Just Note

Sejak aku jatuh cinta pada caramu membaca, sejak itu pula aku berjanji untuk tidak berhenti menulis

    • Home

    Jarak yang tercipta nantinya adalah 
    sebuah perjanjian tak terucap, tak tertulis. 
    Hanya perlu saling mengerti, 
    sebelum kita sepakat saling pergi🍃


    Purwokerto, 12 September 2017
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Beberapa hari pasca dinyatakan lulus dan beberapa hari menuju pelepasan. Tidak ada kegiatan yang berarti yang mengharuskan saya untuk tetap di Purwokerto

    Selain untuk melangkapi keperluan beasiswa dan pengajuan hak paten, saya 'hanya' sibuk mengemas barang-barang -sekaligus kenangannya- sembari sesekali mengutuk diri, mengapa saya belum sempat melakukan hal-hal yang sudah lama saya impikan atau mengapa saya belum melunasi janji-janji saya pada diri saya sendiri atau mengapa saya membiarkan komunikasi saya dengan teman-teman saya tidak seintens dulu dan deretan atau lainnya yang membuat saya menyesal. Nampaknya saya yang dulu sibuk sekali, ckckck

    Kemudian saya mulai berpikir, ada kalanya untuk kita diam sejenak. Duduk paling depan dan menikmati menjadi penonton. Sekadar mendengarkan keluh kesah atau menemani kesepian. Kita perlu menjadi peran tambahan untuk kehidupan orang lain

    Bisa jadi jawaban dari kesulitan atas pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab karena kita terlalu sibuk menjadi aktor utama. Bukankah Allah selalu memberikan kesempatan untuk belajar dari orang-orang sekitar?



    Purwokerto, 6 September 2017
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Sungguh, wanita mampu menyembunyikan cinta selama 40 tahun, namun tak mampu menyembunyikan cemburu walau hanya sesaat (Ali bin Abi Thalib)


    Purwokerto, 6 September 2017
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Entah siapa yang memulai. Semua menjadi hening ketika berbicara denganmu. 
    Kau yang enggan mengatakan banyak hal dan aku yang takut bertanya lebih dulu. 

    Jarak ternyata tak membunuhku. Tapi kebisuan ini. 


    Dandelion, 5 September 2017
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Jus stroberi yang aku pesan tinggal tersisa sepertiganya. Berpura-pura menikmati pertemuan ini membuatku butuh banyak pengalihan, dengan terus minum misalnya. Sedang pertemuan ini belum membicarakan apa pun. 

    "Kau tidak berniat pesan yang lain?," tanyanya membuka percakapan.

    "Eeh, engga, minum aja," jawabku. Dari cara kami bertanya dan melempar jawaban kalian bisa menyimpulkan bahwa saat ini kami benar-benar canggung. 

    Kalau tidak salah ingat, pertemuan ini adalah kali pertama sejak wisuda tiga tahun lalu. Sejak kau kembali ke kotamu dan aku memilih menetap di sini, kita tidak pernah lagi bertukar kabar. Entahlah. Aku yang terlalu pengecut untuk memulai atau kau yang memang sudah tidak lagi peduli. Dan sore ini kau mengajakku bertemu? 

    "Gimana kabarmu, Nad?"

    Pertanyaan retoris, pikirku. "Baik, sangat baik malah," jawabku singkat.

    "Syukurlah," jawabnya, sembari meminum late kesukaannya. Tidak ada yang berubah darinya, kecuali mungkin orang yang kini menjadi tokoh utama di balik desain-desainnya.

    "Kapan ya kita terakhir ngobrol kayak gini? Rasanya canggung sekali." Benar kan apa kataku, tidak hanya aku, dia juga merasa canggung.

    Aku hanya tersenyum. Sembari mengingat-ngingat kapan terakhir kali kita bertegur sapa. Seingatku terakhir kali kita bertemu saat acara pelepasan, kau berdiri di depanku karena absenmu tepat di depanku, iya hanya berdiri, tanpa menoleh sedikitpun seolah tidak pernah ada aku dibelakangmu.

    "Nad, ada yang ingin aku sampaikan."

    "Hmmm," aku hanya berdehem, sambil terus memainkan sedotan di gelasku.

    Rafa menyodorkan sebuah kotak merah dengan cincin di dalamnya. Aku menatapnya tak mengerti. 

    "Maaf, Nad, jika hari itu aku mengacuhkanmu. Tapi semoga kau tahu, bahwa tak sehari pun aku tak mengetahui kabarmu, aku tahu saat kamu di rawat di RS, aku tahu saat kamu sedang sibuk dengan organisasimu, aku hapal jam biologismu, aku tahu kapan kamu tidur dan berangkat kuliah. Tak ada satu pun yang aku lewatkan darimu, Nad. Meski sapaku tak pernah menjumpaimu."

    Aku benar-benar semakin tak mengerti.

    "Seperti yang kau pikirkan, Nad, tidak ada yang berubah dariku, tidak juga tokoh utama di balik desain-desainku."

    "Tapi aku bukan lagi Nada yang dulu, Fa," jawabku sambil beranjak dari dudukku.

    Sudah terlambat, sungguh sudah terlambat. Cincin di jari manisku telah menjelaskan segalanya, gumamku sembari meninggalkan Rafa yang masih terpaku pada cincin yang seharusnya untukku..

    ***

    Cerita ini hanyalah fiktif belaka, percayalah. Hahaha
    Selamat menempuh hidup baru sahabatku, tidak ada lagi kita yang diam-diam bertanya kabarnya, tidak ada lagi kita yang diam-diam kegirangan saat tak sengaja berpapasan di koridor sekolah -meski sungguh hanya berpapasan, tidak ada saling tegur apa lagi sapa, tapi mampu membuat hari itu berbunga-bunga-, tidak ada lagi kita yang rela lewat pintu belakang yang artinya harus mengitari sekolah hanya demi lewat kelasnya, meski selalu tidak bertemu, karena kita berangkat terlalu pagi dan pulang terlalu siang, sedang ia sebaliknya. Selamat! Jika aku tidak hadir anggap saja aku marah karena kau terlambat memberiku kabar. Meski sebenarnya aku paling bahagia.


    Salam sayang,
    Purwokerto, 3 September 2017
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Beberapa hari pasca dinyatakan lulus dan beberapa hari menuju pelepasan. Tidak ada kegiatan yang berarti sebenarnya yang mengharuskan saya -terkesan memaksakan diri- untuk tetap di Purwokerto. Selain menyelesaikan jurnal ilmiah dan kelengkapan untuk pengajuan hak paten, selebihnya pekerjaan saya di Purwokerto adalah seorang pengangguran. 

    Anggap saja sedang rehat, hampir 4 tahun di Purwokerto rasa-rasanya 'waktuku' habis di kampus, 3 tahun dengan hiruk pikuk organisasi kampus dan sisanya dihabiskan di laboratorium. Sembari menyelesaikan jurnal ilmiah dan kelengkapan pengajuan hak paten, saya mulai mengemas barang-barang -sekaligus kenangannya-. Sambil mengutuk diri, mengapa saya belum sempat melakukan hal-hal yang sudah lama saya impikan atau mengapa komunikasi saya dengan teman-teman saya tidak seintens dulu. Nampaknya saya yang dulu sibuk sekali, ckckck

    Kemudian saya mulai berpikir, ada kalanya untuk kita diam sejenak. Duduk paling depan dan menikmati menjadi penonton. Sekadar mendengarkan keluh kesah atau menemani kesepian. Kita perlu menjadi peran tambahan untuk kehidupan orang lain. Saya jadi mikir, bisa jadi jawaban dari kesulitan atas pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab karena kita terlalu sibuk menjadi aktor utama. Padahal kan Allah selalu memberikan kesempatan untuk belajar dari orang-orang  sekitar.


    Purwokerto, 2 September 2017
    Azifah Najwa
    Continue Reading

    Aku mencintaimu sebagai pernyataan
    Di akhiri tanda titik, bukan tanda tanya
    Karena ini bukan sebuah keraguan
    Bukan pula tanda seru
    Karena ini bukan sebuah paksaan



    Purwokerto, 1 September 2017
    Azifah Najwa
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About me


    Azifah Najwa. Penulis. Peneliti. N’s. Food scientist. an ISTP.

    Blog Archive

    • ▼  2021 (10)
      • ▼  November (1)
        • Jogja
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (5)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2020 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2019 (11)
      • ►  November (2)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Januari (5)
    • ►  2018 (109)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  April (13)
      • ►  Maret (31)
      • ►  Februari (28)
      • ►  Januari (32)
    • ►  2017 (115)
      • ►  Desember (13)
      • ►  November (11)
      • ►  Oktober (14)
      • ►  September (21)
      • ►  Agustus (14)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Juni (5)
      • ►  Mei (6)
      • ►  April (4)
      • ►  Maret (9)
      • ►  Februari (9)
      • ►  Januari (7)
    • ►  2016 (161)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (6)
      • ►  Oktober (12)
      • ►  September (25)
      • ►  Agustus (20)
      • ►  Juli (19)
      • ►  Juni (16)
      • ►  Mei (18)
      • ►  April (10)
      • ►  Maret (10)
      • ►  Februari (13)
      • ►  Januari (6)
    • ►  2015 (309)
      • ►  Desember (10)
      • ►  November (20)
      • ►  Oktober (27)
      • ►  September (24)
      • ►  Agustus (25)
      • ►  Juli (70)
      • ►  Juni (47)
      • ►  Mei (20)
      • ►  April (29)
      • ►  Maret (18)
      • ►  Februari (10)
      • ►  Januari (9)
    • ►  2014 (41)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (9)
      • ►  Oktober (10)
      • ►  September (15)
      • ►  Februari (1)
    • ►  2013 (2)
      • ►  Agustus (2)
    • ►  2012 (16)
      • ►  November (1)
      • ►  Oktober (3)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (3)
      • ►  April (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2011 (11)
      • ►  Desember (5)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (5)

    Total Tayangan Halaman

    Most View

    • Ramadhan!
      Scene: Dengerin adzan mafaza sambil ngulang hafalan yang mau disetor Malam terakhir sebelum Ramadhan Ah betapa rindunya dengan suasana r...
    • Jadi, Izinkan Aku Pergi
      Bukan tanpa alasan, semua sudah kujelaskan hingga detailnya. Ketika aku memutuskan untuk menjauh namun yang ada kita harus selal...
    • Menyatakan Cinta
      Menyatakan cinta barangkali tidak semudah mengatakan "Apa kabar?" atau "Terima kasih" Sebab bersamanya ada sebu...
    • Dear, you
      Teruntuk teman-teman satu lingkaran yang tengah memperjuangkan proposal penelitian, penelitian, atau revisian :) Dear, you.. Berlama...
    • Zaki
      Aku pernah mendengar seseorang berkata, "Jika pun saat ini kita siap menikah, apakah kita siap jika ada hal-hal yang direnggut dari sua...

    categories

    Catatan Cerita Dandelion Edelweis Food Scientist Idealisme KAMMI Keluarga Raudhatul Jannah Rentang Tunggu Rohis

    Followers

    facebook Google + instagram Twitter

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top