Just Note

Sejak aku jatuh cinta pada caramu membaca, sejak itu pula aku berjanji untuk tidak berhenti menulis

    • Home


    Aneh,….
    Sering ia berteriak keras“ mari berjuang kawan-kawan!!!”
    Tapi sampai saat ini pun tak mengerti ia apa itu perjuangan…

    Aneh,…
    Kerap ia berteriak lantang“ maju kawan-kawan!!”
    Tapi, saat ini pun tak tahu pasti ia apakah benar-benar sedang melaju…

    Aneh juga,….
    Kerap ia bersorak lantang “mari hancurkan kezhaliman!!!”
    Tapi tak sedikitpun ia tersadar kalau ia sedang diserang…
    Aneh lagi,…
    Sering lisannya berucap “perjuangan memang butuh pengorbanan saudaraku…”
    Tapi semenit pun tak rela waktu tidurnya berkurang untuk perjuangan….
    Kerak-kerak uang sakunya pun sangat berat ia berikan sekedar untuk sunduk juang…
    Sms2-nya pun begitu seringnya terkirim “maaf ga bisa bantu,,lagi sakit pilek…”

    Aneh lagi,…
    Sering lidahnya berujar “persaudaraan tertinggi adalah itsar saudaraku…”
    Tapi, senyum berpapasan pun terasa sangat mahal…
    Salam dan jabat tangan pun hanya sekedar….
    Lebih berat lagi sampai harus bertanya kabar…

    Aneh lagi,…
    Sering ia lontarkan wejangan “perjuangan butuh bekal saudaraku…..!”
    Tapi tilawah rutin tiap hari pun ia tidak lakukan…
    Tahajud sekali seminggu pun selalu jadi beban…
    Shalat berjamaah pun dibikin seperti arisan…
    Kalo baca buku pun maunya hanya yg berlabel “ikhwah jatuh cinta…”

    Aneh lagi,…
    Sering ia sampaikan nasihat “da’wah itu yang sabar akh…”
    Tapi ketika diskusi omongannya selalu hanya keluh kesah…
    Objek ceritanya hanya selalu masalah…


    Di akhir ku hanya ingin berdoa….
    Semoga yang kusebut disini bukanlah diriku sendiri…
    Juga bukan antum yang membaca,….
    Bahkan kalau boleh berharap lebih, agar orang ini tak ada,…

    Ya Allah ya Rabbi….
    Teguhkan hati kami…
    Kuatkan langkah kami…
    Jaga iman kami…jaga persaudaraan kami...
    Agar kami saling mencintai dan selalu teguh di jalan ini….

    Saya cinta kalian saudaraku,,,karena Allah
    Oleh : Adi Putra (teknik geologi ITB '06)
     
    Continue Reading

    Sahabat, ada kisah bergambar yang sangat bagus, yang ketika saya menerjemahkannya hampir-hampir saya menangis dibuatnya. Silakan dinikmati.


    Anak Lelaki & Pohon Apel.



    Dahulu kala, ada sebuah pohon yang sangat besar.


    Pohon itu sangat menyayangi seorang anak lelaki. Anak lelaki itu senang mengunjunginya dan bermain bersamanya setiap hari.


    Dia memanjat pohon itu.




    Memakan buahnya.



    Tidur sebentar di bawah rindangnya pohon itu.



    Anak lelaki itu menyayangi pohon apel itu, dan pohon itu sangat senang!


    Waktu berlalu…


    Suatu hari anak lelaki itu kembali datang pada pohon itu. Pohon berkata, “Ayo main bersamaku.”


    “Aku sudah bukan anak kecil lagi, aku tidak bermain di sekitar pohon lagi.” “Aku ingin mainan. Aku butuh uang untuk membelinya.”


    “Maaf, tapi aku tidak punya uang… Tapi kamu bisa ambil semua buahku dan menjualnya. Jadi, kamu bisa dapat uang." Anak itu sangat senang. Dia mengambil semua apel yang ada di pohon itu dan pergi meninggalkannya dengan gembira. Pohon itu juga senang.


    Anak lelaki itu tidak pernah kembali setelah mengambil buah apelnya. Pohon itu sedih.


    Suatu hari, anak lelaki yang sekarang sudah menjadi dewasa kembali dan pohon itu sangat senang. “Ayo main bersamaku,” kata si pohon.




    “Aku tidak punya waktu untuk bermain. Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami butuh rumah untuk tempat tinggal. Bisakah kamu membantuku?”


    “Maaf, tapi aku tidak punya rumah. Tapi kamu bisa menebang kayuku untuk membangun rumah.”



    Maka lelaki itu pun menebang semua cabang pohon itu dan meninggalkannya dengan gembira.


    Pohon itu senang melihat pria itu gembira, tapi pria itu tidak pernah kembali lagi semenjak itu. Pohon itu lagi-lagi menjadi kesepian dan sedih.


    Suatu hari di musim panas, pria itu kembali dan pohon itu menjadi gembira. “Ayo main denganku!” kata si pohon.


    “Aku semakin tua. Aku ingin pergi berlayar untuk menenangkan diriku sendiri. Bisakah kamu memberikanku perahu?’ kata orang tua itu.


    “Gunakan batangku untuk membuat perahumu.” Si pohon berkata. “Kamu bisa berlayar jauh dan bergembira.”


    Maka pria itu menebang pohon itu untuk membuat perahu. Dia pergi berlayar dan tidak pernah muncul untuk waktu yang lama.


    Akhirnya pria itu kembali setelah bertahun-tahun. “Maaf, anakku. Tapi aku tidak punya apa-apa lagi untukmu. Tidak ada lagi apel untukmu…” kata pohon itu. “Tidak apa-apa, aku tidak punya gigi lagi untuk menggigit.” Jawab si pria.


    “Tidak ada lagi batang untuk dipanjat." "Aku terlalu tua untuk itu.” Pria itu menjawab.


    “Aku benar-benar tidak bisa memberimu apapun … satu-satunya yang tersisa hanyalah akarku yang sudah tua.” Pohon itu berkata sambil menangis. “Aku tidak butuh banyak sekarang, hanya sebuah tempat untuk istirahat. Aku lelah dengan perjalanan bertahun-tahun ini. “ Si pria menjawab.


    “Bagus! Akar pohon tua adalah tempat yang paling enak untuk bersandar dan beristirahat. Ayo, duduk bersamaku dan beristirahatlah.”



    Pria tua itu duduk. Si pohon pun senang dan tersenyum sambil menitikkan air mata.


    Semua orang punya pohon apel di dalam hidupnya. Dan itu adalah orang tua kita!!!



    Betapa pun sibuknya, luangkan waktu kita untuk bersama orangtua!
    mudah2n kita termasuk ke dalam golongan orang2 yg berbakti kepada org tua 
    amin..!
    dikutip dari : http://www.facebook.com/note.php?note_id=422028856351 
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About me


    Azifah Najwa. Penulis. Peneliti. N’s. Food scientist. an ISTP.

    Blog Archive

    • ▼  2021 (10)
      • ▼  November (1)
        • Jogja
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (5)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2020 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2019 (11)
      • ►  November (2)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Januari (5)
    • ►  2018 (109)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  April (13)
      • ►  Maret (31)
      • ►  Februari (28)
      • ►  Januari (32)
    • ►  2017 (115)
      • ►  Desember (13)
      • ►  November (11)
      • ►  Oktober (14)
      • ►  September (21)
      • ►  Agustus (14)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Juni (5)
      • ►  Mei (6)
      • ►  April (4)
      • ►  Maret (9)
      • ►  Februari (9)
      • ►  Januari (7)
    • ►  2016 (161)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (6)
      • ►  Oktober (12)
      • ►  September (25)
      • ►  Agustus (20)
      • ►  Juli (19)
      • ►  Juni (16)
      • ►  Mei (18)
      • ►  April (10)
      • ►  Maret (10)
      • ►  Februari (13)
      • ►  Januari (6)
    • ►  2015 (309)
      • ►  Desember (10)
      • ►  November (20)
      • ►  Oktober (27)
      • ►  September (24)
      • ►  Agustus (25)
      • ►  Juli (70)
      • ►  Juni (47)
      • ►  Mei (20)
      • ►  April (29)
      • ►  Maret (18)
      • ►  Februari (10)
      • ►  Januari (9)
    • ►  2014 (41)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (9)
      • ►  Oktober (10)
      • ►  September (15)
      • ►  Februari (1)
    • ►  2013 (2)
      • ►  Agustus (2)
    • ►  2012 (16)
      • ►  November (1)
      • ►  Oktober (3)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (3)
      • ►  April (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2011 (11)
      • ►  Desember (5)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (5)

    Total Tayangan Halaman

    Most View

    • Ramadhan!
      Scene: Dengerin adzan mafaza sambil ngulang hafalan yang mau disetor Malam terakhir sebelum Ramadhan Ah betapa rindunya dengan suasana r...
    • Jadi, Izinkan Aku Pergi
      Bukan tanpa alasan, semua sudah kujelaskan hingga detailnya. Ketika aku memutuskan untuk menjauh namun yang ada kita harus selal...
    • Menyatakan Cinta
      Menyatakan cinta barangkali tidak semudah mengatakan "Apa kabar?" atau "Terima kasih" Sebab bersamanya ada sebu...
    • Dear, you
      Teruntuk teman-teman satu lingkaran yang tengah memperjuangkan proposal penelitian, penelitian, atau revisian :) Dear, you.. Berlama...
    • Zaki
      Aku pernah mendengar seseorang berkata, "Jika pun saat ini kita siap menikah, apakah kita siap jika ada hal-hal yang direnggut dari sua...

    categories

    Catatan Cerita Dandelion Edelweis Food Scientist Idealisme KAMMI Keluarga Raudhatul Jannah Rentang Tunggu Rohis

    Followers

    facebook Google + instagram Twitter

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top