Just Note

Sejak aku jatuh cinta pada caramu membaca, sejak itu pula aku berjanji untuk tidak berhenti menulis

    • Home

    Bismillah...
    Masih di temani strawberry yang sedang bersusah payah menjadi selai. Maaf ya, sebenarnya tidak tega memaksamu menjadi selai. Kau tau kan, diantara begitu banyak olahanmu, aku paling tidak suka selai strawberry. Masam. Membuatku sedih. Membuatku tidak ada lagi yang menghibur. Iya, karena manismu membuatku tenang. Membuatku beku. Laikanya mint es krim yang membekukan lidahku

    Ah iya, selain strawberry malam ini aku juga punya kisah tentang Golden Jaket. Ah iya, kalian, dulu kursi itu adalah kursi yang sangat saya impikan. Dan sekarang, kursi ini adalah kursi yang pernah diimpikan begitu banyak orang.

    Jadi? Kau mau aku ajak ke mana lagi? Orasi ilmiah di pelbagai daerah di pulau jawa sudah. Orasi di mimbar debat sudah. Orasi di jalan sudah. Ah iya, kau belum aku ajak ke luar pulau jawa ya. Belum juga masuk ransel untuk dibawa ke negara tetangga. Berharap boleh kan? Siapa tahu besok aku bisa mengajakmu main ke pulau sebrang. Siapa sangka lusa kita bisa foto di hamparan salju, dirimbunnya bunga sakura, diantara reruntuhan daun maple, atau di bumi para syuhada. Ah Palestine, hape dsb memang made in China, tapi untuk keberanian hanya made in Palestina! Allahumafirlahu..


    Purwokerto, 15 Oktober 2015
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Sudah lama aku menunggu hari ini, menunggu pertemuan. Meski aku faham, tidak semua pertemuan menyatukan. Malah hakikatnya setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Bukankah kita dulu juga begitu? Dipertemukan kemudian dipaksa keadaan agar dipisahkan. Tapi tak perlu khawatir bukankah banyak kepastian yang hanya bisa ditemukan dalam pertemuan, kan?

    “Kamu tidak berubah?," katamu.

    “Tidak ada yang berubah, kecuali waktu," ujarku.

    “Mengapa datang lagi?,” tanyamu lagi.

    “Karena tidak ada yang berubah."

    Kemudian kita berjalan menyusuri pematang. Daun-daun pepohonan berguguran, seperti waktu-waktu yang ternyata sudah begitu banyak terlewati. Angin menghembuskan ketenangan. Dan aku, aku seperti biasa berjalan sambil sesekali memejamkan mata, melihat ke arah langit dengan mata terpejam dan menghirup nafas dalam-dalam. Tidak ada yang berubah.

    “Mengapa tidak berubah?.” tanyamu.

    “Aku tidak punya sebab untuk mengubahnya."


    Serang, 14 Oktober 2015
    Azifah Najwa

    Kisa gadis strawberry dengan strawberrynya.
    Continue Reading
    Bil, kenapa tulisan-tulisanmu di blog tentang Dandelion?

    Karena aku suka bunga itu.

    Karena itu?

    Iya.

    Filosofinya?

    Aih, beberapa hari ini otakku sudah cukup bebal membahas berbagai hal yang fundamental, tentang tulisan-tulisanku juga harus aku sampaikan secara fundamental?

    Tentang apa tulisan itu?

    Tentang apa yang aku cintai.


    Kemudian dia typing lama sekali.....
    Then, offline tiba-tiba, k e b i a s a a n! :/


    Purwokerto, 14 Oktober 2015
    Azifah Najwa
    Continue Reading
    Kebaikan itu magis. Kita senang melihat perbuatan baik. Kita senang pada orang yang berbuat kebaikan. Orang baik punya daya tarik.

    Kita pun boleh jadi mencintai seseorang karena dalam pandangan kita, orang tersebut baik. Tak peduli jika orang lain tak sepakat dengan kita. Kita selalu bisa melihat sisi baik dari orang yang kita cintai. Dan berharap kita bisa membuat orang lain juga bisa melihat sisi baik tersebut.

    Mencintai orang baik seperti mudah. Ada banyak hal yang bisa kita kagumi darinya secara spontan. Semua orang akan berpikir kita begitu beruntung memilikinya sebagai seseorang yang dicintai.

    Tapi, pada kenyataannya tidak selalu semudah itu. Sungguh, tidak semudah itu.

    Mencintai orang baik berarti memahami bahwa kebaikannya dibutuhkan oleh banyak orang. Bukan hanya oleh kita. Sebagai konsekuensi dari menjadi orang baik, tentu ia juga disayangi oleh banyak orang. Bukan hanya oleh kita.

    Kita tahu bahwa ia baik bukan hanya pada kita. Tetapi pada semua orang. Itu berarti selain ia sebagai kekasih yang baik, ia pun seorang anak yang berbakti pada kedua orang tuanya, teman yang suka membantu, pelayan masyarakat yang mengayomi, pekerja yang profesional, juga pemimpin yang berdedikasi.

    Mencintai orang baik berarti memahami bahwa di hatinya bukan hanya ada kita. Hatinya memiliki banyak ruang untuk mengasihi banyak orang. Waktunya dibagi kepada banyak orang yang membutuhkan. Akalnya digunakan untuk memikirkan banyak orang.

    Mencintai orang baik juga berarti memahami bahwa kita tak bisa egois dan berpikir bahwa ia milik kita. Karena akan selalu ada celah-celah yang dimanfaatkan para penggoda untuk menghembuskan perasaan iri dan cemburu. Hmmm....

    Sejak detik pertama, mencintai orang baik berarti rela. Rela untuk tidak selalu jadi yang utama. Rela untuk mendukung tanpa keluh kesah. Rela untuk mendoakan tanpa lelah.

    Dipersatukan dengan orang baik ibarat mendambakan hujan. Kita tak bisa memintanya untuk jatuh di halaman rumah kita saja…



    Semoga selalu Allah yang menjaga dan menjadi tujuanmu. Tentang keputusanmu, aku dukung apa pun itu.
    Love you :)


    Dandelion, 14 Oktober 2015
    Azifah Najwa

    Continue Reading
    Sudah beberapa bulan ini aku merasa kesulitan tidur di malam hari. Ah, tidak, sejak SMA aku memang sudah menderita ini, sulit tidur di malam hari. Tidur terlalu larut malam, menjelang pagi malah, kemudian bangun pagi. Mengurus entah apapun yang bisa diurus, bersyukur, ada jam malam, jadi aku harus segera pulang sebelum motorku berubah menjadi labu.

    Lebih parah lagi dua minggu ini. Duniaku seakan hanya pada buku, jurnal ilmiah, leptop, dan hape. Setiap saat aku bercakap dengan mereka. Menerjemahkan kata dibalik layar-layar mereka yang tak timbul.

    “Itu membuatmu mengerikan, Bil!" kata Nurini.

    Iya. Tentu saja. Kau memahamiku, Nu.

    Beberapa isu di kampus membuatku semakin berpikir liar. Ditambah lagi persiapan DM 2. Persiapan musang Gamais. Dan persiapan apply paper, harus terbang!

    Sejenak aku bertanya, "kapan terakhir setoran hafalan, Bil?" Jika tidak salah ingat setelah libur lebaran sebelum ospek. Sudah lama sekali ya.

    Faghfirlana...

    Sudah malam. Tiga menit lalu Nurini masih bertanya bagaimana menuliskan pendanaan di LPJ, eh aku panggil yang terdengar tinggal deruan laptopnya.

    Dan tiba-tiba...

    Begitu buka whats app, aku seperti menemukan kembali kepingan perasaan Desember lalu, sama, persis.


    Purwokerto, 13 Oktober 2015
    Azifah Najwa

    Segeralah hari minggu! Udah ada yang janjiin mau ngajak jalan-jalan, yeay! \:D/
    Continue Reading
    [10/12, 23:45] Aku ingin menjadi kematian bagimu, yang kau kenali dan setelahku kau tak akan mengenal apa-apa lagi.
    Tapi aku lebih ingin menjadi kehidupan bagimu, yang kau kenali dan setelahku kau akan mengenal semuanya

    [10/12, 23:48] pandanglah aku dengan matamu yang terpejam.... dengarlah aku dengan telingamu yang tersumbat... katakan padaku dengan mulutmu yang terbungkam... rabalah aku dengan tanganmu yang terikat... tapi rasakan aku dengan hatimu yang terjaga.....

    [10/12, 23:52] maafkan aku yang telah mencuri sepercik api dari pandang matamu. dengannya kubakar ranting ranting harapan dan mimpi, menerangiku dalam gulita kelinglungan, menghangatkanku dalam kebekuan dunia. maafkan aku yang masih menggigil dalam damba. maafkan aku yang terus bersimpuh padamu sebagai hamba. wahai berhala keemasan di kuil hati..

    [10/12, 23:56] peran apalagi yang harus kumainkan? adegan apalagi yang harus kuperagakan? sekian kali kau berkedip, berulang kali mengerling. tanpa kau tahu, kelopak matamu adalah layar pentas drama kehidupanku....

    [10/12, 23:58] tiada naungan dari derasnya rindu, kecuali gubuk kesabaran beratapkan sulaman bayang indah senyum sang penawan jiwa...


    Ada yang malem-malem iseng ngirim beginian. Siapa yang jadi ga kangen coba --'

    Cepetan pulang, titik!


    Purwokerto, 13 Oktober 2015
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Karena ukuran-ukuran kita tak sama...

    Setelah minggu lalu teman-teman sekelas saya berkomentar tentang baju, rok, dan jilbab yang saya pakai, yang kata mereka selalu matching, seharian ini komentar teman-teman sekelas adalah tentang sepatu saya yang katanya selalu girly dan awet.
    Fyuuh~
    Dasar perempuan ya, comel banget :v

    Tapi ada pelajaran yang saya ambil dari sepatu hari ini, tentang ukuran. Ukuran yang tidak sama. Iya, karena ukuran-ukuran kita tidak sama.

    Umar bukan Utsman, dan demikian juga sebaliknya. Keduanya memiliki karakter yang khas. Seorang jagoan yang biasa bergulat di Pasar Ukazh, yang tumbuh di Bani Makhzun nan keras dan Bani Adi nan jantan, yang nyaris pernah membunuh Rasulullah, ia telah menjadi pemimpin orang-orang mukmin. Tentulah dengan sifat-sifatnya yang keras, tegas, bertanggung jawab, dan ringan turun gelanggang.

    Utsman, lelaki pemalu yang datang dari keluarga Bani Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman. Umar tahu itu. Maka tak dimintanya Utsman ikut turun di antara sengatan matahari bersamanya mengehar unta zakat yang melarikan diri. Itu bukan kebiasaan Utsman. Kedermawananlah yang menjadi jiwanya. Yang dijadikannya cara membela agama-Nya.

    Mereka berbeda.

    Bagaimana pun juga, Anas ibn Malik bersaksi bahwa Utsman berusaha keras meneladani sebagian dari perilaku mulia Umar sejangkau jangkauan dirinya. Hidup sederhana misal. "Suatu ketika saat Utsman berkhutbah di mimbar Rasulullah," kata Anas, "Kuhitung tambalan di surban dan jumlahnya dan kutemukan tak kurang dari tiga puluh dua jahitan"

    Seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya, memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti. Memaksakan sepatu besar untuk kaki yang mungil akan merepotkan.

    Sekali lagi, karena ukuran kita tidak sama, jangan memaksakan. Berilah nasihat untuk mereka yang sedang diberi amanah untuk memimpin ummat. Tetapi jangan membebani dengan membandingkan kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz. Berilah nasihat untuk mereka yang sedang diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninyaa dengan kisah berinfaqnya Abdurrahman bin Auf. Berilah nasihat kepada mereka yang berilmu. Tetapi jangan menuntutnya menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai bahasa ibrani dalam empat belas hari.

    Karena ukuran kita tidak sama...


    Karena saya ngefans sama Umar, Umar bin Khattab, Umar bin Abdul Aziz. Kalau anak saya laki-laki, pasti saya kasih nama Umar :D

    Karena sepertinya perlu ada rekayasa sosial untuk Faperta, melihat fenomena yang ada dan kesalahan berpikir yang terlanjur mandeg .-.


    Purwokerto, 12 Oktober 2015
    Azifah Najwa
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About me


    Azifah Najwa. Penulis. Peneliti. N’s. Food scientist. an ISTP.

    Blog Archive

    • ▼  2021 (10)
      • ▼  November (1)
        • Jogja
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (5)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2020 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2019 (11)
      • ►  November (2)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Januari (5)
    • ►  2018 (109)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  April (13)
      • ►  Maret (31)
      • ►  Februari (28)
      • ►  Januari (32)
    • ►  2017 (115)
      • ►  Desember (13)
      • ►  November (11)
      • ►  Oktober (14)
      • ►  September (21)
      • ►  Agustus (14)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Juni (5)
      • ►  Mei (6)
      • ►  April (4)
      • ►  Maret (9)
      • ►  Februari (9)
      • ►  Januari (7)
    • ►  2016 (161)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (6)
      • ►  Oktober (12)
      • ►  September (25)
      • ►  Agustus (20)
      • ►  Juli (19)
      • ►  Juni (16)
      • ►  Mei (18)
      • ►  April (10)
      • ►  Maret (10)
      • ►  Februari (13)
      • ►  Januari (6)
    • ►  2015 (309)
      • ►  Desember (10)
      • ►  November (20)
      • ►  Oktober (27)
      • ►  September (24)
      • ►  Agustus (25)
      • ►  Juli (70)
      • ►  Juni (47)
      • ►  Mei (20)
      • ►  April (29)
      • ►  Maret (18)
      • ►  Februari (10)
      • ►  Januari (9)
    • ►  2014 (41)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (9)
      • ►  Oktober (10)
      • ►  September (15)
      • ►  Februari (1)
    • ►  2013 (2)
      • ►  Agustus (2)
    • ►  2012 (16)
      • ►  November (1)
      • ►  Oktober (3)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (3)
      • ►  April (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2011 (11)
      • ►  Desember (5)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (5)

    Total Tayangan Halaman

    Most View

    • Design Expert
      Ini salah satu aplikasi olah data yang akan aku gunakan untuk merancang dan menganalisis penelitian yang akan aku lakukan. Ada cerita y...
    • Bagian Terbaik
      Salah satu bagian terbaik dari caramu mencintaiku adalah saat kau selalu berusaha menjagaku, memastikan bahwa aku tiba di rumah tepat w...
    • Student Exchange
      Nabila lagi student exchange on fire! Jangan diganggu yaa, pokoknya kali ini harus lolos! Hashtagnya lagi refreshing, empet ngurusin orga...
    • Lagi-lagi Tentang Gamais
      Jalan dakwah itu terjal, curam, dan sedikit yang mau melewatinya. Gamais adalah tentang cinta. Dan cinta bagiku adalah selalu tentang m...
    • Lebih Berani
      Malam ini kau boleh mengeluh sejadinya, tapi berjanjilah esok hari kau harus lebih berani menghadapi. Bukan untuk sesiapa, pada akhirny...

    categories

    Catatan Cerita Dandelion Edelweis Food Scientist Idealisme KAMMI Keluarga Raudhatul Jannah Rentang Tunggu Rohis

    Followers

    facebook Google + instagram Twitter

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top