekal sekolahnya, mengajari dan menceritakan banyak hal. Saya ingin menjadi dosen, agar keilmuan saya bisa menjadi penolong untuk saya dan suami saya di akhirat kelak. Sesederhana itu.


    Dan selamanya mimpiku hanya seperti tangan yang menggenggam pasir, selamanya mencukupkanku. Selama itu pula aku bisa mengubah mimpiku kapan saja. Dan selama itu pula kau mengingatkan mimpi-mimpiku, terima kasih sayang...



    Purwokerto, 22 Desember 2017
    Azifah Najwa

    Continue Reading

    Jangan gantungkan mimpimu pada siapapun, 
    karena tidak ada orang lain yang berkewajiban 
    mewujudkan mimpimu selain dirimu sendiri

    Jangan gantungkan bahagiamu pada siapapun, 

    karena hanya dirimu yang berkewajiban membahagiakan diri

    Karena mereka tidak akan mudah mengerti


    Purwokerto, 7 Desember 2017
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Bahwa ketetapannya tidak pernah salah memberi arti. 
    Hanya perlu waktu untuk memahamkan diri. 
    Jadi jangan cepat menghakimi, selalu berbaik sangkalah kepada-Nya.


    Purwokerto, 26 November 2017
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Sesuatu yang kita jauhi terkadang akan berbalik menyerang. Dulu, bahkan sampai sekarang, aku sering sekali bilang "Besok, aku gag mau di Jakarta", tapi akhirnya malah PKL di Jakarta. -Dan ini kembali lagi ke Jakarta-

    Jakarta, dengan semua polemik di dalamnya, pernah mengajarkan banyak hal. Bagaimana melatih sabar, saling berbagi, dan selalu berpikiran positif. Terkadang aku juga belajar melemaskan otot kaki, sebab lebih mudah berjalan dari pada harus terjebak macet disana sini

    Banyak jenis watak yang kutemui, dan semuanya menuntut untuk dimengerti. Dari sini aku belajar memahami dan tidak menang sendiri. Orang-orang berlomba mengejar waktu. Berebut untuk menjadi yang nomor satu

    Hei Jakarta, aku akan kembali, walau baru bilangan hari. 
    Dan ketika saat itu aku kembali tiba,
    aku sudah akan membawa cerita yang berbeda. 
    Tunggu aku di lain hari ~


    Kebumen, 11 Oktober 2017
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Karena yang tulus sekalipun, akan pamit pada waktunya :)

    Intinya, segala sesuatu tidak ada yang abadi. 

    Hello Purtoricooo /^^/
    Awal tahun 2016 lalu aku pernah menulis di whiteboard kamar seperti ini "Kurangin ekspektasi, banyakin main!"

    Setiap ucapan adalah do'a. Udah main ke mana aja, Bil tahun ini? :D

    Hamdalah. Sudah kubilang kan, aku udah berkali-kali kalah. Jadi pulang tidak membawa piala hal biasa #pura2tegar, haghag. Serius, aku baik-baik saja. Karena aku merasa sudah mengerahkan kemampuan terbaik. Mempelajari ulang bagaimana pengalaman di 8X final LKTI yang sudah-sudah. Trial berkali-kali. Membuat ppt, yang alhamdulillah kata sebagian peserta ppt.nya bagus, padahal biasanya aku paling males ngedit-ngedit begituan, tapi lagi-lagi, karena ini final LKTI terakhir, maka aku coba kerahkan kemampuan terbaik. Tidak menyesal. Tidak sedih. Tidak kecewa. Tidak nelangsa. Aku puas! 

    ITB, ITS, IPB, aku akui kapasitas kalian dalam bidang teknik luar biasa. Belajar banyak, apa itu apatit, apa itu nanotube, apa itu karbon, apa itu membran, dsb. Kebiasaan memang tidak pernah membohongi kemampuan ya. Wajar saja, Prof. I Gede menyampaikan, bahwa setiap minggunya, bimbingannya minimal harus membaca 10 jurnal, mereview dan menganalisis, apalah arti kompetisi paper bagi mereka, patut jika mereka menjadi juara. Dan yang jelas, ada ilmu baru yang aku adopsi dari mereka.

    Ilmu baru. Cinta nanoteknologi. Jembatan ampera. Palembang. Punya porsiding. Tim terbaik. Saudara baru. Masih sedih ga juara? Kufur nikmat dong.


    Terima kasih Tri Mulyono, Nungky Suryo Nugroho, tim LKTI pertama, ter-zonk, ter-ga jelas, but both of you give me many learning.

    Terima kasih Nurul Angraini, Imron Gempur Saputro, yeaay kita Juara 1.

    Terima kasih Abdul Rohim, Hafidz, tim tergokil dan terembuh, haha

    Terima kasih Tri Irawan, Nurul Defriani, tim ter-lala yeye, terlalu banyak cerita sama mereka~

    Terima kasih Winduningsih, Ana Andiana, tim ter-emesh :3

    Terima kasih Lisa Aprilia Riyanto, Hana Zahidah, satu kata; kalian ter-baik!


    Jadi, nak kemano lagi kau, Bil? B-)


    Gottingen!

    Semoga audit Indofood, Januari nanti di Flores yak :D


    Purwokerto, 9 Oktober 2016
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Tenang itu sumber ketentraman. Angsa yang tenang di permukaan kakinya sibuk mendayung

    Yang perlu kita tahu, Allah tau yang terbaik untuk kita, itu saja untuk membuat kita tenang. Jangan panik, nanti tenggelam. Tenang saja.

    Rasanya kayak kopi good day, banyak rasa. Kaya nano-nano, rame rasanya. Fuffuu, siapa sih yang ambil undian hah? Siapa? :'')


    Palembang, 6 Oktober 2016
    Azifah Najwa
    Continue Reading


    Selamat pagi, Palembaaaaang ^^


    Palembang rasa Sumampir, you know why? Karena murrotal yang diputer sama kayak murrotal yang di puter di Sumampir setiap subuh gini, murrotal Mishary Rasyid, murrotal favorit, QS. Al Baqarah

    Sebulan yang lalu, waktu itu aku masih di Salatiga saat pengumuman LKTI ini dan beberapa hari setelahnya pengumuman LKTI dari Unhas diumumkan. Dua LKTI sekaligus. Ke luar pulau. 

    "Impianmu sejak 2014. Sudah di depan mata malah bingung kamunya, Bil," ujar Mba Hasna waktu itu.

    "Ya elah, Bil, masa ga berangkat lah, udah sana berangkat," kata Mba Dina.

    Ini tentang kesempatan. Benar memang, kesempatan mungkin tak akan datang dua kali. Aku sudah melepaskan kesempatan exchange-ku saat barus KKN kemarin. -Selain karena alasan harus pakai dana sendiri- Harus aku lepaskan juga kesempatan ini? Tapi berangkat dua-duanya? Dengan selisih waktu satu minggu? Dengan PR PR organisasi yang masih begitu banyak? Dan dengan dengan yang lain..

    Faghfirly, faghfirly, faghfirly...
    Semoga niatku masih tentang berlomba-lomba dalam kebaikan.

    Semoga lain waktu bisa ke Makasar ya. Barangkali ini akan menjadi LKTI terakhirku. Barangkali. Tidak enak hati juga berkali-kali harus meninggalkan amanah organisasi karena alasan final LKTI. Mereka bosan, aku yakin. Final kali ke 8 dari 5X impian. Ke luar pulau. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

    "Bil, kamu suka banget jalan-jalan sih, bulan lalu baru dari Salatiga, sekarang ke Palembang, minggu depannya ke Makasar, abis ini mau ke mana lagi?," gerutu salah seorang temanku.

    "Traveler modal kompetisi!, Hehe". Hamdalah. Tidak semua orang memiliki kesempatan sepertiku. Harus bersyukur, Bil! Gumamku.

    Mohon do'akan! Akan kami persembahkan perjuangan terbaik kami! Bismillah!


    Palembang, 6 Oktober 2016
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Menjadi terang di tempat yang gelap membuatnya sangat bermakna meski hanya dengan sedikit pelita. Menjadi terang di tempat yang sudah terang benderang akan membuat sebesar apa pun usaha untuk bersinar akan sedikit sekali yang merasakan manfaatnya.

    Di masa depan sepertinya tren pekerjaan akan beralih menjadi tentang kebermanfaatan, ketibang hanya egois memupuk hata pribadi. Banyak anak-anak muda potensial berprestasi di penjuru negeri tidak lagi kepincut dengan besarnya materi, Sebaliknya, banyak dari mereka yang justru mengeluarkan tak sedikit materi bahkan bersusah payah demi membuat diri mereka menjadi manfaat untuk negara ini. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lain?

    Sudahkah kita?


    Purwokerto, 4 Oktober 2016
    Azifah Najwa

    Visinya tetap menjadi peneliti. 

    Continue Reading

    Hari ini aku melihat lagi skenario Allah yang luar biasa. Hari ini aku melihat lagi bahwa do'a ibu adalah do'a yang langsung menembus pintu langit. Hari ini aku melihat lagi bahwa Allah akan selalu mengabulkan do'a hambaNya, entah kapan, entah di mana, entah apa bentuknya.

    Dua minggu terakhir di sisa KKNku ada satu hal yang membuatku begitu mengganjal. "Bagaimana dengan penelitianku?". Kala itu, aku masih menaruh harapan besar pada beasiswa Indofood Riset Nugraha. Bahkan bisa dibilang hanya IRN satu-satunya harapanku. Beasiswa Nutrifood gagal aku dapatkan. Dosen Pembimbing Akademik sedang tidak ada proyek. Meminta proyek penelitian ke dosen lain? Entahlah, yang jelas aku malu. Dosen sering bilang di kelas, "kalian jangan cuma minta proyek ke dosen, kalau bisa penelitian sendiri". Bagaimana dengan penelitian mandiri? Tapi dananya? Meskipun ada sedikit tabungan. Meskipun ibu bersedia membantu biaya penelitian. Tapi bagaimana mungkin ibu mengizinkan aku kuliah di luar negeri jika masalahku sendiri saja tidak mampu aku selesaikan? Aku hanya ingin dipercayai.

    Sore tadi, aku berniat bertemu salah seorang kakak kelas. Tidak lain tidak bukan hanya untuk meminta masukan dan nasihat, apa yang harus aku lakukan dengan penelitianku, di tengah idealisme dan realita yang ada. Ah sungguh, pertanyaan "kapan penelitian?" Itu menyakitkan ya. Seengaknya itu yang aku rasakan 2 hari ini, sejak pulang KKN, sejak sebelum sore tadi. Sejak sebelum sebuah telpon masuk ke handphoneku.

    Setelah cerita panjang lebar, akhirnya kami menemukan sebuah solusi. Menanyakan kapan IRN akan diumumkan dengan banyak catatan. Maka, saat itu juga aku segera mengirim email ke CP sekretariat IRN. Saat sedang mengetik kata "Terima kasih", sebuah telpon dari nomor tak dikenal masuk ke handphoneku. Dari sini cerita ini akan dimulai. Di layar handphone tertera dari mana telpon itu berasal "Jakarta". Yang jelas dibagian ini perasaanku mulai tak karuan. Lalu membiarkan lawan bicaraku pergi hanya untuk mengangkat telpon itu. Mungkin jika hatiku lebih tenang aku bisa mendengar suara dibalik telpon itu dengan jelas, harusnya aku merekamnya. Yang kalian perlu tahu, tanganku bahkan bergetar saat nama, asal universitas, hingga judul proposal penelitianku disebutkan. Padahal belum dinyatakan lolos. Kau tahu apa yang terjadi begitu suara dibalik telpon itu menyatakan bahwa proposalku lolos? Yang aku ingat hanya ibu.  Hamdalah. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

    Aku lolos beasiswa penelitian Indofood Riset Nugraha. Tentu aku masih ingat bagaimana perjuangan penyusunan propoasal itu. Bagaimana aku menyembunyikan segala ketakutanku dari ibu. Segala kekhawatiranku. Segala kemungkinan yang tidak sesuai harapan. "Jangan menaruh harap pada makhluk, kau dapat kecewa karenanya". Itu prinsip yang aku pegang. Jadilah setiap kali aku ingat penelitian aku langsung telpon ibu. Mendengarkan suara ibu tanpa harus menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Sekali lagi, saya selalu percaya, do'a ibu langsung menembus pintu langit.

    Bagi orang yang hidup dengan impian-impiannya, dipercayai itu lebih penting dari sekadar disemangati.

    Terima kasih, Bu, telah percaya.
    Aku hanya cukup percaya bahwa do'a ibu adalah do'a yang langsung menembus pintu langit.


    Semangat penelitian! ^^
    Selamat menyaksikan lagi berbagai keajaiban do'a ibu ^^


    Purwokerto, 1 September 2016
    Azifah Najwa
    Continue Reading


    KKN Diary-35


    Sem, Zainun, Zaki, Aril, Rizal, Rizky, Jenglot, lagi ngapain ya malem ini? :'(



    Purwokerto, 30 Agustus 2016


    Azifah Najwa

    Continue Reading

    KKN Day-33

    Hari ini tema kami "make our dream come true" xD


    Kalian tahu perbukitan depan posko yang sering aku ceritakan kan? Yang menemani hari-hari kami dan menjadi pemandangan kami selama kami 35 hari di sini, yang hanya bisa kami liat sebagai lukisan, hari ini kami berhasil ke puncaknyaaa!! \^^/


    Semaya, 28 Agustus 2016
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    KKN Day-32

    Posko lagi riweh dengan persiapan perpisahan besok, take video, nyebar undangan, nempel pamflet, persiapan  perkap, fyuh, udah mau pulang ternyata..

    "Dulu hari ke tiga di sini kita sih masih ngapain ya, Bil?"

    "Hari ketiga, Nggit? Nyari sinyal. Nyari sinyal. Nyari sinyal."

    Kemudian kita tertawa bersama. Ah, pemandangan ini akan kita lihat 3 hari lagi. Dinginnya air curug gomblang akan kita rasakan 3 hari lagi. Malam yang menusuk tulang yang membuat kita tidur berdempetan akan kita rasakan 2 malam lagi.

    Dan malam ini, menu makanan kita ada nasi goreng "seafood", dan seafoodnya dari pindang, hahahaha

    Suatu ketika aku pasti akan merindukan tempat ini lagi, pasti...

    Aaaaaa, 3 hari lagi pulaang!!
    Bukan masalah pulangnya, tapi siapa yang hendak ditemui ^^


    Semaya, 27 Agustus 2016
    Azifah Najwa
    Continue Reading
    KKN Day-31

    Hari ini adalah hari terakhirku dan Inggit jadi inem dan ijah, wkwkwk sekaligus hari terakhir Wowo ngambek karena kami paksa nyuci piring :v
    Siklus setiap hari Jum'at; Nabila dan Inggit masak, selesai masak capek, minta Wowo nyuci piring, Wowo ngambek, terus gamau makan, akhirnya nasi hari Jum'at sisa. Besok paginya Wowo udah ga ngambek, karena semalem ga makan jadi laper, nasi sisa semalam dimakan Wowo, jadi nasi ga jadi sisa. Hahahaha xD


    Semaya, 26 Agustus 2016
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    KKN Day-30

    H-5, Biiill!!!

    Right, Nggiiit!!
    Pagi ini agenda KKN dibuka dengan berburu sarapan di tempat pak Kamsoh xD
    Pada masanya, aku pasti akan merindukan masa-masa ini, merindukan masakan Biyung, merindukan asinnya ikan asin khas rumah pak Kamsoh :'

    "Nggit, makan di luar yuh"

    "Pemandangan ini bakal kita liat 5 hari lagi, Nggit"

    Kemudian kita diam. Aku berharap memiliki mesin perekam dalam retinaku, untuk merekamnya kemudian memutarnya kembali suatu ketika setiap kali aku merindukan tempat ini. Jika sekarang tidak, suatu hari aku pasti akan merindukan tempat ini. Pasti.



    Semaya, 25 Agustus 2016
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    KKN Day-28

    Kalian tahu? Berapa puluh jalanan naik dan turun yang sudah aku lewati hampir dalam 35 hari ini? Aku tidak penasaran. Yang jelas ingin memberikan apresiasi sebesar-besarnya pada Revi. Selamat Revi, telah mampu melewati berbagai jalanan naik dan turun lengkap dengan pernak-pernik khas jalan, tikungan tajam, krikil, lumpur, dsb.

    Aaah, ternyata Banyumas itu menakjubkan. Mungkin lebih tepatnya hutan-hutan Banyumas lengkap dengan cerita mistisnya. Jika biasanya hanya mampu melihat perbukitan yang terhampar dari Rakbok hingga Semaya, tadi aku baru saja melihat apa yang terdapat di balik perbukitan itu, tadi aku baru saja "membelah" bukit itu. Mungkin itu ya alasannya kenapa begitu banyak orang suka naik gunung, daebak!
    H-7!



    Semaya, 23 Agustus 2016
    Azifah Najwa

    Continue Reading

    KKN Day-27

    "LPPM LPPM datang tak dijemput, pulang tak diantar"
    Wkwkwk itu lagu penyambutan LPPM hari ini :3
    Yeay, finally, LPPM dateeeng, haha \^•^/
    Maka, tidak ada lagi alasan bagi kami untuk tidak turun dan mencari bakso, duh KKN macam apa ini~

    Terhitung, sejak tanggal 27 Juli 2016, aku sudah 6X bolak-balik Semaya-Purwokerto, haghag

    Dan terhitung, tepat di jam ke 64, listrik tepat nyala, hamdalah~
    Jangan tanya ya apa yang segera kami lakukan, "colok-colok" laptop dan hape kemudian main poker, hahaha


    Semaya, 22 Agustus 2016
    Azifah Najwa

    Continue Reading
    Older
    Stories

    About me


    Azifah Najwa. Penulis. Peneliti. N’s. Food scientist. an ISTP.

    Blog Archive

    • ▼  2021 (10)
      • ▼  November (1)
        • Jogja
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (5)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2020 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2019 (11)
      • ►  November (2)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Januari (5)
    • ►  2018 (109)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  April (13)
      • ►  Maret (31)
      • ►  Februari (28)
      • ►  Januari (32)
    • ►  2017 (115)
      • ►  Desember (13)
      • ►  November (11)
      • ►  Oktober (14)
      • ►  September (21)
      • ►  Agustus (14)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Juni (5)
      • ►  Mei (6)
      • ►  April (4)
      • ►  Maret (9)
      • ►  Februari (9)
      • ►  Januari (7)
    • ►  2016 (161)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (6)
      • ►  Oktober (12)
      • ►  September (25)
      • ►  Agustus (20)
      • ►  Juli (19)
      • ►  Juni (16)
      • ►  Mei (18)
      • ►  April (10)
      • ►  Maret (10)
      • ►  Februari (13)
      • ►  Januari (6)
    • ►  2015 (309)
      • ►  Desember (10)
      • ►  November (20)
      • ►  Oktober (27)
      • ►  September (24)
      • ►  Agustus (25)
      • ►  Juli (70)
      • ►  Juni (47)
      • ►  Mei (20)
      • ►  April (29)
      • ►  Maret (18)
      • ►  Februari (10)
      • ►  Januari (9)
    • ►  2014 (41)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (9)
      • ►  Oktober (10)
      • ►  September (15)
      • ►  Februari (1)
    • ►  2013 (2)
      • ►  Agustus (2)
    • ►  2012 (16)
      • ►  November (1)
      • ►  Oktober (3)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (3)
      • ►  April (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2011 (11)
      • ►  Desember (5)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (5)

    Total Tayangan Halaman

    Most View

    • Design Expert
      Ini salah satu aplikasi olah data yang akan aku gunakan untuk merancang dan menganalisis penelitian yang akan aku lakukan. Ada cerita y...
    • Lagi-lagi Tentang Gamais
      Jalan dakwah itu terjal, curam, dan sedikit yang mau melewatinya. Gamais adalah tentang cinta. Dan cinta bagiku adalah selalu tentang m...
    • Lebih Berani
      Malam ini kau boleh mengeluh sejadinya, tapi berjanjilah esok hari kau harus lebih berani menghadapi. Bukan untuk sesiapa, pada akhirny...
    • Wisuda
      Hari ini wisuda ya? Berharap setahun apa dua tahun lagi diberi seikat bunga dari orang terkasih Aku gamau ngasih bunga, useless Yaaaa...
    • Cerita Selepas SSC
      Di temani hujan kota satria, sedang membereskan kepingan hati dan otak yang yaa katakanlah nyesek, tapi benar, mungkin aku terlalu berharap ...

    categories

    Catatan Cerita Dandelion Edelweis Food Scientist Idealisme KAMMI Keluarga Raudhatul Jannah Rentang Tunggu Rohis

    Followers

    facebook Google + instagram Twitter

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top