Just Note

Sejak aku jatuh cinta pada caramu membaca, sejak itu pula aku berjanji untuk tidak berhenti menulis

    • Home
    Dari begitu banyak kerumitan yang ditawarkan, perasaan juga menyajikan akhir yang sulit dimengerti

    Dulu, segala hal remeh teme apapun pernah menjadi layak untuk kita tertawakan
    Segala masalah sederhana pun menjadi layak untuk kita diskusikan
    Bahkan, sekadar menyapa di beranda maya dulu adalah hal yang wajar


    Namun, sejak perasaan itu mulai memperkerjakan kerumitannya
    Apa yang salah dari sekadar duduk depan-belakang di kelas?
    Apa yang salah dari sekadar bertegur siapa di koridor sekolah atau tak sengaja berjumpa di ruang baca?

    Perasaan itu juga membuat segala hal diantara kita nampak tidak tabu lagi
    Kau pernah begitu rajin menanyakan kabarku
    Kita juga pernah begitu asyik menyusun dunia kita dalam himpunan-himpunan teks
    Mereka menjadi saksi bahwa perasaan itu pernah singgah di hati-hati kita

    Seperti pesanmu, "jaga diri baik-baik"
    Seperti pesanku, "kuat!"



    --- Memori 23 Maret 2011 :)
    Tuhan, jika nanti aku diizinkan bertemu dengannya lagi, apakah kami masih akan saling mengingat?
    Continue Reading
    Dalam hidup ini tak jarang kita terjebak oleh pilihan-pilihan rumit yang kita putuskan sendiri. Kita menjadi kekanakan dan memilih pergi sebagai jalan terbaik. Merasa pura-pura nyaman diatas ketidaknyamanan. Memilih melupakan hingga akhirnya benar-benar lupa. Episode hidup ini tak ubahnya tentang pergi, pura-pura, dan lupa.

    Empat tahun bukan waktu yang sebentar, tidak menyalahkan jika hingga detail terkecilpun kau masih mengingatnya. Jika aku mendesak kau bahkan akan menceritakan bagaimana dulu kalian menghabiskan setiap detik dalam empat tahun itu. Kau pasti akan dengan mudah menceritakannya.

    Dia memilih pergi dan mungkin memilih pura-pura nyaman atas ketidaknyamanan itu, dan entahlah apakah akhirnya kalian memilih saling melupakan hingga akhirnya kalian benar-benar lupa?

    Hanya kalian yang tahu.


    Rentang Tunggu, 25 Februari 2015 | Azifah Najwa

    Continue Reading
    Terkadang aku sering merasa bosan menunggumu, sambil sesekali bertanya, kau benar dengan kepastian itu?

    Cobalah sehari saja kau menjadi aku, merasakan betapa menjemukannya penantian ini. Belum lagi pernyataan-pernyataan konyol yang sering kau lontarkan, yang katamu hanya sebagai lelucon, sungguh itu sama sekali tidak lucu.

    Karena terkadang yang tidak pasti justru kepastian itu sendiri. Adakah kau disitu masih dengan kepastian yang kau janjikan?


    Rentang Tunggu, 23 Februari 2015 | Azifah Najwa
    Continue Reading
    Melengkapi kepingan puzzle takdir. Memang tidak boleh aku mendahului takdir, tapi boleh kan aku berharap. Hingga waktu terbaik hati. Bersamamu, kepingan puzzle itu. Iya kamu, yang entah harus aku sebut apa dalam do'aku.


    Rentang Tunggu, 16 Februari 2015 |Azifah Najwa
    Continue Reading
    Nathan El Nata. Panggil dia Nathan kecuali kau adalah orang yang memandangnya dari sisi lain, dari sisi paling menjengkelkan dari pribadinya. Persetan dengan itu, dia tidak akan peduli. Apalagi membicarakannya karena ideologinya yang sering bertabrakan dengan paham umum.

    Semua tingkah songongnya bukan karena dia terlalu kolot untuk mengikuti aturan yang ada. Atau sikapnya yang keras kepala, wajar memang untuk orang yang pernah tak menemukan kata ayah dalam hidupnya.

    Kehidupan keluarganya tak pernah merasa baik. Keluarga? Dia sendiri sangsi menggunakan kata itu, pasalnya tidak ada unsur keluarga dalam keluarga yang disebutnya. Entahlah, Tuhan dengan segala rahasia rencana-Nya mengejutkannya dengan pilihan ibu untuk menghidupkan asap dapur keluarganya di negeri tetangga. Jadi jangan salahkan dia apabila dalam perjalanannya dia memilih menjadi pribadi yang keras.

    Dan entah apalagi rencana Tuhan tentangnya, hingga Ia mengirimnya di sebuah tempat bernama sekolah menengah atas. Jika kalian ingin tahu betapa menyebalkankannya sekolah itu kau bisa menjadikan Nathan narasumbernya, di saat yang lain menginginkan bagaimana nikmatnya menjadi siswa SMA, Nathan justru sebaliknya. Bukan dia tidak pandai, untuk orang seperti nya is bisa dimasukkan kedalam golongan orang-orang cerdas. Tidak percaya? Selesaikan membaca cerita ini hingga tuntas dan kau akan tahu, pribadi macam apa Nathan sebenernya.

    Baru lima menit ia berada di kelas itu dan aku sudah merasa tidak nyaman dengan semuanya. Untung saja anak laki-laki itu menarik tangannya dan mengajaknya menjadi teman satu mejanya. Dan itu awal mulai perkenalan mereka. Perkenalan? Bahkan mereka belum saling menyebutkan nama dan asal.

    Meskipun status nya sekarang adalah seorang siswa, ia masih belum mengerti apa sebenarnya sekolah itu. Kata orang sekolah itu membuat orang pandai, bagaimana caranya? Apa orang pandai itu mereka yang duduk manis didepan papan tulis? Sepemahamannya, siapa yang bisa bertahan dia yang menang.

    Ardi -yang mengajak nya duduk satu meja- memberi warna baru dalam perjalanannya. Ardi jauh lebih beruntung darinya -setidaknya itu yang ia rasakan-

    "Di, kenapa kamu mau sih jadi budak papan tulis?"

    Ardi diam, ia memikirkan apa makna pertanyaan teman entah bagaimana mereka kenal, padahal mereka tak pernah merasa berkenalan

    "Mmmmm, entahlah, lalu mengapa kau mau juga menjadi budak papan tulis?"

    "Karena kamu yang menyuruhku."

    "Hah, aku?"

    Nathan mengangguk. "Kau lupa siapa yang menarikku duduk di sebelahmu saat aku akan meninggalkan ruang kelas dulu?"

    Mereka saling bertatapan lalu tertawa terbahak-bahak.

    "Than, selamanya kau hanya akan merasa menjadi budak papan tulis jika memang itu yang ada di pikirmu"

    "Memang faktanya kan, Di? Kita setiap hari harus duduk di depan papan tulis, tidak boleh mengantuk sedikit pun"

    "Hahahaha, selain itu apa yang kamu dapatkan?"

    "Kalau hari ini si aku tahu kalau pelangi tidak hanya terbentuk oleh air dan cahaya, tapi juga butuh sudut bias yang presisi."

    "Orang-orang seperti kita hanya bisa bermimpi, Than, sama seperti pelangi itu, Allah telah menyediakan air dan cahanyanya, tinggal bagaimana kita mengusahakan sudut presisi itu."

    Dan sejak hari itu mereka adalah dua sahabat yang tak pernah berkenalan tapi saling mengenal satu sama lain.
    Ardi aktif dengan berbagai kegiatan keagamaan dan kepramukaannya. Dan siapa menyangka jika Nathan sekarang adalah ketua OSIS di tempat para budak papan tulis.

    Semua berjalan lancar bahkan seolah berjalan terlalu baik. Nathan dan Ardi lulus dengan hasil yang sangat memuaskan. Dan lagi-lagi, Nathan membuat semua orang terperangah, ia berhasil menjadi yang terbaik di antara budak-budak papan tulis itu.

    Ia masih Nathan yang sama, kepala yang sama, dan keadaan yang sama. Sebelum ia mengenal tarbiyah.

    Jika memang Islam agama yang membenci segala bentuk kekerasan tapi mengapa banyak kekerasan terjadi atas nama Islam? Entahlah, Islam radikal yang mengartikan kata jihad dengan kepala nya sendiri. Kecintaan berlebih pada kaum sendiri dan melupakan nilai-nilai multidimensi yang sebenernya bukan penghalang persatuan, namun lebih kepada penyempurnaan keberagaman.

    Dan tarbiyah, mengajarkannya banyak hal. Ia masih Nathan yang sama tapi dengan isi otak yang berbeda.

    Allah hanya menyediakan air dan cahanyanya, untuk membentuk pelangi, kita sendiri yang harus mengusahakan sudut biasanya.
    Continue Reading
    Kau tau apa yang istimewa dari sebuah perjalanan?
    Dalam perjalanan berlaku hukum statistik, peluang bertemu dan berpisah, jika saat ini kau bertemu dengan entah siapa mereka, peluang bertemu sekaligus berpisah terjadi dalam satu waktu

    Saat ini aku berada diantara orang-orang yang tak sadarkan diri (tidur.red) diam-diam aku mengamati mereka

    Apa semua orang dalam gerbong ini berhenti di tempat yang sama? Seorang teman yang baru pertama kali naik kereta menanyakan hal itu.
    Aku menggeleng, tidak, diantara mereka ada yang mengakhiri perjalanannya sebelum kita, ada pula yang masih harus melanjutkan perjalanannya.

    Aku tiba-tiba mengingat sesuatu, suatu saat nanti kau yang akan menjadi teman hidupku, untuk beberapa waktu kita akan melakukan perjalanan bersama, dan banyak hal akan kita lakukan selama perjalanan itu, perjalanan ini bisa diibaratkan sebagai representatif dari perjalanan kita nanti.

    Aku akan memiliki segudang pertanyaan yang kadang aku sendiri bingung menyelesaikannya, dan kamu yang harus bisa menjawabnya, kenapa? Karena aku memilmu dari ilmumu.

    Lalu aku punya apa?
    Aku punya apa ya, hmmmm aku punya telinga untuk lebih bijak mendengarkanmu, aku punya tangan, mata.

    Seperti yang aku sampaikan tadi, tempat pemberhentian kita berbeda, mungkin aku yang harus mengakhiri perjalanan ini dulu dan meninggalkanmu mungkin pula sebaliknya.

    Lalu?
    Lanjutkan hidupmu, maaf jika selama perjalanan ini tanganku tak cukup kuat untuk merengkuhmu, lisanku tak cukup fasih menyemangatimu

    Kau hanya meninggalakan kata maaf?

    Kau boleh mencari tangan lain yang lebih kuat untuk merengkuhmu, lisan yang lebih fasih untuk menyemangatimu

    Bagaimana jika sebaliknya?
    Kau akan mencari yang lebih bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanmu?

    Tidak.
    Aku ingin menjadi bidadarimu tidak hanya di dunia, tapi hingga di surga-Nya

    Rentang Tunggu, 10 Februari 2015 | Azifah Najwa
    Continue Reading
    Dalam hidup kita terkadang memiliki orang-orang yang begitu kita dengarkan, kita patuhi, atau kita anggap dewasa (tua). Tentu orang itu adalah orang tua kita, kemudian kakak kita, dan suami-istri kita. Karena saya anak pertama, jadi saya punya banyak sekali kakak.

    Allah kadang mendatangkan orang yang kita rindukan dengan berbagai cara, seperti Allah mendatangkan kakak saya tadi. Dalam perjalanan ke kota rantauan, tidak biasanya kakak saya yang satu itu mengirim sebuah pesan lewat WhatsApp, saya kutipkan isinya..
    "Hahaa, semoga pesan singkat dari kakakmu ini adalah cara Allah untuk mengobati rindumu padaku nak :p
    Ehem, gimana kabarmu dek? Sehat kan? Melihatmu opname itu menjadi luka tersendiri untukku, percayalah semua orang akan merindukkan leluconmu yang meskipun tak lucu selalu membuat kita tertawa, atau ide-idemu yang hanya membuat kita terbengong-bengong dibuatnya dan semoga di tempat rantauanmu yang baru itu kau menemukan orang yang mau mendengar ide-idemu itu"

    "Huaaaaa, pedeeee, tapi Allah memang selalu punya cara untuk menyampaikan rindu-rindu itu
    Sehaaat Kak, selalu sehat malah...."

    "Bagaimana rencana studi S2, S3 mu?"
    "Terkadang iri, karena kakakmu ini baru mempunyai mimpi di usia yang sudah tak lagi muda ini"

    "Bilang aja tuaaaaaa, pake majas segala :p
    Majas tak akan menyembunyikan kenyataan dibaliknya kaaak, weeek :p
    Hehehe, berharap sekali suamiku kelak tidak akan mempermasalahkan studiku :D"

    "Heee, ga boleh ngomongin suami, sensitif -__-"

    "Ups"
    "Kak, tapi...."

    "Eh dek, kamu kapan pertama kali ketemu sama doktor?"

    "Mmmm, waktu kuliah Kak, guru2 SMA rata2 baru S2"

    "Sama, kakak juga.."

    "Teruuus??"

    "Jika kamu sudah menjadi seorang doktor, orang yang pertama kali anakmu temui adalah seorang doktor, yang mengajarinya membaca, berjalan adalah seorang doktor...

    ...dia didik doktor sejak dia lahir"

    Speechless

    Mendidik bukan hanya soal bagaimana menghadapi anak. Lebih dari itu, bekal awal mendidik adalah keluarga yang bahagia yang berdiri di atas nilai-nilai agama yang kokoh

    Aku tidak mencari kau yang rupawan, aku juga tidak mempermasalahkan status sosial atau sebagainya, agama, hanya itu.


    Rentang Tunggu, 9 Februari 2015 | Azifah Najwa

    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About me


    Azifah Najwa. Penulis. Peneliti. N’s. Food scientist. an ISTP.

    Blog Archive

    • ▼  2021 (10)
      • ▼  November (1)
        • Jogja
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (5)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2020 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2019 (11)
      • ►  November (2)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Januari (5)
    • ►  2018 (109)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  April (13)
      • ►  Maret (31)
      • ►  Februari (28)
      • ►  Januari (32)
    • ►  2017 (115)
      • ►  Desember (13)
      • ►  November (11)
      • ►  Oktober (14)
      • ►  September (21)
      • ►  Agustus (14)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Juni (5)
      • ►  Mei (6)
      • ►  April (4)
      • ►  Maret (9)
      • ►  Februari (9)
      • ►  Januari (7)
    • ►  2016 (161)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (6)
      • ►  Oktober (12)
      • ►  September (25)
      • ►  Agustus (20)
      • ►  Juli (19)
      • ►  Juni (16)
      • ►  Mei (18)
      • ►  April (10)
      • ►  Maret (10)
      • ►  Februari (13)
      • ►  Januari (6)
    • ►  2015 (309)
      • ►  Desember (10)
      • ►  November (20)
      • ►  Oktober (27)
      • ►  September (24)
      • ►  Agustus (25)
      • ►  Juli (70)
      • ►  Juni (47)
      • ►  Mei (20)
      • ►  April (29)
      • ►  Maret (18)
      • ►  Februari (10)
      • ►  Januari (9)
    • ►  2014 (41)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (9)
      • ►  Oktober (10)
      • ►  September (15)
      • ►  Februari (1)
    • ►  2013 (2)
      • ►  Agustus (2)
    • ►  2012 (16)
      • ►  November (1)
      • ►  Oktober (3)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (3)
      • ►  April (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2011 (11)
      • ►  Desember (5)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (5)

    Total Tayangan Halaman

    Most View

    • Ramadhan!
      Scene: Dengerin adzan mafaza sambil ngulang hafalan yang mau disetor Malam terakhir sebelum Ramadhan Ah betapa rindunya dengan suasana r...
    • Jadi, Izinkan Aku Pergi
      Bukan tanpa alasan, semua sudah kujelaskan hingga detailnya. Ketika aku memutuskan untuk menjauh namun yang ada kita harus selal...
    • Menyatakan Cinta
      Menyatakan cinta barangkali tidak semudah mengatakan "Apa kabar?" atau "Terima kasih" Sebab bersamanya ada sebu...
    • Dear, you
      Teruntuk teman-teman satu lingkaran yang tengah memperjuangkan proposal penelitian, penelitian, atau revisian :) Dear, you.. Berlama...
    • Zaki
      Aku pernah mendengar seseorang berkata, "Jika pun saat ini kita siap menikah, apakah kita siap jika ada hal-hal yang direnggut dari sua...

    categories

    Catatan Cerita Dandelion Edelweis Food Scientist Idealisme KAMMI Keluarga Raudhatul Jannah Rentang Tunggu Rohis

    Followers

    facebook Google + instagram Twitter

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top